Boris Johnson Mundur dari PM Inggris Seusai Skandal Pelecehan hingga Mabuk

Boris Johnson mundur dari Perdana Menteri Inggris setelah koleganya Chris Pincher terkait berbagai skandal seperti pelecehan hingga mabuk-mabukan.

Editor: Lodie Tombeg
Kolase TribunGorontalo.com
Boris Johnson (kanan) mundur dari Perdana Menteri Inggris setelah koleganya Chris Pincher (kiri) terkait berbagai skandal seperti pelecehan hingga mabuk-mabukan. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Boris Johnson mundur dari Perdana Menteri Inggris setelah koleganya Chris Pincher terkait berbagai skandal seperti pelecehan hingga mabuk-mabukan.

Boris Johnson mengumumkan ia mengundurkan diri dari Perdana Menteri Inggris, Kamis (7/7/2022) menyusul skandar pelecehan dan mabuk-mabukan di kediamannya.

Pengumuman pengunduran diri dari Perdana Menteri disampaikan Johnson usai dirinya kehilangan dukungan secara dramatis dari para menteri dan sebagian besar anggota parlemen Konservatif.

Johnson tetap menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris sampai penggantinya dipilih. Dikutip dari Reuters, kepopuleran Johnson menurun drastis, menjadikannya seperti orang 'terbuang'.

Di awal ia menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris pada tiga tahun lalu, Johnson berjanji untuk mewujudkan Brexit dan menyelamatkannya dari perselisihan pahit, buntut dari referendum tahun 2016.

Sejak itu, beberapa anggota Partai Konservatif mendukung Johnson secara antusias.

Sementara anggota yang lain, meskipun keberatan, tetap mendukung Johnson karena mampu menarik sebagian pemilih yang biasanya menolak partai mereka.

Hal itu terbukti pada Desember 2019.

Namun, pendekatan pemerintahan Johnson yang agresif dan sering kacau, serta serangkaian skandal yang mengikutinya, membuat anggota parlemen berpaling.

Sedangkan, jajak pendapat menunjukkan ia tak lagi populer di masyarakat.

Puncak dari skandal Johnson baru-baru ini meletus setelah anggota parlemen, Chris Pincher, diberhentikan karena tuduhan telah melakukan pelecehan terhadap pria di klub pribadi.

Johnson harus meminta maaf karena telah mengetahui bahwa Pincher telah menjadi subjek pengaduan pelecehan seksual di masa lalu.

Kasus Pincher ini menyusul skandal dan kesalahan langkah Johnson lainnya selama berbulan-bulan, termasuk laporan yang memberatkan tentang pesta mabuk-mabukan di kediamannya dan kantornya di Downing Street, dimana kegiatan itu melanggar aturan lockdown Covid-19.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson membuat pernyataan di depan 10 Downing Street di pusat kota London pada 7 Juli 2022.

Ia pun berujung didenda oleh polisi atas pesta ulang tahunnya yang ke-56.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved