Virus ASF di Gorontalo
Kronologi Virus ASF Terdeteksi di TNBNW Gorontalo hingga Sebabkan 9 Babi Hutan Mati
Karena itu, dihimbau agar seluruh stakeholder terkait dan masyarakat Gorontalo untuk menjalankan langkah-langkah pencegahan dan penanganan penyebaran
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1292023_babi-mati-di-TNBNW_Gorontalo_.jpg)
Jika menemukan kematian babi yang tidak wajar, masyarakat diminta melapor ke kepala desa, puskeswan, kepala resort TNBNW, babinsa, dan bhabinkamtibmas.
“Dan melakukan tindakan penguburan dan penyucihamaan di lokasi kejadian untuk mencegah penyebaran virus ASF yang lebih luas lagi,” tulis dalam penutup rilis tersebut.
Virus ASF
Virus ASF diperkirakan berasal dari Afrika Barat. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1909 di Kenya.
Sejak saat itu, virus ASF telah menyebar ke seluruh Afrika dan ke beberapa negara di Eropa, Asia, dan Amerika.
Penularan virus ASF dapat terjadi melalui kontak langsung antara babi yang terinfeksi dengan babi yang sehat, atau melalui makanan dan air yang terkontaminasi.
Virus ASF juga dapat bertahan hidup dalam lingkungan selama beberapa bulan.
Virus ASF tidak berbahaya bagi manusia, tetapi dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi industri peternakan babi.(*)