Curhat Irwandi dari Penjual Baju Banting Setir ke Es Teler, Nyaris Bangkrut Gara-gara BON
Irwandi pindah ke Gorontalo tahun 2009. Saat itu ia berjualan pakaian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1152023_nyaris-bangkrut-gara-gara-BON.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Limboto - Irwandi (1984) pria asal Sengkang, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan berjualan es teler dan pisang ijo.
Irwandi pindah ke Gorontalo tahun 2009. Saat itu ia berjualan pakaian.
"Saya ikut bos ke sini," kata Irwandi kepada TribunGorontalo.com, Kamis (11/5/2023).
Tinggal di Gorontalo tak serta merta berjalan mudah. Irwandi harus dihadapkan persoalan piutang.
Ceritanya, saat itu ia menjual berbagai jenis pakaian dengan sistem kredit (BON).
Ia harus menelan pil pahit, manakala para pelanggannya tak kunjung melunasi cicilan.
Situasi ini semakin diperkeruh karena Irwandi harus menghidupi istri dan anak-anaknya.
Ia mengenang betapa menyedihkan saat membeli beras satu liter untuk makan per hari.
"Nanti di Gorontalo saya rasa beli beras satu liter," akuinya dengan mata berkaca-kaca.
Cobaan tak cukup sampai di situ, ia juga punya tanggungan membayar hutang ke pihak bank.
"Mobil hampir ditarik karena menunggak," ungkapnya.
Pria akrab disapa Apo ini pun meminta kebijakan bank. Setelah bank memberikan keringanan, ia langsung memutar otaknya.
Irwandi lalu mendapat ide jualan es teler. Salah satu temannya memberi saran padanya.
"Teman itu jualan es teler juga tapi dia pakai mobil," bebernya.
Menurut teman Iswandi, jualan di mobil lebih menguntungkan daripada menyewa etalase.