Kamis, 5 Maret 2026

Sering Menunda Kencing Bisa Picu Infeksi Saluran Kemih, Ketahui Gejala dan Pencegahannya

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan penyakit yang terjadi ketika organisme mikroskopis berbahaya memasuki saluran kemih.

Tayang:
zoom-inlihat foto Sering Menunda Kencing Bisa Picu Infeksi Saluran Kemih, Ketahui Gejala dan Pencegahannya
Hellosehat
Ilustrasi menahan kencing 

TRIBUNGORONTALO.COM - Sudah menjadi rahasia umum, bagi pegawai kantoran kerap menahan kencing, karena beberapa alasan mendasar. Seperti toilet yang jauh dari tempat duduk, atau disibukkan pekerjaan yang mesti diselesaikan secepatnya.

Apabila anda sering melakukan ini, waspadalah terkena infeksi saluran kemih.

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan penyakit yang terjadi ketika organisme mikroskopis berbahaya memasuki saluran kemih.

Organisme yang menyebabkan penyakit ini bisa berupa jamur dan virus, tetapi sebagian besar karena bakteri.

Umumnya secara alami, bakteri itu bisa dikeluarkan oleh tubuh, tetapi kondisi tertentu membuat bakteri itu tidak hilang dan justru berkembang menjadi infeksi saluran kemih.

Gejala infeksi saluran kemih

Mengutip CDC, gejala infeksi saluran kemih bisa dialami oleh orang dengan berbagai usia, sebagai berikut: Rasa sakit atau sensasi terbakar saat kencing (disuria).

- Perlu buang air kecil lebih sering dari biasanya

- Urin yang terlihat keruh.

- Rasa perlu kencing tiba-tiba atau lebih mendesak dari biasanya.

- Kencing lebih sering dari biasanya.

- Urin berdarah.

- Kram di selangkangan atau perut bagian bawah.

- Demam.

- Panas tinggi.

- Sakit perut bagian bawah atau sakit di punggung, tepat di bawah tulang rusuk.

- Mual atau muntah.

Baca juga: Penyebab Kebanyakan Kecelakaan Pemudik, Ketahui Microsleep dan Pencegahannya

Anak-anak yang lebih kecil mungkin tidak dapat memberi tahu orangtua tentang gejala infeksi saluran kemih yang ia alami.

Demam adalah salah satu gejala infeksi saluran kemih, tetapi tidak semua anak demam dikonfirmasi menderita penyakit ini.

Sehingga, dianjurkan untuk berkonsultasi langsung dengan dokter ketika muncul tanda-tanda yang dicurigai.

Mengutip Verywell Health, infeksi saluran kemih dapat terjadi di bagian manapun dari sistem kemih, termasuk kandung kemih, ginjal, ureter, dan uretra.

Sebagian besar ISK mempengaruhi kandung kemih dan uretra, yaitu saluran kemih bagian bawah. Sementara, beberapa bakteri yang paling sering dikaitkan dengan infeksi kandung kemih adalah Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, dan Proteus mirabilis.

Mengutip NHS, bakteri masuk melalui saluran yang membawa kencing keluar dari tubuh (uretra).

Wanita memiliki uretra yang lebih pendek dari pada pria. Sehingga, membuat bakteri lebih mungkin mencapai kandung kemih atau ginjal dan menyebabkan infeksi saluran kemih.

Mencegah infeksi saluran kemih

Mengutip Medical News Today, infeksi saluran kemih bisa dicegah dengan beberapa tindakan yang dibiasakan, salah satunya adalah tidak sering menahan kencing.

Menahan kencing dapat meningkatkan jumlah bakteri di kandung kemih, sehingga meningkatkan kemungkinan berkembangnya infeksi saluran kemih.

Kemudian, sering menahan kencing dapat menyebabkan urin kembali ke ginjal, akibatnya bisa merusak ginjal dan kandung kemih.

Ada juga kemungkinan kandung kemih pecah karena retensi urin, meski hal itu jarang terjadi.

Peningkatan tekanan pada kandung kemih menyebabkannya bisa pecah, jika ada area yang lemah di dindingnya.

Jika tidak diperiksakan dan menahan kencing masih dibiasakan, maka robekan (ruptur) kandung kemih dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam nyawa, yaitu sepsis, yang melibatkan infeksi parah dan gagal ginjal.

Mengutip NHS, selain jangan suka menahan kencing, berikut juga cara yang bisa dilakukan untuk mencegah berkembangnya infeksi saluran kemih:

- Jangan terburu-buru saat kencing.

- Cobalah untuk mengosongkan kandung kemih sepenuhnya.

- Jangan gunakan sabun beraroma untuk area genital.

- Jangan memakai pakaian dalam sintetis yang ketat, seperti nilon.

- Jangan banyak minum minuman beralkohol, karena dapat mengiritasi kandung kemih.

- Jangan gunakan kondom dengan pelumas spermisida, cobalah pelumas non-spermisida atau jenis kontrasepsi lain.

- Jangan cebok dari bagian belakanag ke depan.

- Menjaga area genital bersih dan kering (tidak lembab).

- Kencinglah sesegera mungkin setelah berhubungan seks.

- Segera ganti popok atau pembalut inkontinensia jika kotor.

- Bersihkan kulit di sekitar vagina dengan air sebelum dan sesudah berhubungan seks. (*)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved