Minggu, 8 Maret 2026

Marten Taha

FULL Wawancara Eksklusif Marten Taha : Perjalanan Politik hingga Pencalonan Gubernur Gorontalo

awancara eksklusif dengan Wali Kota Gorontalo, Dr H Marten A Taha (MT) dalam acara Podcast Spesial Rakernas Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Aldi Ponge | Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto FULL Wawancara Eksklusif Marten Taha : Perjalanan Politik hingga Pencalonan Gubernur Gorontalo
TRIBUNGORONTALO
Ketua DPD II Golkar Gorontalo Dr H Marten A Taha 

DA : Pak Marten lima periode anggota DPRD, 5x5 berarti 25 tahun sejauh usia 28 tahun beliau sudah DPRD, itu tahun 87 sudah anggota DPRD di Sulawesi Utara sebelum dimekarkan (provinsi) Gorontalo kemudian belakangan Gorontalo dimekarkan dan beliau (DPRD) 3 periode di sana dan sempat menjadi ketua DPRD Gorontalo sampai kemudian mencalonkan diri, mengikuti kontestasi pemilihan wali kota Gorontalo 2014 sampai sekarang ini tahun ke-9.

Pak Wali, apa rahasianya awet di dunia politik? Banyak juga yang terjun di politik tapi ada juga yang kapok.

MT : Kenapa dunia politik itu banyak orang menghindar karena katanya dunia politik itu dunia keras, dunia kotor, dunia pertarungan. Pokoknya banyak hal yang dilekatkan di dalam politik itu, stigmanya negatif tetapi sebenarnya politik ini kan bukan hanya yang kita liat politik praktis tapi politik dalam arti konsep itu bahwa bagaimana mengelola negara kan seperti itu. Politik mengelola negara, politik pemerintahan.

Suatu sistem dibangun didalam pemerintahan, dalam satu negara daera,  wilayah, apapun namanya di muka bumi ini itu melalui suatu proses politik, tidak ada satu keputusan penting negara tanpa proses politik, ekonomi bisa berjalan dengan baik, ekonomi bisa jalan, ekonomi bisa maju karena ada komitmen dan keputusan politik yang diambil oleh para pemangku kepentingan. Ada undang-undang, harus ada peraturan-peraturan yang harus ditaati. Hotel ini bisa dibangun bisa jalan dengan baik karena memang ada aturannya, bagaimana undang-undang berinvestasi, bagaimana undang-undang dalam memberikan dunia perhotelan dan lain sebagainya.

Jadi saya melihat bahwa dunia politik itu sangat penting dan strategis di dalam rangka kita untuk mengelolah negara. bagaimana saya terjun di dunia politik itu memang latar belakang saya. Saya ini dari sisi keilmuan punya disiplin ilmu-ilmu ekonomi mulai dari SMP, saya sudah ekonomi karena saya sekolah di SMEP, Sekolah Menengah Ekonomi Pertama. Berikut ke sekolah tingkat atas, saya di ekonomi juga SMEA, Sekolah Menengah Ekonomi Atas.

Begitu di Fakultas, perguruan tinggi, saya juga di ekonomi, Fakultas Ekonomi. Saya memilih untuk kuliah di Universitas Sam Ratulangi, Fakultas Ekonomi. S2 saya juga magister Economic Development di Universitas Gajah Mada Jogyakarta.  S3 saya di Universitas Hasanudin di Antropoligi yang mengarah kepada membahas hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi, antropologi kesejahteraan.

Jadi kalau diliat dari latar belakang pendidikan, disiplin ilmu dan bakat kemampuan saya. Sebenarnya cita-cita saya dari awal, saya tidak mau jadi pegawai negeri, saya mau jadi pengusaha. Sehingga ketika saya lulus dari perguruan tinggi, saya merintis usaha tapi lebih tertarik ke politik.

Ketika itu memang politik kita, politik di zaman orde baru itukan politik yang diarahkan, baru 3 partai yang bersaing. Kemudian pemilihan kepala daerah masih pemilihan di DPR, belum pemilihan langsung. 

Sehingga saya alhamdulillah ketika itu pada zaman orde baru, saya terjun di dunia politik direkrut jadi anggota partai politik langsung ditawarkan untuk menjadi anggota DPRD. Ketika itu menjadi anggota DPRD itu kalau sekarang kan kita calonkan diri kemudian mendekati ketua partai dan lain sebagainya.

Saat itu (jadi DPRD) dipanggil-panggil, mau aktif di politik. Jangan hanya jadi pengurus partai tapi harus jadi anggota DPR. Saya bilang siap dicalonkan, kampanye mereka yang kampanyekan terpilih yaa duduk kita. Tugas kita yah memilih kepala daerah seperti itu setelah Reformasi, alhamdulillah saya masih di Sulawesi Utara pada saat itu saya masih anggota DPRD Sulut. Tahun 2000 ketika Gorontalo dimekarkan maka 2001 dibentuklah DPRD, maka saya dari Sulawesi Utara pindah ke Gorontalo jadi anggota DPRD dari 2001 sampai 2004.

Kemudian pemilu 2004 terpilih lagi jadi anggota DPRD periode 2004 - 2009. Kemudian pemilu 2009 terpilih lagi jadi anggota DPRD 2009 -2014. K etika itu saya dipercayakan sebagai Ketua DPRD Provinsi Gorontalo. Nah karena sudah cukup lama di DPR. Saya bilang saya mau coba-coba keberuntungan nasib di eksekutif karena sudah lama di legislatif. Maka pemilihan wali kota pada 2014, saya ikut daalam kontestasi itu dan alhamdulillah terpilih sebagai wali kota dari 2014 -2019.

Kemudian untuk kedua kali menjadi wali kota, saya ikut lagi pada pemilu 2018, saya terpilih dilantik 2019 - 2024, tinggal 11 bulan saya menjabat ini. Itulah karir politik saya.

DA : Pak marten, karir politik yang lengkap kan, eksektuf dan legislatif. Kepuasan batin apa yang bapak peroleh eksekutif legislatif?

MT : Saya kira di mana saja kita berkarya, di mana saja bekerja khan untuk kepentingan rakyat, untuk masyarakat kemaslahatan masyarakat. Tugas daripada eksekutif maupun tugas daripada legislatif itu sama-sama kita mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang makin lebih baik, makin lebih sejahtera, makin lebih maju daerahnya dan makin lebih berkualitas, terutama SDM. Jadi tentunya kepuasan batin apa yang bisa diperoleh, apabila apa yang kita kerjakan, apa yang kita perjuangkan itu bisa diterima dan memberi arti yang luas kepada rakyat, memberi sesuatu yang baik kepada rakyat.

Artinya ada sesuatu misalnya, kita bekerja katakanlah, saya sebagai walikota sekarang dipercayakan untuk mengelola suatu daerah. Bagaimana kalau misalnya tantangannya, bagaimana mengurangi angka kemiskinan, bagaimana meningkatkan indeks pembangunan manusia, bagaimana mengurangi angka pengangguran, bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved