India Berencana Menurunkan Kapasitas PLTU di 2030, Bagaimana Nasib Batu Bara Indonesia?

PLTU batu bara dalam bauran pembangkit listrik di India akan menurun menjadi 50 persen pada tahun 2030 dibandingkan dengan kontribusi saat ini sebesar

Penulis: redaksi | Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com/istimewa
Ilustrasi batu bara. 

TRIBUNGORONTALO.COM, – Rancangan rencana ketenagalistrikan nasional (National Electricity Plan/NEP) India menunjukkan adanya peningkatan solar dan penurunan kapasitas PLTU batu bara di 2030. 

PLTU batu bara dalam bauran pembangkit listrik di India akan menurun menjadi 50 persen pada tahun 2030 dibandingkan dengan kontribusi saat ini sebesar 70 persen.

NEP India memperlihatkan peningkatan yang signifikan dalam kapasitas pembangkit tenaga surya terpasang pada tahun 2027, 2030.

Juga revisi penurunan kapasitas batubara terpasang jika dibandingkan dengan laporan Bauran Kapasitas Pembangkitan Optimal Otoritas Listrik Pusat (Central Electricity Authority’s Optimal Generation Capacity Mix) yang dirilis pada tahun 2020.

Aryanto Nugroho, Koordinator Nasional Publish What You Pay (PWYP) Indonesia mengatakan, tren global menunjukan dunia perlahan mengurangi ketergantungannya kepada batu bara

India merupakan negara kedua tujuan ekspor batu bara Indonesia, pada tahun 2020 tercatat 97,5 juta ton batu bara yang diekspor ke sana.

“Pemerintah Indonesia harus serius mempersiapkan skenario melepaskan ketergantungan dari produsen sekaligus eksportir batu bara, karena dunia akan meninggalkan energi fosil ini seiring dengan semakin terjangkaunya energi terbarukan,” tutur Aryanto.

Di sisi lain, menurut Aryanto, sebenarnya Indonesia telah lama mematok batas ekspor batu bara hingga 400 juta ton pada 2019 melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rancangan Umum Energi Nasional (RUEN) sayangnya hal tersebut tidak diimplementasikan secara konsisten. 

Menurutnya, dampak tidak dijalankannya pengendalian produksi sebagai amanat RUEN, berakibat pada sulitnya Indonesia lepas dari jebakan “volatility” ekonomi batubara, termasuk minim skenario mitigasi dari makin menurunnya permintaan global batubara; serta terhambatnya transisi energi.

“Selain itu, konsekuensi dari “obral” ekspor lebih banyak batu bara, artinya terjadi bukaan lahan dan emisi yang besar dari aktivitas ekstraksi batu bara tersebut,” tegasnya. 

Halaman
123
  • Baca Juga
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved