Pemotongan Dana Desa
3 Kades di Kabupaten Gorontalo Buka Suara Soal Pemotongan Anggaran Dana Desa
Tiga kepala desa (kades) di Kabupaten Bone Bolango mengeluh soal pemotongan dana desa. Pemerintah pusat diketahui memotong anggaran dana desa.
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/ades-Luwoo-Ibrahim-Pakaya-dan-Kades-Pantungo-Sofyan-Gani.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Tiga kepala desa (kades) di Kabupaten Gorontalo buka suara soal pemotongan anggaran dana desa.
Pemerintah pusat diketahui memotong anggaran dana desa sebesar Rp 38 miliar per tahun 2023.
Kepala Desa Bulila Yusrin Tine mengatakan, jumlah anggaran dana desa memang mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.
"Tahun ini jadi Rp 700 Juta lebih, sampai saya marah pada pendamping desa saat itu. Cuma qadarullah saja," ujar Yusrin Tine kepada TribunGorontalo.com, Kamis (6/7/2023).
Kata Yusrin, dana desa sudah mengalami penurunan dari dua tahun kemarin.
"Dulu tahun 2021 mencapai Rp 1,1 miliar, lalu tahun 2022 turun menjadi Rp 800-an juta dan sekarang turun lagi menjadi Rp 700-an juta," lanjut dia.
Yusrin pun mengaku tak mempermasalahkan hal itu. Hanya saja program-program bukan prioritas dari pemerintah pusat akan sedikit dipangkas.
"Cuma kayak stunting ataupun program kesehatan yang akan terus berjalan, karena desa Bulila ini juga telah menjadi kampung KB (Keluarga Berencana)," ungkapnya.
Desa Bulila saat ini termasuk desa mandiri di Kabupaten Bone Bolango.
Pada kesempatan lain, Kepala Desa Luwoo Ibrahim Pakaya turut membenarkan adanya pemotongan dana desa.
Baca juga: Kades di Gorontalo Gigit Jari, Pemerintah Pusat Potong Rp 38 Miliar Dana Desa per Tahun 2023
"Memang sama, kita juga ada penurunan. Dari Rp 987 juta dana desa di tahun sebelumnya. Dan di tahun ini hanya dapat Rp 878 juta," ujar Ibrahim Pakaya.
Seperti halnya Yusrin, Ibrahim pun akan memangkas beberapa program kecuali program prioritas dari pemerintah pusat.
Kemudian, Kepala Desa Pantungo Sofyan Gani juga berkata demikian.
"Sama kita itu dari Rp 846.978.000 menjadi Rp 760.793.000," ungkap Sofyan.
Menurut Sofyan, ia akan tetap menjalankan program yang ada di desanya, tetapi dengan menyesuaikan dana yang ada.