Konflik Rusia Vs Ukraina

Presiden Vladimir Putin Pecat Dua Jenderalnya, Ini Penyebabnya

Hampir tiga bulan operasi militer Rusia di Ukraina tak kunjung membuahkan hasil seperti yang diinginkan.

Editor: Lodie Tombeg
RAMIL SITDIKOV/kompas.com
Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan pidato pada konser yang menandai ulang tahun kedelapan pencaplokan Krimea oleh Rusia di stadion Luzhniki di Moskow pada Jumat (18/3/2022). 

Pada April 2022 lalu, Vladimir Putin juga menganti komandan perangnya di Ukraina.
Kala itu, Putin dilaporkan memasang Jenderal Alexander Dvornikov sebagai pemimpin senior dalam penyerangan ke Ukraina.

Namun tidak disebutkan siapa komandan perang sebelumnya di Ukraina.
Dvornikov sebelumnya memimpin penyerangan Rusia di Suriah.

Sebuah sumber dari BBC mengungkapkan tentang perubahan kepemimpinan tersebut.

“Komandan saat ini memiliki banyak pengalaman terkait operasi Rusia di Suriah,” ujar sumber itu.
“Jadi kami memperkirakan, secara keseluruhan akan ada peningkatan terhadap kontrol dan komando,” tambahnya.

Perubahan ini diyakini karena Putin mengingnkan agar kesuksesan penyerangan di Ukraina bisa sesuai target yaitu pada 9 Mei nanti.

Sumber tersebut mengungkapkan bahwa perubahan komando itu dilakukan Putin untuk meningkatkan koordinasi antara berbagai unit.

Rusia melancarkan serangan ke Ukraina, dengan apa yang disebut Putin sebagai 'operasi militer khusus' pada 24 Februari lalu.

Rusia Sebut 1.730 Tentara Ukraina di Pabrik Baja Azovstal Mariupol Menyerah

Tangkapan layar ini diperoleh dari video selebaran yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Rusia pada 17 Mei 2022, menunjukkan anggota layanan Ukraina saat mereka digeledah oleh personel militer pro-Rusia setelah meninggalkan pabrik baja Azovstal yang terkepung di kota pelabuhan Mariupol, Ukraina. - Rusia mengatakan total 1.730 tentara Ukraina di pabrik baja Azovstal menyerah.

“Jadi kita melihat bahwa di bulan ketiga perang skala penuh, Rusia sedang mencoba untuk menemukan 'senjata ajaibnya' … ini semua dengan jelas menunjukkan kegagalan total misi.”

Hampir tidak ada yang diketahui publik tentang Zadira tetapi pada tahun 2017 media Rusia mengatakan perusahaan nuklir negara Rosatom membantu mengembangkannya sebagai bagian dari program untuk menciptakan prinsip-prinsip fisik baru berbasis senjata.

Invasi ke Ukraina telah menggambarkan batas-batas angkatan bersenjata konvensional Rusia pasca-Soviet, meskipun Putin mengatakan "operasi militer khusus" akan direncanakan.

Pernyataan Borisov menunjukkan Rusia telah membuat kemajuan signifikan dengan senjata laser, tren yang menarik bagi kekuatan nuklir lain seperti Amerika Serikat dan China.

Menggunakan laser untuk membutakan satelit pernah menjadi fantasi dari dunia fiksi ilmiah, tetapi Amerika Serikat, Cina, dan Rusia telah mengerjakan varian senjata semacam itu selama bertahun-tahun.

Selain manfaat membakar drone, sistem pengintaian yang menyilaukan memiliki dampak strategis juga karena satelit digunakan untuk memantau rudal balistik antarbenua yang membawa senjata nuklir.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved