Kamis, 5 Maret 2026

Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Berterima Kasih ke Megawati

Pelantikan Presiden Korea Selatan yang baru, Yoon Suk Yeol pada Selasa (10/5/2022). Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Berterima Kasih ke Megawati
Kompas.com
Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri saat menghadiri pelantikan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol, Selasa (10/5/2022).(Dokumentasi PDI-P) Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri saat menghadiri pelantikan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol, Selasa (10/5/2022). 

Sama halnya seperti Donald Trump, nama Yoon Suk Yeol melesat karena bukan bagian dari sistem politik yang berakar urat di Korsel.

Rakyat Korsel yang jenuh dan muak dengan para politisi terpikat dengan sosok Yoon Suk Yeol yang menjadi alternatif politik di tengah dahaga politik akan sosok baru. Trump dan Yoon Suk Yeol sama-sama mewakili ideologi konservatif.

Kedua politisi ini tidak segan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang memicu kontroversi. Yoon Suk Yeol menjadi sorotan setelah berkali-kali menyampaikan posisi politik yang mengernyitkan dahi publik termasuk pendukungnya.

Jaksa berusia 61 tahun itu sempat blunder dengan berkata, rakyat Korsel yang miskin sebaiknya mengonsumsi makanan yang berkualitas lebih rendah karena harganya terjangkau.

Yoon Suk Yeol juga pernah menuai kritik pedas dari kaum liberal setelah menyatakan, gerakan feminis adalah penyebab utama rendahnya angka kelahiran di Korsel.

Suami Kim Kun-hee ini bahkan mengatakan, perempuan Korsel tidak mengalami diskriminasi sistematis lalu berjanji akan menghapuskan Kementerian Wanita dan Persamaan Gender.

Korsel yang memiliki budaya patriarki kuat selalu menduduki urutan terendah dalam isu persamaan gender.

Namun kontroversi-kontroversi itu tidak membuat Yoon Suk Yeol kehilangan dukungan. Malahan seperti Donald Trump, pendukung Yoon terutama pemilih muda pria semakin berapi-api mendukungnya.

Hasil pilpres Korsel 2022 menunjukan 58,7 persen pemilih pria berusia 20-an memilihYoon Suk Yeol. Sebaliknya, 58 persen pemilih perempuan berusia 20-an memilih rivalnya yaitu mantan gubernur Gyeonggi, Lee Jae Myung.

Yoon Suk Yeol dan Trump berhasil memobilisasi pendukung mereka, salah satunya dengan menggencarkan isu perang gender. Menurut keduanya, gerakan sayap kiri liberal feminis mengancam masa depan negara. Yoon Suk Yeol juga memuji pemimpin diktator seperti yang sering diucapkan Trump.

Lulusan universitas bergengsi Seoul National University (SNU) ini terpaksa meminta maaf setelah memuji mantan presiden Korsel Chun Doo Hwan. Chun adalah mantan diktator yang memerintah Korsel dengan tangan besi dari 1980 hingga 1988.

Rezimnya bertanggung jawab terhadap sejumlah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat, termasuk pembantaian warga sipil di kota Gwangju. Yoon Suk Yeol dalam kampanyenya juga sering merendahkan warga asing dan kaum minoritas seperti yang kerap dilakukan Trump.

Kontroversi-kontroversi itu tidak menghalangi langkah Yoon Suk Yeol menuju Blue House, istana kepresidenan Korsel.

Pemilih Korsel menilai Yoon Suk Yeol adalah sosok yang jujur, adil, dan dapat dipercaya di tengah merebaknya skandal demi skandal korupsi, kolusi, dan nepotisme di pemerintahan Presiden Moon Jae In.

Sepanjang kariernya sebagai jaksa, Yoon Suk Yeol telah mengusut dan memenjarakan nama-nama besar tanpa pandang bulu, termasuk dua mantan presiden dari partainya sendiri yakni Lee Myung Bak dan Park Geun Hye.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved