Rabu, 4 Maret 2026

Capres 2024

Pemilih Jokowi Cenderung ke Anies Baswedan Ketimbang Ganjar Pranowo: Ini Surveinya

Efek ekor jas (coattail effect) Presiden Joko Widodo (Jokowi) lebih berpotensi untuk Anies Baswedan ketimbang Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Pemilih Jokowi Cenderung ke Anies Baswedan Ketimbang Ganjar Pranowo: Ini Surveinya
Kolase TribunGorontalo.com
Ganjar Pranowo-Jokowi dan Anies Baswedan-Jokowi. Efek ekor jas atau coattail effect Presiden Joko Widodo (Jokowi) lebih berpotensi untuk Anies Baswedan ketimbang Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta – Efek ekor jas atau coattail effect Presiden Joko Widodo (Jokowi) lebih berpotensi untuk Anies Baswedan ketimbang Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.

Jajak pendapat terbaru menyebutkan dukungan Jokowi kepada Ganjar Pranowo hanya mengerek kenaikan 1,2 persen elektabilitas.

Sedangkan dukungan Jokowi kepada Anies Baswedan sedikit lebih besar, yakni 1,6 persen atau selisih 0,4 poin persentase elektabilitas.

Pada Pilpres 2019, jumlah perolehan suara Jokowi-Maruf Amin mencapai 85.607.362 atau 55,50 persen suara, sedangkan perolehan suara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebanyak 68.650.239 atau 44,50 persen suara.

Selisih suara kedua pasangan mencapai 16.957.123 atau 11 persen suara. Adapun jumlah pemilih yang berada di dalam ataupun luar negeri mencapai 199.987.870 orang.

Sementara pemilih yang menggunakan hak pilih sebanyak 158.012.506 orang. Dari total suara yang masuk, 3.754.905 suara tidak sah sehingga jumlah suara sah sebanyak 154.257.601 suara.

Bila diasumsikan suara Jokowi-Maruf adalah pendukung Jokowi, artinya ada 1.027.288 pemilih Jokowi yang sumbang suara untuk Ganjar Pranowo.

Begitu juga untuk Anies Baswedan. Pemilih Jokowi menyumbangkan 1.369.717 suara untuk elektabilitas Anies Baswedan

Efek ekor jas (coatail effect) Jokowi untuk Ganjar Prabowo dan Anies Baswedan 0,4 persen atau 342.429 pemilih.

Secara umum dukungan Jokowi terhadap kandidat capres di Pemilu 2024 tidak berpengaruh signifikan terhadap peningkatan elektabilitas calon.

Demikian hasil survei Development Technology Strategy (DTS) Indonesia, yang digelar pada akhir Juni hingga awal Juli 2022.

Ganjar Pranowo

- Tanpa dukungan Jokowi berada pada angka 36 persen

- Ada dukungan Jokowi meningkat menjadi 37,2 persen

Anies Baswedan

- Tanpa dukungan Jokowi sebesar 32,1 persen

- Ada dukungan Jokowi menjadi 32,7 persen

Sementara, elektabilitas Prabowo Subianto tanpa dukungan Jokowi sebesar 19,6 persen, dan justru menurun menjadi 18,5 persen jika memperoleh dukungan Jokowi.

Dikutip dari kompas.tv, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Gun Gun Heryanto, mengatakan, Jokowi tidak akan secara terang-terangan menyatakan dukungan pada satu kandidat.

“Saya meyakini sampai 14 Februari 2024 Pak Jokowi tidak akan mention satu nama yang akan didukung,” ujarnya menjelaskan dalam konferensi pers DTS Indonesia, yang digelar secara daring melalui Zoom meeting, Minggu (24/7/2022).

Gun Gun berpendapat, akan sangat berisiko bagi Jokowi jika ia memention nama yang masuk bursa capres.

“Dengan potensi menang kalahnya akan berpengaruh pada kuasa politiknya di masa mendatang.”

Selain itu, tidak adanya pengaruh signifikan dukungan Jokowi pada kandidat, disebutnya karena publik hanya membaca gestur, sehingga tidak terpengaruh dengan kecenderungannya.

Survei itu juga menyebut bahwa elektabilitas Anies Baswedan naik 4 persen pada bulan ini, dari 20,3 persen pada Februari 2022 menjadi 24,6 persen pada Juli 2022.

Selain itu, tren elektabilitas Ganjar Pranowo juga disebut cenderung stagnan di angka 27 persen seperti dalam survei sebelumnya.

Hasil survei juga menyebutkan bahwa pembentukan koalisi dini/awal partai-partai belum berdampak merata kepada elektabilitas anggota koalisi.

Survei ini dilakukan pada 28 Juni sampai dengan 8 Juli 2022, di 34 Provinsi dan mencakup 2.059 responden, margin of error ± 2,16 persen, dan tingkat kepercayaan 95 %.

Metodologi survei menggunakan sampling acak bertingkat (multistage random sampling), dengan memilih kabupaten dan kota secara acak dengan metode PPS (Probability Proportion to Size), dan memilih desa di dalam kabupaten secara acak dan proporsional (terhadap jumlah penduduk). (*)

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved