Berita Pohuwato
Penyebab Terminal Marisa Pohuwato Sepi Penumpang
Terminal Marisa yang terletak di Marisa Utara, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo makin sepi penumpang.
Penulis: Rahman Halid | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNGORONTALO.COM - Terminal Marisa yang terletak di Marisa Utara, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo makin sepi penumpang.
Amantan TribunGorontalo.com, walau setiap hari banyaknya mobil mikromini yang mangkal di terminal itu untuk menunggu penumpang yang datang.
Hal itu membuat para sopir mikromini tidak lagi mendapatkan pemasukan seperti biasanya.
Ramin Tiladuhe (43) sopir mikromini menyampaikan penyebab sepinya penumpang karena Terminal marisa hanya dijadikan tempat persinggahan.
"Iya, Terminal ini hanya dijadikan tempat persinggahan dari mobil mikromini yang berasal dari Randangan, Lemito, Popayato, untuk mengantakan penumpang ke Kota Gorontalo," tandasnya pada Sabtu (25/11/2023)
Menurutnya, hal itu tidak membuat para sopi mikromini kaget karena kondisi itu telah terjadi sejak lama.
"Kami tidak kaget, karena kejadiannya telah lama seperti ini, hanya saja kerugiannya kepada kami karena sopi diwilayah Marisa tidak mendapatkan penumpang hampir setiap hari," tandasnya.
Bahkan lanjut Ramin, kalaupun dapat penumpang hanya dari wilayah Marisa saja, itupun sangat sedikit.
"Kita dapat penumpang, iya! hanya saja paling banyak berasal dari Marisa itupun jarang, karena paling banyak mereka sudah banyak menggunakan mobil rental untuk pergi keluar dari Pohuwato," jelasnya.
Ketua Asosiasi Persatuan Sopir Pohuwato (APSP) Saipul Monoarfa (49) membenarkan kondisi yang dijelaskan oleh beberapa sopir yang berada di wilayah Marisa.
Menurutnya harus ada tindakan khusus dari pihak terkait untuk mengatasi hal ini agar semua sopir bisa dapat pemasukan.
"Saya cuma bersaran agar lintas Pohuwato difokuskan pada satu titik dan mobil mikromini yang berasal dari Barat Pohuwato hanya sampai di Marisa dan seterusnya bergantian dengan mikromini wilayah Marisa untuk menuju Kota Gorontalo,"tutupnya.
Penyebab Tersisa 44 Bus Beroperasi di Terminal Dungingi Gorontalo
Sebanyak 44 bus beroperasi di Terminal Tipe A Dungingi Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo.
Data tersebut berdasarkan Perusahaan Otobus (PO) yang beroperasi di Terminal Dungingi
44 unit otobus ini dikelola oleh 14 Perusahaan dengan jumlah unit di perusahaan, kemudian trayek, dan jam keberangkatan yang berbeda.
Irfan Junus Hida, Koordinator Satuan Pelayanan (Korsatpel) Terminal Tipe A Dungingi mengatakan, dahulu ada 70-an otobus yang aktif beroperasi, saat ini tinggal ada 44, seperti yang tercatat dalam daftar yang ada.
“Sebenarnya 75 kendaraan, serta dengan adanya Pandemi Covid-19, jumlahnya mengurang, sekarang tinggal 40-an,” ucap Irfan kepada TribunGorontalo.com, Rabu (15/11/2023).
Jumlah unit otobus mengurang, kata Irfan, disebabkan oleh beberapa hal seperti Pandemi Covid-19, masyarakat yang lebih banyak memilih kendaraan pribadi untuk perjalanan jalur darat, serta perizinan otobus itu sendiri.
“Selain Pandemi Covid-19, kondisi terminal ini sepi diperkirakan karena animo masyarakat untuk keluar daerah itu rendah, terlebih sekarang sedang musim kemarau, segala aspek terdampak. Kalau ada yang keluar daerah, banyak yang memilih menggunakan kendaraan pribadi,” kata Irfan.
Kendala signifikan juga terjadi dalam hal perizinan. Saat ini, kata Irfan, terkait perizinan otobus sudah melalui aplikasi Spionam (Sistem Perizinan Online Angkutan Darat dan Multimoda).
“Sekarang saya terkendala dalam perizinan. Izin trayek mereka kan belum keluar, pengurusannya harus di Pusat, melalui aplikasi Spionam,” imbuhnya.
Rata-rata kendaraan yang ada di Terminal Dungingi, sambung Irfan, adalah milik pribadi. Sehingga, kendaraan tersebut telah berkoordinasi membentuk kelompok di bawah naungan Koperasi.
“Mereka gabung ke Koperasi. Setiap satu PO itu syaratnya 5 kendaraan,” rincinya.
Namun, setelah pihak Terminal Dungingi mengajukan kembali ke Pusat, terkait perizinan otobus, pihaknya masih beroleh penolakan. Sebab, belum memenuhi persyaratan batas tahun pembelian kendaraan.
“Kendaraan di sini banyak yang sudah lewat dari syarat batas tahun kendaraan, yakni 2010 ke atas. Otobus di sini rata-rata di bawah 2010,” ungkap Irfan.
Irfan mengaku, inilah dilema yang menjadi tantangan bagi pihak Terminal Tipe A Dungingi. Satu sisi kata Irfan, mereka tentu perlu mematuhi peraturan sebagaimana mestinya. Namun di sisi lain, mereka harus terus beroperasi demi masyarakat yang menggunakan jasa otobus.
Meski begitu, Irfan menerangkan bahwa pihak mereka telah menjalankan ramcek, pemeriksaan kelayakan operasional otobus.
“Tiap pemberangkatan, kami lakukan ram cek kendaraan. Diperiksa semua. Mesinnya, remnya, apakah layak berangkat atau tidak,” terangnya.
Dengan kondisi yang ada, Terminal Tipe A Dungingi saat ini terus beroperasi. Upaya-upaya terus dikerahkan pihak Korsatpel dan jajarannya untuk menghidupkan terminal baik dari transportasi juga hal lain seperti, perekonomian di dalamnya.
“Saya juga sudah dan terus berupaya menarik masyarakat untuk mengenal dan datang menggunakan jasa transportasi di Terminal Dungingi ini dengan membuat kegiatan demi kegiatan yang menarik,” kata Irfan.
“Sehingga perekonomian di terminal ini bisa berjalan, karena fokus kami di sini bukan hanya pada kendaraan saja, tapi bagaimana UMKM di sini bisa ikut terberdayakan, ikut berkembang,” tambah Irfan.
Salah satu upaya yang telah ia lakukan adalah dengan membuat perencanaan Sport Centre di Terminal Tipe A Dungingi.
Irfan sedang menunggu hasil dari pengajuan konsep perencanaan tersebut dari perusahaan yang ia targetkan di luar pulau seperti Pulau Jawa.
“Konsepnya, rencana tawaran ini dipihak-ketigakan, jadi perusahaan yang akan mengelola ini, selama 30 tahun. Sudah ada yang datang, perusahaan dari Surabaya. Namun masih belum ada kepastian dari pihak mereka untuk maju atau tidak, sudah setahun saya tunggu, tapi belum ada,” tandas Irfan. (Rahman/Rafika)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Terminal-Marisa-tttt.jpg)