Rabu, 18 Maret 2026

Capres 2024

Efek Ekor Jokowi untuk Prabowo Subianto? Begini Analisis Pengamat Politik Charta Politika

Coat-tail effect (efek ekor jas) Presiden Joko Widodo terhadap figur capres bisa menjadi positif dan sebaliknya negatif.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Efek Ekor Jokowi untuk Prabowo Subianto? Begini Analisis Pengamat Politik Charta Politika
Kolase TribunGorontalo.com
Jokowi dan Prabowo Subianto. Coat-tail effect (efek ekor jas) Presiden Joko Widodo terhadap figur capres bisa menjadi positif dan sebaliknya negatif. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Coat-tail effect (efek ekor jas) Presiden Joko Widodo terhadap figur capres bisa menjadi positif dan sebaliknya negatif.

Semuanya bergantung dari tingkat kepuasan terhadap Jokowi hingga akhir masa jabatannya di 2024.

Berdasarkan beberapa hasil survei, tingkat kepuasan terhadap Jokowi mencapai 62 - 63 persen.

Menurut Yunarto Wijaya dari Charta Politika, bila dibandingkan dengan akhir periode Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi masih lebih baik.

"Tapi masih ada setahun lebih. Kita lihat hingga tahun depan," kata Yunarto dalam diskusi Tribun Series: Mungkinkah Jokowi Maju Cawapres di 2024? yang dipandu Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahenda Putra di Jakarta, Senin (26/9/2022).

Kata Yunarto, persoalan yang dihadapi Jokowi cukup pelik dibandingkan SBY. Jokowi menghadapi geopolitik global. Ada perang antara Rusia dan Ukraina.

"Jokowi dan SBY sama-sama mengalami guncangan geoekonomi dan geopolitik," ujar peneliti politik ini.

Perlu diketahui, klaim dukungan dari Jokowi sering didengar dari sejumlah pendukung figur capres.

Misalnya kubu Prabowo Subianto pernah mengeklaim Jokowi mendukung Prabowo maju capres.

Bahkan belakangan muncul wacana Jokowi akan dipasangkan sebagai cawapres dari Prabowo Subianto pada Pilpres 2024.

Baca juga: Peluang Puan Maharani-Jokowi Maju Pilpres 2024, Begini Kode Elite PDIP

Desmond Tak Ambil Pusing

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Desmond J Mahesa mengaku tak ambil pusing soal sikap Presiden Joko Widodo pada Prabowo Subianto terkait kontestasi Pilpres 2024.

Hal itu disampaikan menanggapi pemberitaan surat kabar Singapura yang menyebut Jokowi tengah mempertimbangkan untuk memberi dukungan pada calon presiden (capres) tertentu, salah satunya Prabowo.

“Penting tidak penting (dukungan) kita lihat saja nanti. Kalau didukung syukur, kalau enggak didukung, juga enggak ada masalah,” sebut Desmond ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (20/9/2022).

Ia menilai keputusan Jokowi untuk mendukung figur tertentu sebagai capres belum pasti.

Desmond memandang saat ini mantan Gubernur DKI Jakarta itu memberikan dukungan pada orang-orang dekatnya.

Ia menganggap, Jokowi ingin ada figur yang bisa menyelesaikan berbagai persoalan dalam pemerintahannya yang belum tuntas.

“Ya kalau Jokowi kan endorse siapa saja, Pak Ganjar, Erick Thohir, Pak Sandi, ke semua mungkin dia cari selamat saja,” ujar Desmond.

“Siapapun presidennya dia (Jokowi) selamat dari masalah dia yang sekarang tidak beres, kan begitu,” paparnya.

Desmond merasa tak ada hubungan yang spesial antara Prabowo dan Jokowi.

Sebaliknya, ia menegaskan bahwa Prabowo pernah menjadi figur yang mendorong Jokowi untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Hal itu pun dilakukan Ketua Umum Partai Gerindra pada Anies Baswedan dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017.

Fakta itu, menurut Desmond, menunjukan Prabowo tak punya kedekatan lebih dengan Jokowi.

“Lihat Anies sekarang, (dulu) dihidupkan Pak Prabowo, hari ini dicalonkan jadi presiden, jadi sama saja,” tandasnya.

Diketahui jajak pendapat berbagai lembaga survei menunjukan Prabowo menjadi salah satu kandidat capres dengan elektabilitas tertinggi.

Ia bersaing dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Namun baru Prabowo dan Anies yang menyatakan siap mengikuti Pilpres 2024.

Sementara itu, Ganjar nampak belum menyampaikan apapun soal pencapresan karena merupakan kader PDI Perjuangan.

Keputusan pemilihan kandidat capres di partai berlambang banteng tersebut menjadi kewenangan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum.

Jokowi juga pernah diklaim mendukung Ganjar Pranowo. Relawan Jokowi pernah mengeklaim dukungan terhadap Ganjar, namun belakangan diklarifikasi dengan statement Jokowi 'ojo kesusu' (jangan buru-buru).

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved