PIlpres 2024
Terbaru Survei Pilpres 2024: Elektabilitas Prabowo Meroket Tinggalkan Ganjar dan Anies
Prabowo Subianto kembali ungguli jajak pendapat capres pada Pilpres 2024 terbaru periode 1 - 10 Oktober 2022.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/161022-prabowo.jpg)
Menurut PSI, kader PDI-P itu merupakan calon terbaik karena punya visi kebangsaan dan kebhinekaan yang sama dengan yang mereka perjuangkan.
"PSI juga melihat Mas Ganjar sebagai sosok paling pas untuk melanjutkan kerja-kerja yang selama ini sudah dilakukan Pak Jokowi dalam memajukan Indonesia," kata Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie, dalam konferensi pers daring, Senin (3/10/2022).
Grace menyebut, nama Ganjar tepilih melalui forum rembuk rakyat PSI yang sudah digelar sejak akhir Februari 2022.
Kendati mendeklarasikan nama Ganjar, PSI saat ini tak punya suara di DPR.
Artinya, partai pimpinan Giring Ganesha itu tak bisa mengusung Ganjar atau siapa pun pada pilpres mendatang.
Perang survei
Nama Prabowo, Anies, dan Ganjar memang hampir selalu masuk dalam tiga besar tokoh dengan elektabilitas terbesar menurut survei banyak lembaga.
Survei Political Weather Station (PWS) yang dirilis Jumat (7/10/2022) misalnya, memperlihatkan bahwa nama Prabowo paling banyak dipilih responden (30,8 persen).
Menyusul kemudian nama Ganjar (18,8 persen) dan Anies yang tak terpaut jauh (17,5 persen).
Survei Indikator menunjukkan hasil yang berbeda.
Dalam survei yang dirilis Minggu (2/10/2022), elektabilitas Ganjar disebut yang paling tinggi (29 persen).
Di posisi kedua ada nama Prabowo (19,6 persen), dan mengekor nama Anies (17,4 persen).
Serupa, survei Charta Politika yang dirilis Kamis (22/9/2022) juga memperlihatkan bahwa elektabilitas Ganjar menduduki urutan puncak (31,3 persen).
Dua nama setelahnya lagi-lagi Prabowo (24,4 persen) dan Anies (20,6 persen).
Sementara hasil jajak pendapat Lembaga Survei Jakarta (LSJ) yang dirilis Selasa (27/9/2022) menyebutkan, Prabowo peringkat satu tokoh dengan elektabilitas tertinggi (31,5 persen).
Sedangkan Ganjar di urutan kedua (20,8 persen), dan Anies di urutan ketiga (16,9 persen).
Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dalam surveinya baru-baru ini mengungkapkan, sedianya suara PDI-P akan bertambah 15 persen jika mengusung Ganjar sebagai capres.
Sementara, jika partai banteng mengusung putri mahkota mereka, Puan Maharani, elektabilitas PDI-P disebut tak akan meningkat, tapi malah tergerus.
Seperti diketahui, salah satu dari Ganjar dan Puan disebut-sebut bakal diusung PDI-P untuk menjadi capres.
"Kalau dimasukan Ganjar, naik cukup tajam. Intinya, bukan soal persennya, Ganjar memperkuat PDI-P secara signifikan, persisnya," kata pendiri SMRC, Saiful Mujani dikutip dalam tayangan Youtube SMRC TV, Kamis (29/9/2022).
Adapun survei Litbang Kompas pada 4-6 Oktober menunjukkan, deklarasi Anies Baswedan sebagai capres Nasdem memberikan efek elektoral ke partai yang dimotori Surya Paloh itu.
"Hasil jajak pendapat Kompas mencatat, sebagian besar responden (49,5 persen) meyakini apa yang dilakukan Nasdem dengan mendeklarasikan nama Anies sebagai bakal capresnya, misalnya, diyakini akan mampu menaikkan perolehan suara Nasdem pada Pemilu 2024," kata peneliti Litbang Kompas, Rangga Eka Sakti dikutip Harian Kompas, Senin (10/10/2022).
Siapa menang? Melihat situasi politik terkini, Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama Ari Junaedi mengatakan, tingkat persepsi publik terhadap capres bergantung oleh cara pendekatan mereka ke calon pemilih.
Tiga nama yang telah dideklarasikan sebagai capres yakni Prabowo, Anies, dan Ganjar merupakan peraih elektabilitas terbesar versi survei sejumlah lembaga.
Dari tiga nama, menurut Ari, tingkat elektabilitas Prabowo sudah maksimal dan tidak bisa naik lagi. Malah, berpotensi turun.
"Mengapa bisa begitu? Prabowo dengan posisinya sebagai pejabat publik yaitu Menhan (Menteri Pertahanan), maka perfomance hanya tergantung kepada kiprahnya yang intens sebagai menteri dan Ketua Umum Gerindra," kata Ari kepada Kompas.com, Senin (10/10/2022).
"Jejak rekamnya yang selalu gagal di pilpres-pilpres sebelumnya menjadi handicap (rintangan) bagi Prabowo," tuturnya.
Sementara, kata Ari, elektabilitas Anies bisa saja naik jika partai yang mendukungnya bekerja secara tepat.
Nasdem sangat mungkin mengolah pencitraan Anies dan dukungan dari simpatisannya dengan maksimal.
Jika berhasil, Nasdem pun bakal diuntungkan oleh pencalonan Anies.
"Akan tetapi elektabilitas Anies akan berpotensi menurun jika Nasdem gagal membantah dan mengolah isu Anies adalah toleran dengan praktik politik identitas," ujar Ari.
Lain Prabowo dan Anies, lain lagi dengan Ganjar.
Menurut Ari, Gubernur Jawa Tengah itu justru mendapat simpati publik dengan besarnya tekanan dari PDI-P kepadanya.
Oleh publik, Ganjar dianggap sebagai political victim alias korban politik karena "serangan-serangan" PDI-P ke dirinya.
Sebagaimana diketahui, politisi PDI-P itu kerap kali tidak diundang di acara partainya sendiri, hingga terang-terangan disebut kemajon (kelewatan) dan kemlinthi (congkak) oleh elite partai publik.
"Sehingga publik menaruh iba dan semakin jatuh hati dengan ketegaran Ganjar," ucap Ari.
Dengan tekanan politik demikian besar, Ganjar sulit berkampanye di luar Jawa Tengah yang bukan merupakan wilayah kekuasaannya.
Namun begitu, Ari menyebut, keterbatasan itu justru dimanfaatkan Ganjar dengan memaksimalkan “berkampanye” di media sosial.
Ari yakin, dengan situasi politik demikian, nama Ganjar justru akan semakin melejit mendekati gelaran Pemilu 2024.
"Tingginya elektabilitas Ganjar di tengah hambatan dan tentangan dari partainya justru melejitkan dirinya daripada Prabowo atau Anies," kata Ari.
"Saya berkeyakinan Ganjar adalah kuda hitam dalam pilpres mendatang," tutur dosen Universitas Indonesia itu.
(*)