Opini
Harusnya Akses Kesehatan Masyarakat Tidak Memberatkan Secara Finansial
Momentum Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-58 Tahun 2022 diperingati setiap tanggal 12 November.
Studi menunjukkan bahwa manfaat jangka panjang UHC melebihi biaya yang harus dikeluarkan. Di Jamaika misalnya, sebagaimana ditulis Alison P. Galvani et.al (2017), penerapan UHC telah mengurangi 34 % jumlah hari sakit secara nasional dan meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya lebih dari cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan.
Manfaat ekonomis UHC dapat dijelaskan secara logis. Dengan adanya jaminan asuransi kesehatan, masyarakat tidak merasa harus menabung uangnya untuk mengantisipasi sakit di masa depan, sehingga uang tersebut dapat diputar dan menggerakkan ekonomi.
Selain itu, ongkos yang dikeluarkan pun makin berkurang, karena kondisi kesehatan masyarakat secara umum membaik.
Pengalaman negara-negara tersebut memberi pelajaran kepada kita bahwa berbagai persoalan yang dihadapi BPJS saat ini bersifat sementara.
Dengan penanganan yang tepat dan seiring makin mapannya sistem yang berjalan, persoalan tersebut akan teratasi sehingga manfaat UHC beserta multiplier effect-nya akan kian terasa pula.
Ibarat pengobatan, persoalan tersebut adalah rasa pahit yang menyergap lidah ketika dan sesaat setelah minum jamu. Rasa pahit itu nantinya akan hilang, sehingga yang tersisa adalah rasa bugar sebagai efek dari jamu tadi.
Terlepas dari arti penting peran UHC, harus diingat lagi bahwa pengobatan paling murah adalah pencegahan. Karenanya, menggalakkan pola hidup sehat adalah elemen penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.
Upaya menangani isu kesehatan di hilir (mengobati orang sakit) harus dibarengi dengan upaya menangani hulunya (mencegah orang agar tidak sakit).
Upaya pemerintah melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) perlu terus ditingkatkan agar gaungnya makin cetar.
Hal ini kian penting mengingat secara global maupun nasional, prevalensi penyakit tidak menular terus meningkat.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dilakukan Kementerian Kesehatan misalnya, menunjukkan bahwa prevalensi kanker naik dari 1,4 % (Riskesdas 2013) menjadi 1,8 % , stroke naik dari 7 % menjadi 10,9 % , dan penyakit ginjal kronik naik dari 2 % menjadi 3,8 % .
Penyakit-penyakit tersebut kebanyakan dipengaruhi oleh pola hidup yang tidak sehat. Karenanya, penanaman pola hidup sehat sejak dini agar menjadi bagian integral dari pertumbuhan tubuh dan kesadaran anak amat penting dilakukan.
Jika melihat dari sudut temanya menggambarkan, sesuatu yang luar biasa, yaitu bangkitnya semangat dan optimisme seluruh lapisan masyarakat Indonesia yang secara bersama. Bahu membahu dan bergotong royong dalam menghadapi situasi pandemi, sehingga masyarakat Indonesia dapat kembali sehat dan tumbuh untuk beraktivitas dan produktif.
Baca juga: Petugas Kesehatan Gorontalo Mulai Operasi ‘Sapu Bersih’ Obat Sirup Anak di Apotek
Makna Logo HKN 2022
Terinspirasi dari Kupu-kupu:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Perawat-Puskesmas-Kecamatan-Bone-Pantai.jpg)