Virus ASF di Gorontalo
Kronologi Virus ASF Terdeteksi di TNBNW Gorontalo hingga Sebabkan 9 Babi Hutan Mati
Karena itu, dihimbau agar seluruh stakeholder terkait dan masyarakat Gorontalo untuk menjalankan langkah-langkah pencegahan dan penanganan penyebaran
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1292023_babi-mati-di-TNBNW_Gorontalo_.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Virus African Swine Fever (ASF) terdeteksi di 2 bangkai babi hutan (sus celebensis) di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW).
Karena itu, dihimbau agar seluruh stakeholder terkait dan masyarakat Gorontalo untuk menjalankan langkah-langkah pencegahan dan penanganan penyebaran virus ASF.
Dalam siaran pers yang diterima TribunGorontalo.com, Rabu (13/9/2023) dari TNBNW, sebelum virus ASF teridentifikasi, sudah beredar kabar di masyarakat dan pemerintah daerah terkait kematian satwa liar di luar dan di dalam kawasan TNBNW.
Menerima informasi tersebut, pengecekan pun dilakukan oleh sejumlah otoritas resmi setempat.
Dalam rilis itu disebutkan bahwa ikut dalam pengecekan di antaranya petugas TNBNW, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bone Bolango, dan otoritas Veteriner Provinsi Gorontalo.
Pengecekan itu menemukan adanya kematian satwa liar babi hutan (sus celebensis) di sekitar dan di dalam kawasan TNBNW.
“Total sejumlah 9 ekor pada 9 titik, yaitu 6 titik berada di luar kawasan TNBNW/kebun masyarakat (Desa Bangio dan Dataran Hijau), dan 3 titik berada di dalam kawasan TNBNW (Desa Bangio, Dataran Hijau dan Tulabolo),” tulis dalam keterangan TNBNW.
Atas penemuan itu, maka diambil sampel dari 2 ekor bangkai babi hutan (sus celebensis) untuk dikirim dan diuji di Balai Besar Veteriner Maros untuk mengetahui penyebab penyakit.
Dalam siaran pers TNBNW dijelaskan, bahwa penemuan bangkai babi itu dilanjutkan dengan Rapat Koordinasi Penanganan & Pencegahan ASF Gorontalo pada 5 September 2023.
Pertemuan dilangsungkan di Hotel Aston Gorontalo dan dipimpin langsung oleh Staf Ahli Menteri LHK Bidang Pangan sekaligus Plt. Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Spesies dan Genetik (KKHSG) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).
Dalam pertemuan itu pihaknya para pihak menaruh perhatian pada matinya 9 babi yang merupakan satwa endemik Sulawesi.
Sebab kematian 9 babi itu menyebabkan kerugian ekologi terhadap kepunahan spesies endemik tersebut.
Pada hari Sabtu tanggal 9 September 2023 telah keluar hasil pengujian laboratorium Balai Besar Veteriner Maros terhadap sampel bangkai babi hutan (sus celebensis).
Hasil pengujian menunjukan hasil positif virus African Swine Fever (ASF).
“Kami juga menghimbau kepada seluruh masyarakat agar waspada apabila terdapat atau menjumpai kematian babi ternak maupun babi hutan,” tulis otoritas TNBNW dalam siaran persnya.