Jumat, 6 Maret 2026

Invasi Rusia Jadi Awal PD III, Miliarder George Soros Bicara Peradaban

Invasi Rusia ke Ukraina bisa menjadi titik awal Perang Dunia III pecah. Demikian peringatan miliarder George Soros.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg

TRIBUNGORONTALO.COM - Invasi Rusia ke Ukraina bisa menjadi titik awal Perang Dunia III pecah. Demikian peringatan miliarder George Soros.

Soros pun menilai, jika Perang Dunia III pecah, maka peradaban tak mungkin bertahan.

Ia mengatakan pada Selasa (24/5/2022), perang di Ukraina yang sudah berlangsung sejak 24 Februari, telah mengguncang Eropa hingga ke intinya.

“Rusia menginvasi Ukraina. Ini telah mengguncang Eropa sampai ke intinya,” katanya di tengah Forum Ekonomi Dunia, dikutip dari CNBC.

“Uni Eropa didirikan untuk mencegah hal seperti itu terjadi. Bahkan ketika pertempuran berhenti, seperti yang pada akhirnya harus terjadi, situasinya tidak akan pernah kembali ke status quo ante."

"Memang, invasi Rusia mungkin menjadi awal dari Perang Dunia III, dan peradaban kita mungkin tidak akan bertahan,” lanjutnya.

Mengutip The Guardian, mantan pemilik Hedge Fund ini menilai Eropa sudah merespons perang Ukraina cukup baik.

Namun, ia menilai ketergantungan Eropa pada bahan bakar fosil Rusia tetap berlebihan.

Soros bahkan mengkritik mantan Kanselir Jerman, Angela Merkel.

Ia berpendapat kebijakan Merkel lah yang membuat Eropa sangat bergantung pada bahan bakar fosil Rusia.

“Butuh waktu lama untuk menyelesaikan detailnya, tetapi Eropa tampaknya bergerak ke arah yang benar."

"Mereka telah menanggapi invasi Ukraina dengan kecepatan, persatuan, dan kekuatan yang lebih besar daripada sebelumnya dalam sejarahnya," urainya.

“Tetapi, ketergantungan Eropa pada bahan bakar fosil Rusia tetap berlebihan, sebagian besar karena kebijakan merkantilis yang ditempuh oleh mantan kanselir Angela Merkel."

"Dia telah membuat kesepakatan khusus dengan Rusia untuk pasokan gas dan menjadikan China pasar ekspor terbesar Jerman."

"Itu membuat Jerman menjadi ekonomi berkinerja terbaik di Eropa tetapi sekarang ada harga yang harus dibayar. Ekonomi Jerman perlu direorientasi. Dan itu akan memakan waktu lama," lanjutnya.

Lebih lanjut, Soros mengatakan isu-isu lain yang menyangkut kemanusiaan, seperti pandemi, perubahan iklim, dan menghindari perang nuklir, harus dikesampingkan.

Menurutnya, perang melawan perubahan iklim menempati urutan nomor dua di tengah invasi Rusia ke Ukraina yang sedang berlangsung.

“Namun, para ahli memberi tahu kami bahwa kami telah tertinggal jauh, dan perubahan iklim hampir tidak dapat diubah. Itu bisa menjadi akhir dari peradaban kita,” imbuhnya.

Presiden Zelenksy Pecat Dua Jenderal Ukraina yang Berkhianat.
Presiden Zelenksy Pecat Dua Jenderal Ukraina yang Berkhianat. (Sergei Supinsky/AFP)

Zelensky Tak akan Serahkan Tanah Ukraina pada Rusia

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mengatakan ia tidak akan menyerahkan tanah negaranya sebagai imbalan berakhirnya perang dengan Rusia.

Dilansir Independent, negosiasi damai tidak dapat dilanjutkan sampai Rusia menunjukkan kesediaannya untuk memindahkan pasukan dan peralatannya kembali ke posisi sebelum 24 Februari, yaitu sebelum Vladimir Putin memerintahkan invasi, kata Zelensky dalam pidato video di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Rabu (25/5/2022).

Zelensky mengatakan dia hanya bersedia membahas diakhirinya perang dengan berbicara kepada Putin sendiri dan tidak melalui perantara.

Ia menambahkan bahwa jalan keluar diplomatik dari konflik ini memungkinkan jika presiden Rusia memahami kenyataan.

Ditanya apakah mungkin untuk merundingkan penghentian konflik, Zelensky mengatakan:

"Ukraina tidak akan menyerahkan wilayah kami."

"Kami berjuang di negara kami, di tanah kami."

"Perang sedang diperjuangkan untuk tanah kami, untuk kebebasan kami, untuk kemerdekaan kami, dan untuk masa depan kami," tambahnya.

Pembicaraan selama berbulan-bulan antara negosiator Ukraina dan Rusia hanya menghasilkan sedikit kemajuan, di antaranya berupa kesepakatan tentang koridor kemanusiaan.

Namun kesepakatan itu pun sering diabaikan oleh Rusia.

Negosiator utama Moskow, Vladimir Medinsky mengatakan pada hari Minggu bahwa Rusia siap untuk melanjutkan pembicaraan damai.

Tetapi "persiapan serius" diperlukan sebelum para presiden dapat bertemu, menurut kantor berita milik negara Rusia, Tass.

"Para kepala negara harus bertemu untuk mencapai kesepakatan akhir dan menandatangani dokumen, tetapi tidak untuk mengambil foto," katanya seperti dikutip Tass.

Di sisi lain, diskusi pembicaraan damai justru menimbulkan keretakan di Uni Eropa.

Beberapa negara anggota berusaha untuk menggiring blok tersebut ke arah sikap yang lebih "berdamai" dengan Rusia.

Italia, Hongaria dan Siprus mendesak Uni Eropa untuk menyerukan gencatan senjata dan negosiasi antara negara-negara yang bertikai.

Negara-negara tersebut menempatkan diri mereka bertentangan dengan negara-negara anggota lain yang bertekad untuk tetap berpegang pada pendekatan agresif dengan Moskow menjelang KTT Dewan Eropa minggu depan.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, juga berbicara di Davos pada hari Selasa (24/5/2022).

Ia mengatakan Ukraina harus memenangkan perang, tanpa menyebutkan pembicaraan damai.

Sementara itu, Rusia mengisyaratkan mungkin siap untuk mengakhiri blokade pelabuhan Ukraina yang telah memicu kekhawatiran krisis pangan global.

Wakil menteri luar negeri Rusia, Andrei Rudenko dikutip oleh Interfax mengatakan bahwa Moskow siap untuk menyediakan jalur kemanusiaan yang diperlukan untuk barang-barang yang meninggalkan Ukraina di Laut Hitam.

Meski begitu, pertempuran di Donbas berlanjut pada hari Rabu (25/5/2022).

Pasukan Rusia meningkatkan serangan mereka di dua kota utama di wilayah Luhansk.

Sievierodonetsk dan Lysychansk, kota kembar di sisi berlawanan dari Sungai Donets Siversky, mengalami serangan berat dan dikepung di tiga sisi.

Kejatuhan kota tersebut akan memberi Rusia kendali penuh atas Luhansk – tujuan perang utama Moskow.

Zelensky berkata: "Semua kekuatan yang tersisa dari tentara Rusia sekarang terkonsentrasi pada Donbas."

"Penjajah ingin menghancurkan semua yang ada di sana."

Rusia Rencana Gunakan Senjata Biologis Monkeypox

Seorang mantan Ilmuwan Soviet, Kanat Alibekov mengklaim bahwa Rusia sebelumnya telah mempertimbangkan untuk menggunakan virus cacar monyet (Monkeypox) sebagai senjata biologis hingga setidaknya sampai tahun 1990-an.

Alibekov yang juga dikenal sebagai Kenneth Alibek ini merupakan ahli senjata biologis Uni Soviet hingga kejatuhan negara itu pada 1991.

Setelah jatuhnya Soviet, ia kemudian tinggal di Rusia selama setahun sebelum akhirnya pindah dan menetap di Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari laman Wion, Rabu (25/5/2022), dalam wawancara pada 1998 yang baru-baru ini ditemukan dengan Proyek Nonproliferasi Senjata Kimia dan Biologi Amerika (CBWNP), Alibekov yang diduga mengawasi 32.000 karyawan di lebih dari 40 fasilitas, mengklaim bahwa negara Soviet memiliki program untuk menggunakan virus sebagai senjata.

"Jadi, kami mengembangkan program khusus untuk menentukan virus 'model' apa yang dapat digunakan sebagai pengganti cacar manusia. Kami menguji virus vaccinia, virus cacar tikus, virus cacar kelinci, dan virus cacar monyet sebagai model untuk cacar," kata Alibekov.

Idenya adalah bahwa semua pekerjaan penelitian dan pengembangan akan dilakukan menggunakan virus model ini.

"Setelah kami memperoleh serangkaian hasil positif, hanya perlu waktu dua minggu untuk melakukan manipulasi yang sama dengan virus cacar dan untuk menimbun agen perang. Di gudang senjata kami, kami akan memiliki virus cacar yang diubah secara genetik yang dapat menggantikan senjata sebelumnya," tegas Alibekov.

Lebih lanjut ia menyebut bahwa setelah berakhirnya Uni Soviet, penerus Kementerian Pertahanan Rusia terus bekerja menggunakan Monkeypox untuk 'menciptakan senjata biologis masa depan'.

Pada tahun yang sama, ia pun dibawa ke hadapan sidang Kongres AS, di mana dirinya menyampaikan bahwa ia yakin program senjata biologis Rusia belum sepenuhnya dibongkar.

Monkeypox kali pertama diidentifikasi pada 1950-an, saat dua wabah terjadi di koloni monyet yang digunakan untuk tujuan penelitian, dengan kasus manusia pertama dilaporkan pada 1970 di Republik Demokratik Kongo.

Penyakit ini sering disamakan dengan bentuk cacar yang lebih ringan, penyakit yang telah diberantas secara global melalui vaksinasi secara meluas terhadap virus cacar. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Miliarder George Soros: Invasi Rusia Bisa Jadi Awal PD III, Peradaban Tak Mungkin Bertahan

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved