Gorontalo Hadapi PMK

Mengenal Wabah Sapi yang Bikin Peternak Gorontalo Ketakutan

Sebetulnya, wabah ini disebut tidak mematikan bagi hewan ternak yang sudah dewasa. Namun, bagi hewan yang masih muda, PMK bisa menjadi sangat serius..

Penulis: Risman Taharuddin | Editor: Wawan Akuba
TribunGOrontalo.com/AgungPanto
Peternak Sapi di Biyonga, Kabupaten Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) disebut juga wabah sapi. Hal itu karena memang penyakit ini lebih banyak menyerang sapi. 

Penyakit ini disebabkan oleh virus yang sangat menular. Dikutip dari kompas.com, gejala yang paling tampak adalah demam, blister di mulut dan kaki hewan ternak, dan air liur kental. Hewan ternak yang bisa terkena wabah PMK antara lain sapi, kerbau, unta, kambing, domba, rusa, dan babi. 

Sebetulnya, wabah ini disebut tidak mematikan bagi hewan ternak yang sudah dewasa. Namun, bagi hewan yang masih muda, PMK bisa menjadi sangat serius dan menimbulkan kerugian produksi yang sangat tinggi.

Penyebab wabah PMK disebabkan oleh Aphthovirus dari famili Picornaviridae. Terdapat tujuh serotipe virus yang sudah terdeteksi, yaitu A, O, C, SAT1, SAT2, SAT3, dan Asia1. Semua serotipe tersebut menjadi endemi di negara yang berbeda-beda di seluruh dunia.

Setiap negara membutuhkan vaksin yang berbeda untuk hewan ternaknya spesifik sesuai dengan serotipe yang ada di negara tersebut.

Menurut World Organisation for Animal Health, wabah PMK diperkirakan menyebar pada sekitar 77 persen populasi hewan ternak di Afrika, Timur Tengah, Asia, dan sebagian Amerika Selatan.

Virus ini dengan mudah menular melalui napas, air liur, mukus, susu, dan feses. Pengaruh PMK terhadap ternak PMK adalah penyakit yang sangat menyiksa bagi sapi dan hewan ternak lainnya.

Blister atau kantung besar berisi air yang berkembang di kulit, jika pecah akan meninggalkan luka terbuka yang sangat perih.

Bahkan luka ini membutuhkan waktu hingga 10 hari untuk sembuh. Jika luka ini terjadi di bagian kaki, maka akan membuat sapi sulit berjalan menuju tempat makan. Selain itu, luka pada mulut akan membuat sapi tidak mau makan dan minum.

Sapi dewasa mungkin akan mulai makan setelah beberapa hari. Namun, sapi atau hewan ternak lain yang masih muda akan mati lemas akibat tidak mendapatkan asupan yang cukup selama sakit. 

Dilansir dari Agriculture Victoria, PMK tidak dianggap sebagai masalah kesehatan bagi manusia karena penularan dari hewan ke manusia sangat jarang ditemukan.

Namun, manusia bisa membawa virus tetap hidup di hidungnya selama 24 jam dan menularkannya kepada hewan lainnya. PMK dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Foot and Mouth Disease (FMD) sehingga sering salah dikira sama dengan Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau flu singapura yang banyak menyerang anak-anak.

Padahal keduanya adalah penyakit yang berbeda dan berasal dari virus yang berbeda.

Data Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo menyatakan penyakit mulut dan kuku (PMK) belum mewabah di Gorontalo. Namun Kristina Dwi Wulandari, dokter hewan di balai tersebut meminta agar masyarakat segera melapor ke pihak terkait jika melihat sapi yang mengalami gejala PMK. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved