Massa Aksi Papua Sebut DPRD Kota Gorontalo Tidak Sopan Pada Anak Negeri
Kekecewaan massa aksi tergambarkan saat orasi yang dilangsungkan, sebab Ketua DPRD Kota Gorontalo tak kunjung hadir saat audiensi.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Kekecewaan massa aksi tergambarkan saat orasi yang dilangsungkan, sebab Ketua DPRD Kota Gorontalo tak kunjung hadir saat audiensi.
Wenda, selaku orator mengatakan, mahasiswa Papua menjadi bagian dari masyarakat Gorontalo, ditutupnya pintu gerbang gedung DPRD menjadi bukti adanya pembungkaman ruang demokrasi.
"Kehadiran mahasiswa papua ini hanya untuk konfirmasi, sejauh mana DPRD menindak lanjuti janjinya kepada kami, terkait aksi yang dilaksanakan dua minggu kemarin," tutur Wenda.
Kalau begini jadinya, kata dia, bisa dikatakan Ketua DPRD Kota Gorontalo tidak mampu serta tidak sopan dengan anak negeri.
Wenda mengakui kecewa. Ia menuturkan ketua DPRD tidak mampu mengurusi masalah dan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat serta fungsi DPRD saat ini sudah hilang.
"Kami datang kesini tidak meminta uang, bahkan orang Papua sebagai penyumbang uang terbesar untuk negara ini. Freport datang menjamin 24 negara di belahan dunia ini. Kita dibunuh hanya untuk mengamankan investasi para investor," tegasnya.
Ia mengungkapkan, orang Papua tidak meminta sepeserpun saham.
"Namun hargai kami sebagai layaknya manusia. Sehingga kami menolak adanya pembunuhan-pembunuhan dan intimidasi yang sangat luar biasa," ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, jika Ketua DPRD tidak menemui massa aksi. Maka seluruh massa akan bertahan hingga pagi di ruas jalan depan kantor DPRD.
Wenda menilai, anggota DPRD Kota Gorontalo tidak becus duduk dibangku jabatannya sebagai perwakilan rakyat.
"Kami menilai semua aspirasi yang kami sampaikan semuanya sia-sia sebab demo dan aksi demonstrasi yang disampaikan mahasiswa papua pasti berujung pembungkaman," kata dia.
Baca juga: Mahasiswa Papua di Gorontalo Demo Tolak Daerah Otonomi Baru
Menurutnya, orang Papua tidak layak menjadi bagian dari negara ini. Sebab DPRD RI telah membagi-bagi tanah papua. Serta dihabisi luar biasa seperti itu dan ini desain negara.
"Orang papua akan tetap berjuang sampai papua merdeka, kami yang disini bukan kelompok teroris seperti lainnya tapi kami adalah milisi sayap atau pejuang papua merdeka," imbuhnya.
KKB hadir sebagai wujud kekecewaan dan frustasi dengan keadaan terhadap Negara ini, tetapi itu bukan versi kami.
"Kami hadir menyuarakan merdeka secara terang-terangan dan terbuka tidak seperti mereka. Kita akam terus berjuang walaupun adanya pembungkaman suara di Gorontalo," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Mahasiswa-Berorasi-di-depan-DPRD-Kota-Gorontalo.jpg)