Nasib Koalisi Nasdem-Demokrat, Pengamat: PKS Lebih Untung Gabung KIB
Tarik menarik figur capres berpotensi keretakan rencana koalisi Partai Nasdem, Partai Demokrat dan Partai Keadilan Kesejateraan (PKS).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/290922-nasdem-PKS-PD.jpg)
"Jadi teman-teman, ini kalau ada kesepakatan pasti kita akan umumkan. Enggak mungkin kita tidak akan umumkan," ujarnya.
Willy menjelaskan, tema rencana koalisi yang diinginkan Nasdem adalah membangun platform perjuangan bersama tentang perubahan.
Ia menuturkan, dari platform itu akan menentukan langkah politik koalisi yang dibangun ke depannya.
"Jadi ini suatu hal yang dinamika tapi di sisi lain komunikasi politik dengan yang lain juga terjadi," ujar Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR itu.
Willy mengatakan, seluruh jajaran Partai Nasdem juga menunggu keputusan Surya Paloh untuk mengumumkan langkah partai untuk koalisi.
"Kita tunggu Pak Surya, nanti kalau sudah lihat hilal, kita langsung azan tuh. Jadi kita lihat hilal, langsung kita azan dan langsung berbuka," katanya.
Diketahui, Partai Nasdem, Demokrat, dan PKS tak kunjung mendeklarasikan koalisi.
Padahal, ketiganya sudah lama saling menjajaki. Pertemuan para elite beberapa kali digelar.
Figur calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) bahkan sudah dibahas.
Namun, tampaknya perundingan masih alot sehingga ketiga partai belum juga mengucap kata sepakat.
(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "PKS Dinilai Lebih Diuntungkan jika Tinggalkan Nasdem-Demokrat dan Gabung dengan KIB"