Kamis, 5 Maret 2026

Kasus Bunuh Diri

Masyarakat Gorontalo Diminta Setop Unggah Kasus Bunuh Diri, Psikolog: Efek Dominonya Ngeri

Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Gorontalo, Ariyanto Senewe meminta masyarakat Gorontalo setop mengunggah foto dan video

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Husnul Puhi | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Masyarakat Gorontalo Diminta Setop Unggah Kasus Bunuh Diri, Psikolog: Efek Dominonya Ngeri
Freepik
Masyarakat Gorontalo perlu memahami bahwa menunggah foto dan video bunuh diri bisa berdampak besar meningkatnya kasus tersebut. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Gorontalo, Ariyanto Senewe meminta masyarakat Gorontalo setop mengunggah foto dan video kasus bunuh diri di media sosial.

Menurutnya, perilaku itu berdampak buruk dan berpotensi ditiru orang lain.

Ariyanto menilai masyarakat butuh edukasi guna diberikan pemahaman efek negatif dari eksplorasi kasus bunuh diri.

Di Gorontalo saat ini masih masif dalam mengunggah gambar dan parahnya lagi menyiarkan secara langsung peritiwa bunuh diri.

Pihak pemerintah, kepolisian, hingga Psikolog Gorontalo telah mengimbau masyarakat agar lebih cerdas dalam bermedia sosial.

"Saya rasa masyarakat itu kurang pemahaman saja akan bahayanya memosting gambar bunuh diri itu," katanya kepada TribunGorontalo.com melalui pesan WhatsApp, Senin (31/7/2023).

Kata Ariyanto, HIMPSI Gorontalo mulai mengampanyekan ke masyarakat luas supaya tidak membagikan video atau foto kasus bunuh diri.

Selain berdampak pada masyarakat luas, itu juga memengaruhi psikologis keluarga ataupun kerabat korban.

"Mereka akan mengalami kejadian traumatis saat mereka sering menemukan foto atau video orang yang mereka cintai muncul dengan seringnya di media sosial," ujar pria yang sering disapa Anto itu.

Pelaku bunuh diri ini bisa menjadi role model atau ditiru oleh pihak lain.

"Efek dominonya ngeri," jelasnya.

Kasus psikologi membutuhkan penelitian psikologi, khususnya di wilayah Gorontalo. Karena penyebab bunuh diri itu begitu kompleks.

"Untuk bunuh diri akibat peniruan bisa disebut juga dengan copycat suicide," imbuhnya.

Ariyanto menjelaskan, bahwa pemerintah dan psikolog bisa bekerjasama soal edukasi kepada masyarakat.

"Untuk jangka panjangnya bisa dibuatkan regulasi atau aturan khusus mengenai hal ini. Sebab, ini dimulai dari medsos dan perlu diakhiri juga lewat medsos," tandasnya.

Baca juga: PWI Gorontalo Kampanye Stop Bunuh Diri, Ini 8 Poin Utamanya

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved