Rusuh Arema vs Persebaya

Pengamanan Sepak Bola Indonesia Langgar Aturan FIFA: Iwan Bule Harusnya Mundur dari Ketua PSSI

Mochamad Iriawan (Iwan Bule) sepatutnya mundur dari Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Editor: lodie tombeg
Surya
Keluarga korban tragedi Karjuruhan mencari tahu para korban melalui foto yang diperlihatkan petugas. Mochamad Iriawan (Iwan Bule) sepatutnya mundur dari Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Mochamad Iriawan (Iwan Bule) sepatutnya mundur dari Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Kemudian pihak yang bersalah dalam tragedi rusuh usai laga Arema FC vs Persebaya yang menewaskan 129 orang terancam pidana 5 tahun penjara.

Indikatornya terjadi beberapa kejanggalan mulai dari over capasity hingga lolosnya senjata gas air mata ke stadion yang melanggar aturan FIFA (Ferederasi Sepak Bola Internasional).

Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali menyatakan, pihak-pihak yang bersalah atas insiden tewasnya banyak suporter selepas laga Arema versus Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur terancam pidana.

Ia menyebut, ancaman pidana yang ditanggung bisa mencapai 5 tahun penjara. Hal ini mengacu pada Pasal 359 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang kealpaan yang menyebabkan orang lain meninggal.

Baca juga: Terancam Sanksi FIFA: Melebihi Tragedi Haysel, Puasa Bola Lebih 5 Tahun

Pasal 359 KUHP berbunyi: "Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun".

"Bila penyelenggara tidak mampu mengamankan pertandingan maka bisa dikenakan hukum pidana berupa hukuman penjara maksimal 5 tahun atau denda maksimal Rp 1 miliar. Nah ini yang harus dilakukan, membentuk tim pencari fakta," kata Akmal saat dihubungi Kompas.com, Minggu (2/10/2022).

Akmal menilai, ada beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh pihak penyelenggara hingga aparat keamanan.

Pelanggaran itu meliputi pelanggaran prosedural, pelanggaran SOP, pelanggaran regulasi, dan pelanggaran pengamanan yang telah diatur oleh FIFA.

Ia mencontohkan soal Panitia Pelaksana (Panpel) Arema FC menjual tiket yang tidak sesuai dengan instruksi dari kepolisian.

Sebelum pertandingan, aparat keamanan menginstruksikan bahwa Panpel hanya boleh mencetak 25.000 tiket.

Namun, pelaksana justru mencetak hingga 45.000 tiket. Hal ini membuat Stadion Kanjuruhan terlalu penuh oleh massa.

"Ini over capacity dari Stadion Kanjuruhan sehingga kemudian jumlah penonton tidak sebanding dengan kapasitas stadion, berjubel, desak-desakan, dan ini pelanggaran prosedural yang sangat fatal," ucap dia.

Pelanggaran lainnya, jadwal pertandingan yang digelar pada malam hari. Semula, Polri menyarankan agar pertandingan mulai pukul 15.30 WIB.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved