Funco Tanipu: Toleransi Umat Beragama di Gorontalo Bukan Wacana Impor
Menurut dia, praktik toleransi di Gorontalo telah berurat dan berakar, serta memiliki catatan sejarah yang lama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2710_Toleransi.jpg)
Ada keadilan dalam ekonomi yang dipraktikkan selama ratusan tahun. Warga non muslim tetap beroleh hak sesuai dengan kerjanya. Tidak ada sentimen negatif dalam distribusi ekonomi.
Di Gorontalo ada prinsip Tayade yang menjadi basis distribusi ekonomi. Tayade adalah semangat berbagi, berkeadilan dan keikhlasan.
Dalam keseharian orang Gorontalo, semangat Tayade sangat terawat, misalnya jika ada hajatan satu keluarga, maka keluarga yang lain biasa mendapat hadiah makanan.
Begitu juga dalam praktik pertanian dan perkebunan, semangat berbagi itu dipraktikkan.
Untuk penanganan konflik sosial, baik pada skala mikro dan makro, dikenal namanya dudula (saling mendekat).
“Karena Gorontalo memiliki kekerabatan yang berbasis marga, dan di setiap marga ada yang dituakan, seringkali yang akan turun adalah tetua-tetua dalam kelompok keluarga tersebut untuk menangani masalah atau minimal melokalisir.” katanya. (*)