Capres 2024
Pemilih Jokowi Cenderung ke Anies Baswedan Ketimbang Ganjar Pranowo: Ini Surveinya
Efek ekor jas (coattail effect) Presiden Joko Widodo (Jokowi) lebih berpotensi untuk Anies Baswedan ketimbang Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/270722-ganjar-anies-jokowi.jpg)
- Tanpa dukungan Jokowi sebesar 32,1 persen
- Ada dukungan Jokowi menjadi 32,7 persen
Sementara, elektabilitas Prabowo Subianto tanpa dukungan Jokowi sebesar 19,6 persen, dan justru menurun menjadi 18,5 persen jika memperoleh dukungan Jokowi.
Dikutip dari kompas.tv, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Gun Gun Heryanto, mengatakan, Jokowi tidak akan secara terang-terangan menyatakan dukungan pada satu kandidat.
“Saya meyakini sampai 14 Februari 2024 Pak Jokowi tidak akan mention satu nama yang akan didukung,” ujarnya menjelaskan dalam konferensi pers DTS Indonesia, yang digelar secara daring melalui Zoom meeting, Minggu (24/7/2022).
Gun Gun berpendapat, akan sangat berisiko bagi Jokowi jika ia memention nama yang masuk bursa capres.
“Dengan potensi menang kalahnya akan berpengaruh pada kuasa politiknya di masa mendatang.”
Selain itu, tidak adanya pengaruh signifikan dukungan Jokowi pada kandidat, disebutnya karena publik hanya membaca gestur, sehingga tidak terpengaruh dengan kecenderungannya.
Survei itu juga menyebut bahwa elektabilitas Anies Baswedan naik 4 persen pada bulan ini, dari 20,3 persen pada Februari 2022 menjadi 24,6 persen pada Juli 2022.
Selain itu, tren elektabilitas Ganjar Pranowo juga disebut cenderung stagnan di angka 27 persen seperti dalam survei sebelumnya.
Hasil survei juga menyebutkan bahwa pembentukan koalisi dini/awal partai-partai belum berdampak merata kepada elektabilitas anggota koalisi.
Survei ini dilakukan pada 28 Juni sampai dengan 8 Juli 2022, di 34 Provinsi dan mencakup 2.059 responden, margin of error ± 2,16 persen, dan tingkat kepercayaan 95 %.
Metodologi survei menggunakan sampling acak bertingkat (multistage random sampling), dengan memilih kabupaten dan kota secara acak dengan metode PPS (Probability Proportion to Size), dan memilih desa di dalam kabupaten secara acak dan proporsional (terhadap jumlah penduduk). (*)