Bocoran Harga Pertalite Jadi Rp 10.000 - Solar Rp 7.200 per Liter, Begini Kata Pertamina
Bensin beroktan 90 atau Pertalite bakal naik harga menjadi Rp 10.000 per liter dari Rp 7.650 per September atau Oktober 2022.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/300822-BBM1.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta – Bensin beroktan 90 atau Pertalite bakal naik harga menjadi Rp 10.000 per liter dari Rp 7.650 per September atau Oktober 2022.
Kemudian Solar menjadi Rp 7.200 per liter dari harga awal Rp 5.150. Bensin beroktan 92 atau Pertamax bakal menjadi Rp 16.000 per liter dari Rp 12.500.
Harga baru Pertalite, Pertamax dan Solar berdasarkan pemberitaan media asing yang mendapatkan bocoran informasi pada rapat DPR RI dengan pemerintah.
Sejumlah media asing menyoroti rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Indonesia. Kenaikan harga BBM di Indonesia akan mencapai 30-40 persen.
Baca juga: Kuota BBM Subsidi Habis Agustus 2022, Kemungkinan Harga Pertalite dan Solar Naik September
Informasi kenaikan harga BBM mencapai 40 persen tersebut disampaikan sejumlah media asing, seperti Reuters, ChanelNewsAsia, StraitTimes, BangkokPost, dan MalayMail.
Salah satu media asing, Reuters, menyebutkan bahwa kenaikan BBM 30-40 persen tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eddy Soeparno.
Dalam wawancara Reuters dengan Eddy, pihaknya menyebutkan, informasi kenaikan ini didapatnya dari rapat tertutup DPR dengan Pertamina pada awal pekan ini.
Berdasarkan keterangan Eddy, menurut pemberitaan media-media asing tersebut, kenaikan harga:
1) Bensin beroktan 90 atau Pertalite menjadi Rp 10.000 per liter dari Rp 7.650.
2) Bensin beroktan 92 atau Pertamax menjadi Rp 16.000 per liter dari Rp 12.500.
3) Solar menjadi Rp 7.200 per liter dari harga awal Rp 5.150.
Baca juga: Wacana Kenaikan Dirapatkan, Harga Keekonomian Pertalite di Angka Rp 17.200
“Kami melihat ini (menaikkan harga dan membatasi penjualan) paling tidak merugikan masyarakat," kata Eddy.
Selain itu, menurut dia, kenaikan harga BBM ini diperkirakan menambah sekitar 1,9 poin persentase pada tingkat inflasi 2022.
Adapun dalam pemberitaan media asing tersebut, Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto juga mengonfirmasi terkait perincian rapat yang dilakukan DPR dengan Pertamina.
"Kami berupaya menjaga inflasi pada 7 persen hingga akhir tahun," katanya. Sugeng menyebut bahwa pemberian uang tunai akan diberikan guna meredam dampak kenaikan harga bahan bakar minyak pada masyarakat miskin Indonesia.
Saat dikonfirmasi, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting mengatakan, pihaknya belum mengetahui pasti terkait rencana kenaikan harga hingga 40 persen pada BBM bersubsidi tersebut.
“Belum mengetahui (kenaikan 40 persen), kebijakan penentuan harga BBM subsidi merupakan kewenangan pemerintah,” ujarnya kepada Kompas.com, baru-baru ini.
Baca juga: Pertalite Rp 17.200 per Liter tanpa Subsidi, Sandiaga Uno Setuju Impor Minyak Murah Rusia
Ia mengatakan, pihaknya masih menunggu arahan dari pemerintah. “Kami sebagai operator akan melaksanakan penugasan yang diberikan regulator,” katanya lagi.
Sinyal kenaikan harga BBM Diketahui, sinyal kenaikan harga BBM bersubsidi belakangan terus berembus semakin kencang. Salah satunya disampaikan oleh Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia.
"Jadi tolong teman-teman wartawan sampaikan juga kepada rakyat bahwa rasa-rasanya sih untuk menahan terus dengan harga BBM seperti sekarang, feeling saya sih harus kita siap-siap, kalau katakanlah kenaikan BBM itu terjadi," kata Bahlil, dikutip dari Kompas.com, Jumat (12/8/2022).
Bahlil menyebutkan, harga minyak sekarang naik cukup tinggi. Menurut dia, harga minyak di APBN 63-70 dollar AS per barrel.
Sementara harga minyak dunia rata-rata dari Januari sampai Juli adalah 105 dolar AS per barrel. Ia mengatakan, hal ini membuat APBN mengalami pembengkakan karena harus menanggung beban subsidi BBM hingga Rp 600 triliun.
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani juga sempat mengatakan bahwa anggaran subsidi dan kompensasi energi berpotensi kembali membengkak Rp 198 triliun jika Pertalite dan Solar tak alami kenaikan.
"Kami perkirakan subsidi itu harus nambah lagi, bahkan bisa mencapai Rp 198 triliun, menjadi di atas Rp 502,4 triliun. Jadi nambah, kalau kita tidak menaikkan (harga) BBM, kalau tidak dilakukan apa-apa, tidak ada pembatasan," kata Sri Mulyani, dikutip dari Kompas.com, Selasa (23/8/2022).
(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Media Asing Sebut Kenaikan Harga BBM Indonesia Kemungkinan Capai 40 Persen, Berikut Tanggapan Pertamina"