Lebaran Ketupat Gorontalo

Kapan Pertama Kali Perayaan Ketupat di Gorontalo?

Setiap tahun kawasan kampung Jawa di Kabupaten Gorontalo, menjadi tujuan masyarakat dalam merayakan tradisi Lebaran Ketupat.

Penulis: Wawan Akuba | Editor: Fajri A. Kidjab
TribunGorontalo.com
Masyarakat Gorontalo turut meramaikan lebaran ketupat di Kampung Jawa 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Setiap tahun kawasan kampung Jawa di Kabupaten Gorontalo, menjadi tujuan masyarakat dalam merayakan tradisi Lebaran Ketupat.

Perayaan ini biasanya digelar pada 8 Syawal atau satu minggu setelah lebaran Idul Fitri.

Lalu, tahukah kamu kapan pertama kalinya tradisi ini dirayakan di Gorontalo?

Dalam jurnal yang ditulis oleh Muh Arif dan Melki Y Lasantu menyebutkan, jika perayaan lebaran ketupat di Gorontalo dimulai sejak keturunan Jawa-Tondano (Jaton) bermigrasi ke Gorontalo pada 1900-an. 

Masyarakat berbondong-bondong pergi ke Kampung Jawa
Masyarakat Gorontalo berbondong-bondong pergi ke Kampung Jawa untuk menyaksikan tradisi lebaran ketupat, Senin (9/5/2022).

Jurnal berjudul Nilai Pendidikan Dalam Tradisi Lebaran Ketupat Masyarakat Suku Jawa Tondano di Gorontalo itu menyebut, para keturunan Jaton itu migrasi dari Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut). 

Mereka kini tersebar di Desa Kaliyoso Kecamatan Dungaliyo, lalu di Roksonegoro, Kecamatan Tibawa, Mulyonegoro di Kecamatan Pulubala, dan Yosonegoro di Kecamatan Limboto Barat. Empat desa ini berada di Kabupaten Gorontalo. 

Baca juga: Breaking News: Masyarakat Gorontalo Berburu Ketupat, Begini Kondisi Lalu Lintas Kampung Jawa

“Pada perayaan ini, umumnya masyarakat menyediakan makanan yang terbuat dari beras seperti ketupat, lontong, soto ataupun coto makassar, serta beberapa menu sajian khas lainnya seperti nasi bulu (nasi lemak yang dimasak didalam bambu), dodol, kue mendut, serabi, koa, daging ayam dan sapi,” tulis keduanya dalam jurnalis tersebut.

Mereka menyebut, sebelum nanti dibagikan kepada masyarakat, makan-makanan tersebut sebelumnya didoakan di Masjid.

Karena itu, lebaran ketupat ini tidak hanya dimeriahkan oleh masyarakat Gorontalo, namun juga oleh masyarakat pendatang dari daerah lain, misalnya Manado, Bitung, Palu, serta Makassar. 

Warga keturunan Jaton ini disebut sebagai keturunan Kiai Modjo atau beberapa menyebut Kyai Modjo dan Kyai Madja  yang pada 1829 diasingkan oleh Belanda ke tepi Danau Tondano.

Letaknya di tengah-tengah Minahasa di jazirah utara pulau Sulawesi. Daerah ini juga menjadi daerah asal dari Pasukan Tulungan pimpinan Mayor Dotulong pada akhir Perang Jawa (1825-1830).

Basri Amin, Sosiolog Universitas Negeri Gorontalo mengungkapkan, bahwa lebaran ketupat di Gorontalo sebetulnya tidak bisa lepas dari “Kampung Jawa”. Meski sebelumnya lebaran ini sudah menjadi tradisi panjang di banyak komunitas Islam.

Lebaran ketupat kata dia memiliki nilai kearifan lokal yang mengakar dan kuat, serta senantiasa terjaga dalam bertetangga dan bermasyarakat.

Hal itu mengandung pesan moral sebagai kerendahan hati dengan berjiwa sosial. (*)

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved