Doa Harian Gorontalo
10 Etika Berdoa Menurut Imam Al-Ghazali
Berdoa juga memiliki etika atau tata kesopanan. Berikut tata kesopanan atau etika berdoa menurut Imam Al Ghazali (1961, 394-414),
TRIBUNGORONTALO.COM - Doa adalah otak ibadah. Dikatakan otak ibadah karena setiap hamba yang sedang beribadah kadang otaknya alpa, kecuali orang selalu berdoa.
Orang berdoa berarti selalu menghadirkan Allah dalam lahir dan batinnya. Dalam keadaan itu, dia adalah hamba Allah dengan segenap tubuhnya.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda, "Barangsiapa yang tidak pernah meminta kepada Allah, Allah murka kepadanya."
Ungkapan hadist tersebut mengatakan demikian, karena berarti ia lupa kepada Allah dan berpaling kepada selain-Nya.
Berdoa juga memiliki etika atau tata kesopanan.
Berikut tata kesopanan atau etika berdoa menurut Imam Al Ghazali (1961, 394-414), sebagaimana dikutip TribunGorontalo.com dari buku Risalah Dzikir & Doa oleh Prof Dr H Ismail Nawawi.
Memanfaatkan Waktu yang Baik
Orang yang berdoa agar mengamati dan memanfaatkan waktu-waktu mulia, seperti hari Arafah dari satu tahun, sebagaimana sabda Nabi SAW:
"Doa yang paling utama adalah doa penduduk Arafah."
Selain itu, berdoa di hari Jumat dan saat tiba bulan Ramadhan merupakan waktu yang baik.
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sebaik-baiknya hari setelah matahari terbit adalah hari Jumat."
Mempergunakan Kesempatan pada Keadaan yang Mulia
Orang berdoa agar memanfaatkan kesempatan pada keadaan-keada yang mulia. Kaitan kondisi ini, Abu Hurairah pernah berkata:
"Sesungguhnya pintu-pintu langit dibuka ketika berdesakan shaf-shaf (barisan) di jalan Allah Ta'ala, ketika turunnya hujan, dan ketika didirikannya shalat-shalat fardhu, maka pergunakanlah untuk berdoa kepada-Nya."
Dan Nabi SAW bersabda, "Doa diantara adzan dan iqamat itu tidak tertolak."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Berdoa3.jpg)