Penderita Diabetes Melitus di Gorontalo Wajib Tahu, Stres Bisa Picu Gula Darah Naik
Ketika seseorang didiagnosa menderita diabetes melitus karena faktor genetik, biasanya mereka akan mengalami stres.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/10122022_diabetes.jpg)
Kemudian, para penderita wajib mengenakan sandal di dalam maupun di luar rumah guna mencegah potensi terluka benda tajam.
"Setiap hari periksa kaki. Karena mereka ini sudah tidak rasa lagi luka di kaki, nanti sudah infeksi baru ketahuan," jelas dia.
Paling penting ketika luka, penderita DM wajib mendapat perawatan intensif dari tenaga kesehatan seperti puskesmas, maupun rumah sakit.
"Kalau mau tepatnya lagi ke Rumah Luka, itu konsultasinya gratis, tetapi perawatan luka berbayar," imbuhnya.
Ners Yusuf juga membantah stigma negatif yang menyebut diabetes itu tidak ada obatnya.
Dia menganalogikan DM seperti penyakit alergi udang. Yang mana ketika seseorang kontrol porsi makanan berbau udang, pasti alerginya tidak kambuh.
"Orang alergi udang dikasih obat sembuh. Dia makan udang, alerginya muncul lagi," ungkap dia.
"Kalau gula, jaga pola makan, normal gula darahnya, ya sudah. Yang jadi masalah, masyarakat tidak mau menjaga pola hidup sehat. Kebiasaan kita di Indonesia Timur, satu piring nasi, sayurnya cuma dua sendok," terangnya.
Selanjutnya, warga diminta terutama lansia sebisa mungkin menghindari makan berat pada malam hari.
"Simple saja. Kalau kena gula, ubah pola makannya menjadi vegetarian. Baru olahraga dan jika ada luka cepat diobati," pungkas Ners Yusuf.
Pantauan TribunGorontalo.com, agenda pemeriksaan kesehatan dilaksanakan oleh mahasiswa profesi Ners Universitas Negeri Gorontalo bekerja sama dengan InWocna Provinsi Gorontalo serta pemerintah Desa Poowo Barat.
Sedikitnya 40 warga Poowo Barat diperiksa kadar gula darah hingga menjalani tes Ankle Brachial Index (ABI) dan Monofilamen secara gratis yang ditangani petugas InWocna dibantu 17 mahasiswa profesi Ners UNG. (*)