Tarian Binthe Biluhuta Dijadikan Inspirasi bagi Koreografer Gorontalo

Tarian Binthe Biluhuta menyita perhatian pada kegiatan penguatan kapasitas sumber daya manusia fotografi sport tourism

Editor: Fadri Kidjab
Ist
Tarian Binthe Biluhuta menuai pujian Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo 

TRIBUNGORONTALO.COM - Tarian Binthe Biluhuta menyita perhatian pada kegiatan penguatan kapasitas sumber daya manusia fotografi sport tourism, di Citimall Hotel, Kota Gorontalo, Jumat (21/7/2023).

Menurut Asisten Pelatih tari, Romin Pou, Binte biluhuta dijadikan sebagai inspirasi bagi koreografer.

Tarian khas Gorontalo disebut menjadi karya tari yang menghibur dan memukau dalam setiap kegiatan.

"Mereka adalah anak muda Gorontalo yang menyemarakkan pembukaan kegiatan ini," kata Romin Pou asisten pelatih tari.

"Di mana saja kita berkunjung di Gorontalo akan ada binte biluhuta," imbuhnya.

Tarian Binte Biluhuta dilatih langsung oleh Wawan Koni. Pada kegiatan kali ini empat penari, Nurfadilah Nahe, Sisi Musanif, Akbar Gusasi, Reza Pipi’i berhasil memukau hadirin.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Aryanto Husain mengaku terkesan pada gerakan keempat penari yang dinilai begitu energik.

"Gerakan tari ini seperti olahraga, energinya luar biasa," ucap Aryanto Husain.

Apa itu Binthe Biluhuta?

Binthe Biluhuta dieja Binde Biluhuta, lagu daerah asal Gorontalo, tetiba kembali viral setelah dilantunkan di Istana Negara pada Peringatan HUT 77 Republik Indonesia, Rabu (17/8/2022).

Lagu ini ternyata diciptakan Rusdin "Rusu" Palada (1947-2011), seniman khas Gorontalo ternama asal Suwawa, Bone Bolango, sekitar 15 km timur Kota Gorontalo.

Rusu melalui anaknya, Fredy Palada, sendiri oleh kelompok musisi Gorontalo, pada Desember 2021, di Telaga Biru, diberi penghargaan oleh Rise sebagai musisi dan seniman legendaris Gorontalo.

Adalah penyanyi asal Batak, Pematang Siantar, Sumatera Utara, Eddy Silitonga (1949-2016) yang kemudian mempopulerkannya, tahun 1986,

Ini setelah lagu Binte Biluhuta ini masuk dalam buku resmi panduan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dari BP7 Pusat di Jakarta.

Bahkan Eddy yang lahir pada 17 Januari 1949 sampai dua kali melantunkan kalimat "timi idu bele dila tamotolawa" ( ‘tidak ada yang mau ketinggalan’.)

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved