Minggu, 8 Maret 2026

Brigadir J

Hari Ke-26 Misteri Kasus Brigadir J: Bripka Ricky Ceritakan Aksi 'Koboi' di Rumah Dinas Ferdy Sambo

Brigadir Kepala (Bripka) Ricky, saksi kunci aksi, melihat baku tembak Brigadir J dan seseorang yang diduga Bharada E.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Hari Ke-26 Misteri Kasus Brigadir J: Bripka Ricky Ceritakan Aksi 'Koboi' di Rumah Dinas Ferdy Sambo
Kolase TribunGorontalo.com
Ilustrasi baku tembak dan korban Brigadir J. Brigadir Kepala (Bripka) Ricky, saksi kunci aksi, melihat baku tembak Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J dan seseorang yang diduga Bharada Richard Eliezer alias Bharada E di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Brigadir Kepala (Bripka) Ricky, saksi kunci aksi, melihat baku tembak Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J dan seseorang yang diduga Bharada Richard Eliezer alias Bharada E di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo.

Bak film 'koboi', Bripka Ricky menyaksikan aksi duel maut Brigadir J dan Bharada E. Saling lepaskan tembakan itu berakhir dengan tersungkurnya Brigadir J di lantai. Tapi Bripka Ricky tak mengenal siap lawan 'main' Brigadir J.

Bripka Ricky melihat aksi 'koboi' dari balik kulkas di rumah Irjen Ferdy Sambo. Kesaksian terbaru itu terungkap saat wawancara Refly Harun dengan Ketua Komnas HAM Taufan Damanik di Channel RH Fammily, Rabu (2/8/2022).

Baca juga: Update Kasus Brigadir J: Hasil Uji Balistik, Periksa Petugas PCR hingga Kondisi Istri Ferdy Sambo

Komnas HAM telah memeriksa beberapa ajudan Irjen Pol Ferdy Sambo termasuk Bripka Ricky.

Damanik mengatakan Bripka Ricky ada saat baku tembak. Ricky menyaksikan dari balik kulkas. Ricky tidak mengetahui dengan siapa Brigadir J tembak-menembak.

Disampaikan Komnas HAM, Bharada E menyampakan kronologi baku tembak dengan Brigadir J versi dirinya. Kasus penembakan di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo yang menewaskan Brigadir J pada Jumat 8 Juli 2022.

Damanik mengatakan Bharada E menyampaikan kronologi versi dirinya ketika pemeriksaan di kantor Komnas HAM, Selasa (26/7/2022).

Baca juga: Hari Ke-24 Misteri Kasus Brigadir J: Bareskrim Merangkai Lagi Drama 7 Jam Magelang-Duren III

Taufan mengungkapkan, dalam rekaman CCTV yang dilihat Komnas HAM, tampak Bharada E tiba bersama rombongan lainnya dari Magelang, Jawa Tengah di rumah pribadi Irjen Ferdy Sambo, Jumat.

Setelahnya, Bharada E dan para rombongan pergi menuju rumah dinas untuk menjalani isolasi mandiri (isoman). Kemudian, Bharada E langsung naik ke kamarnya di lantai dua untuk beristirahat.

"Dia (Bharada E) menjelaskan secara kronologis versi dia ya. Mereka (rombongan) setelah sampai di rumah pribadinya Pak Sambo, di CCTV juga keliatan, mereka kemudian menuju rumah dinas untuk isoman."

"Setelah itu, dia (Bharada E) naik ke atas, ke lantai dua, dia bilang masuk ke ruangan ADC (aide de camp atau ajudan), dia bersih-bersih, tidur.

Tiba-tiba dia mendengarkan suara teriakan dari ibu P (Putri Candrawathi)," terang Taufan dalam tayangan di YouTube metrotvnews, yang dikutip Tribunnews.com, Minggu (31/7/2022).

Taufan mengungkapkan, Bharada E bergegas turun ke lantai satu karena mendengar teriakan istri Irjen Ferdy Sambo yang memanggil namanya. Tetapi, ketika turun, Bharada E melihat ada Brigadir J.

Baca juga: Terbaru Kasus Brigadir J: Bareskrim Turun Tangan, Bharada E Jadi Saksi hingga Desakan IPW

Ketika mencoba bertanya pada Brigadir J mengenai apa yang terjadi, Bharada E justru ditembak. "Kemudian setelah mendengar teriakan yang menyebut namanya, dia turun, dia lihat saudara Brigadir J."

"Kemudian, dia bertanya dengan bahasa, suara yang lebih kuat karena kaget (mendengar teriakan). 'Ada apa ini?'." "Dia kemudian menyaksikan saudara Brigadir J mengarahkan senjata ke dia dan menembak," urai Taufan mengulangi kronologi yang disampaikan Bharada E.

Lantaran merasa terancam, Bharada E memilih mundur untuk mengambil senjatanya. Setelahnya, ia pun melepaskan tembakan ke arah Brigadir J untuk melindungi diri.

"Nah, setelah beberapa tembakan itu dia mundur ke belakang, dia mengambil senjatanya, mengokang, dan membalas tembakan itu," kata Taufan.

Baca juga: Babak Baru Drama Kasus Brigadir J: Si Penembak Jitu Bharada E Minta Perlindungan ke LPSK

Sempat beberapa kali adu tembak, Bharada E berhasil melumpuhkan Brigadir J hingga tersungkur. Tetapi, Bharada E kembali melepaskan dua tembakan pada Brigadir J. Alasannya, kata Taufan, Bharada E ingin memastikan Brigadir J telah berhasil dilumpuhkan.

"Menurut dia, kena tembakannya. Setelah itu masih adu tembak lagi, sampai kemudian saudara Brigadir J ini tersungkur."

"Dia datang ke jarak lebih dekat, kira-kira satu, dua meter, lalu menembak dua kali lagi untuk memastikan orang yang menyerang dia ini betul-betul bisa dilumpuhkan."

"Itu kesaksian dia sebagai terduga pelaku penembakan," terang Taufan.

Sebelumnya, Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Ahmad Ramadhan, juga menyampaikan kronologi penembakan di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo persis seperti pengakuan Bharada E pada Komnas HAM.

Menurut Ahmad, pemicu Bharada E menembak Brigadir J lantaran ingin melindungi diri dan istri Irjen Ferdy Sambo.

Istri Irjen Ferdy Sambo, kata Ahmad, sempat dilecehkan oleh Brigadir J ketika berada di kamar. “Itu benar melakukan pelecehan dan menodongkan senjata dengan pistol ke kepala istri Kadiv Propam itu benar,” ujar Ramadhan, Senin (11/7/2022), dilansir Kompas.com.

Baca juga: Drama 7 Jam Magelang-Duren III Brigadir J: Komnas HAM Dalami Jejak Ferdy Sambo

“Setelah dengar teriakan, itu Bharada E itu dari atas, masih di atas itu bertanya, ‘Ada apa Bang?’ Tapi, langsung disambut dengan tembakan yang dilakukan oleh Brigadir J,” ungkap Ramadhan.

Tawaran Psikolog Keluarga Putri Candrawathi

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu menjelaskan bahwa tim psikolog yang disiapkan dari keluarga Putri Candrawathi, istri Irjen Ferdy Sambo, telah memberikan tawaran kepada LPSK.

Tawaran itu tentang penggunaan hasil pemeriksaan tim psikolog keluarga atas kondisi Putri Candrawathi.

Dengan adanya hasil pemeriksaan ini, tim psikolog keluarga Putri Candrawathi meminta LPSK untuk dapat memberikan assessment perlindungan.

Kendati demikian, LPSK menolak dan tetap meminta pemeriksaan assessment psikologis kepada Putri Candrawathi dapat dilakukan secara langsung.

Baca juga: Update Kasus Brigadir J: Sosok Misterius di Skuad Lama Ferdy Sambo, Komnas HAM Incar Saksi Kunci

Menyadari Putri Candrawathi dua kali urung hadir ke kantor LPSK dengan dalih kondisi psikologinya masih terguncang, LPSK akan melakukan penjadwalan ulang.

Bahkan, kemungkinan LPSK akan melakukan pemeriksaan assessment psikologis di rumah pribadi Putri Candrawathi.

"(Namun) belum bisa dipastikan waktunya, bisa minggu ini, bisa minggu depan tapi kemungkinan di kediaman Bu Putri," kata Edwin, Selasa (2/8/2022) dikutip dari Tribunnews.com.

Sebab, menurut Edwin, pertemuan langsung dengan Putri Candrawathi sangat penting dilakukan karena LPSK memerlukan pengecekkan sendiri terhadap yang bersangkutan.

"Jadi kami tetap meminta untuk bertemu langsung, melakukan pemeriksaan langsung secara psikologis kepada ibu Putri."

"Dan itu sudah disepakati dan tinggal LPSK menentukan waktunya untuk dilakukan pemeriksaan terhadap ibu Putri," kata Edwin.
Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi dalam acara bertajuk Restitusi VS Kompensasi Bagi Korban Kekerasan Seksual yang digelar LPSK secara daring dan luring pada Rabu (23/2/2022).

Putri Kabarnya Masih Syok

Psikolog klinis Ratih Ibrahim, dokter yang memeriksa kondisi psikologis Putri Candrawathi, membeberkan kondisi terkini kliennya,

Kata Ratih, saat ini kondisi Putri Candrawathi masih tidak stabil dan masih terguncang.

"Kondisinya (bu Putri) masih syok," kata Ratih, Senin (1/8/2022) dikutip dari Tribunnews.com.

Untuk itu, lanjut Ratih, hingga saat ini Putri Candrawathi masih belum bisa bertemu dengan orang lain.

Hal itu yang menjadi salah satu dasar Putri tidak bisa hadir dalam panggilan pemeriksaan kedua di LPSK yang sebelumnya dijadwalkan pada Senin (1/8/2022) lalu.

"Belum bisa, belum bisa bertemu orang dulu," kata Ratih.

Titik Tumpu pada Putri Candrawathi

Diwartakan Tribunnews.com sebelumnya, Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik menyebut saat ini pihaknya belum bisa mengungkap kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami Putri Candrawathi.

Pasalnya, Putri Candrawathi kabarnya masih syok terkait kejadian yang merenggut nyawa Brigadir J ini.

Padahal Putri Candrawathi adalah titik tumpu atau saksi hidup dari kasus dugaan pelecehan seksual yang dialaminya atas tindakan Brigadir J.

"Seluruh peristiwa ini titik krusialnya, tumpunya ada di Bu Putri (yang bisa) menjawab apakah (ada) tembak-menembak, siapa yang melakukannya, pelecehan seksual ini benar ada atau tidak. Saya kira itu," kata Taufan di Kantor Komnas HAM, Selasa (2/8/2022).

Taufan juga menyebut pihaknya hingga kini belum bisa bertemu dengan Istr Ferdy Sambo itu.

Ini karena pemeriksaan assesement psikologis dengan LPSK juga belum selesai.

"Dugaan pelecehan seksual yang ada siapa? Hanya Ibu Putri yang bisa memberikan keterangan, itupun kita belum ketemu dia. Karena masa psikologis dengan LPSK juga belum menyelesaikan prosedurnya," jelas Taufan.

Sehingga, kata Taufan, pihaknya belum bisa menyimpulkan apakah kasus pelecehan seksual itu benar-benar terjadi.

"Maka bagaimana kita menyimpulkannya? Belum bisa. Apakah itu benar terjadi atau tidak," lanjut Taufan. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Psikolog Keluarga Putri Candrawathi Tawarkan Hasil Pemeriksaannya, LPSK Menolak

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved