SItus Budaya
Melihat Rumah Panggung di Gorontalo, Berusia Ratusan Tahun, Wasiat Dilarang Dipugar
Fadlun Syahrusa (60) pemilik rumah mengatakan rumah panggung tersebut merupakan warisan dari kakeknya.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Rumah-Panggung-di-Kelurahan-Tomulabutao-Kecamatan-Dungingi-Kota-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO. Gorontalo-- Melihat rumah panggung yang dikabarkan sudah berusia ratusan tahun di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo
Fadlun Syahrusa (60) pemilik rumah mengatakan rumah panggung tersebut merupakan warisan dari kakeknya.
Sebelum wafat pada 1980-an, ayah Fadlun menitip wasiat agar rumah tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya.
Menurutnya, hal itu merupakan pesan dari kakeknya. Katanya, rumah panggung itu dipugar, maka akan ada musibah yang nanti menimpa keluarga dan turunannya.
"Begitulah pesan orang tua kita dulu," ujarnya kepada TribunGorontalo.com, Senin (20/11/2023).
Bangunan tersebut tampak eksis di tengah gempuran bangunan moderen di Kelurahan Tomulabuta'o, Kecamatan Dungingi, kota Gorontalo.
Berdasarkan catatan sejarah, Rumah panggung peninggalan masa lalu itu menurut masyarakat lokal adalah Rumah Budel.
Rumah Budel sendiri adalah istilah penamaan masyarakat dulu terhadap rumah warisan yang kepemilikannya, diwariskan kepada semua turunannya dan tidak spesifik kepada salah satu personal.
Dari sembilan bersaudara, dirinya yang paling bungsu dan telah menampati rumah tersebut selama kurang lebih 10 tahun.
"Saya tinggal di sini, tapi semua saudara-saudara saya juga punya hak yang sama," terangnya.
Beruntung, rumah yang berlokasi tepat di Jalan Beringin Kota Gorontalo ini, masih ada dalam satu kawasan warisan sang kakek.
"Sebelah kiri rumah kakak, kanan juga begitu, bahkan sampai belakang rumah panggung itu juga masih rumah saudara saya," katanya
Fadlun tak tau pasti kapan rumah itu dibangun, namun dirinya berspekulasi rumah tersebut telah ada sejak jaman penjajahan Belanda di Gorontalo.
"Bayangkan saja, umur saya saat ini sudah 60 tahun. Ayah saya meninggal di usia 80-an tahun. Sementara yang bangun rumah ini kakek saya," ulasnya.
Fadlun memiliki tiga orang anak, sembilan cucu dan dua orang cece. Artinya rumah panggung peninggalan sang kakek itu telah menjajali enam generasi.