Polisi Gorontalo Intimidasi Wartawan
Oknum Perwira Polda Gorontalo Intimidasi Wartawan Saat Liputan, Organisasi Jurnalis Bakal Gelar Aksi
Aksi tersebut setelah upaya intimidasi yang dilakukan oknum perwira Polda Gorontalo terhadap sejumlah wartawan yang melakukan liputan pada Selasa 03 O
Penulis: Husnul Puhi | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2023-09-29_Polda-Gorontalo.jpg)
AJI Gorontalo Kecam Oknum Polisi Halangi Jurnalis Meliput di SPKT Polda Gorontalo
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengecam tindakan penghalang-halangan kerja jurnalis yang dilakukan oknum polisi di SPKT Polda Gorontalo pada Selasa 03 Oktober 2023.
AJI mendesak Kapolda Gorontalo untuk mengambil tindakan tegas terhadap oknum polisi tersebut.
Kapolda Gorontalo harus memberikan sanksi kepada oknum polisi tersebut agar tindakan serupa tidak terulang kembali.
Berikut adalah desakan AJI Gorontalo kepada Kapolda Gorontalo, Irjen Pol Angesta Romano Yoyol:
1. Memeriksa oknum polisi tersebut untuk mengetahui motif dari tindakannya.
2. Memberikan sanksi kepada oknum polisi tersebut sesuai dengan peraturan yang berlaku.
3. Melaksanakan sosialisasi tentang kebebasan pers kepada seluruh anggota Polri.
Dengan adanya tindakan tegas dari Kapolda Gorontalo, diharapkan dapat menciptakan rasa percaya pers terhadap Polda Gorontalo, terutama dalam menjamin kerja-kerja jurnalistik.
Sebelumnya, Oknum polisi Gorontalo diduga menghalangi tugas wartawan saat meliput di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Gorontalo.
Kejadian pada Selasa (03/10/2023) sekira pukul 17.20 Wita itu berawal ketika sejumlah jurnalis hendak mengambil gambar kuasa hukum yang ingin melapor ke SPKT Polda Gorontalo.
Namun langkah jurnalis Tribun Gorontalo, Antara News Gorontalo, dan Dulohupa 'dicegat' oknum polisi.
Polisi itu melarang pengambilan gambar atau merekam di area SPKT Polda Gorontalo.
Oknum polisi itu langsung dikenali wartawan. Ia merupakan Kepala SPKT Polda Gorontalo, Kompol Piet Tamalawer.
Karena dilarang, wartawan memutuskan tidak lagi merekam/mengambil gambar. Mereka memilih menunggu di luar gedung.