Lebaran Ketupat Gorontalo

Masyarakat Gorontalo Berburu Ketupat, Begini Kondisi Lalu Lintas Kampung Jawa

Nurain Lapolo kepada TribunGorontalo.com mengungkapkan, jika mobil yang ia kendarai nyaris terjebak macet. Beruntung ia berangkat sejak pagi hari dari

Penulis: Wawan Akuba | Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com
Ilustrasi Tugu Ketupat Kampung Jawa. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Sejak Senin pagi (9/5/2022) lalu lintas di kawasan kampung Jawa Kabupaten Gorontalo, mulai terpantau macet.

Motor dan mobil memadati kawasan ini karena menjadi pusat perayaan tradisi Lebaran Ketupat. 

Nurain Lapolo kepada TribunGorontalo.com mengungkapkan, jika mobil yang ia kendarai nyaris terjebak macet.

Beruntung ia berangkat sejak pagi hari dari Kwandang, Gorontalo Utara menuju Kota Gorontalo. 

“(Kami) belum terjebak macet. Mungkin karena masih pagi. Hanya saja suasana jalanan berbeda dari biasanya. Biasanya di jam 9.00 pagi, tidak rame jalanan. Ini sudah rame,” ungkap Nurain melalui pesan Whatsapp. 

Ia menuturkan, kemacetan mulai terjadi di sepanjang Jalan Trans Sulawesi tepatnya di Isimu Raya, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo.

Titik kemacetan itu lalu mengular hingga Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo. 

Bahkan, “Jalan GORR (Gorontalo Outer Ring Road) yang biasanya sepi, so jadi rame kendaraan lalu lalang. Berpotensi macet,” tegas direktur JAPESDA Gorontalo tersebut. 

Memang, diketahui sudah bertahun-tahun masyarakat Gorontalo menjadikan kawasan kampung Jawa di Kabupaten Gorontalo, sebagai tujuan para perayaan Lebaran Ketupat. 

Menurut sejarah, perayaan Lebaran Ketupat di Gorontalo ini pertama kali digelar oleh masyarakat Jawa Tondano (Jaton) sejak kedatangan mereka pada 1909. 

Mereka diketahui adalah transmigran dari Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Mereka tersebar di Desa Kaliyoso, Roksonegoro, Mulyonegoro, dan Yosonegoro. Desa-desa itu secara administrasi berada di Kabupaten Gorontalo. 

Sementara itu, Lebaran Ketupat di Gorontalo tahun ini digelar pada hari ini 9 Mei 2022. Ketupat sendiri adalah lebaran yang digelar satu minggu setelah Lebaran Idul Fitri atau biasanya pada 8 Syawal. Lebaran yang memang tradisi masyarakat Jawa ini digelar setelah menyelesaikan puasa selama 6 hari setelah lebaran Idul Fitri.

Dalam sejarahnya, Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Saat itu ia memperkenalkan dua istilah Bakda. Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. 

Bakda Lebaran dipahami dengan prosesi pelaksanaan shalat Ied satu Syawal hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan sesama muslim, sedangkan Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. 

Dikutip dari Nu Online, pada hari itu, masyarakat muslim Jawa umumnya membuat ketupat, yaitu jenis makanan yang dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa (janur) yang dibuat berbentuk kantong, kemudian dimasak.

“Setelah masak, ketupat tersebut diantarkan ke kerabat terdekat dan kepada mereka yang lebih tua, sebagai simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang,” sebagaimana ditulis oleh Dito Alif Pratama dalam situs NU Online. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved