Pemkot Gorontalo
Alasan Pemkot Gorontalo Tunda Festival Kota Tua
Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo menunda pelaksanaan Festival Kota Tua.
Penulis: Husnul Puhi | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Festival-Kota-Tua-8899000.jpg)
Festival yang berlangsung selama empat hari ini memadukan kunjungan wisata, beragam lomba, pameran budaya, hingga penayangan ribuan lampion yang mempesona di langit Kota Gorontalo.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Gorontalo, Zamroni Agus yang juga sebagai Sekretaris panitia dari festival ini menjelaskan, bahwa Festival Kota Tua akan diselenggarakan mulai dari 8 - 11 November 2023 mendatang.
Untuk festivalnya, kata Zamroni, begitu banyak kegiatan yang akan digelar. Mulai dari kunjungan wisata, lomba, pameran barang-barang antik hingga penerbangan ribuan lampion.
Dalam festival ini, bagi para pengunjung yang ingin melihat bangunan-bangunan tua bersejarah, akan difasilitasi dengan Bendi hias.
Bendi merupakan kenderaan lokal yang sudah jarang ditemukan di Kota Gorontalo. Karena itu, bendi dijadikan kenderaan utama dalam Festival Kota Tua ini.
"Kita sudah menyiapkan bendi hias ini dan rencananya ada sekitar 18 bangunan bersejarah yang sudah kami pilih," jelas Zamroni saat ditemui TribunGorontalo.com di kantornya, Rabu (27/9/2023).
Nantinya akan dibagi tiga jalur dan masing-masing bendi akan menyinggahi 6 bangunan bersejarah yang telah dipilih oleh pihak panitia.
Tak hanya itu, bahkan pengunjung yang ingin mengunjungi bangunan tua itu akan didampingi oleh Tour Guide yang memang sudah dilatih oleh Pemkot Gorontalo dalam menerangkan bangunan bersejarah tersebut.
Adapun untuk perlombaan di Festival Kota Tua ini, pihak panitia akan melombakan foto dan video yang bertemakan kota tua.
"Ada juga kita lombakan foto jadul, lomba ini memuat suasana Kota Gorontalo pada zaman dahulu. Ini untuk membangun memori suasana kota pada dahulu kala," ujarnya.
Selain itu, untuk penerbangan ribuan lampion, pihak panitia berkolaborasi dengan warga etnis Tionghoa yang merupakan penduduk asli di kawasan kota tua Gorontalo.
Menurut Zamroni, sebagaimana di kota-kota besar, etnis Tionghoa dan Arab merupakan warga yang pastinya mendiami kota tua.
Sebab, kawasan kota tua merupakan wilayah yang dijadikan pusat perdagangan pada zaman dahulu.
"Kita melibatkan mereka, nanti akan ada pemasangan sekitar seribu lampion di atas badan jalan. Dari depan klenteng hingga ke gereja Tabernakel Bele lo Heya," imbuhnya.
Dalam memeriahkan festival ini, pihak panitia juga akan menggelar karnaval barongsai, yang dimainkan oleh tim barongsai dari tanah Jawa dan sering mengikuti lomba barongsai di Indonesia.