Kamis, 12 Maret 2026

Kenali FOMO, Kecanduan Media Sosial Yang Kerap Dianggap Biasa

Facebook, Twitter, dan Instagram merupakan sebagian kecil ruang komunikasi bagi manusia di seluruh dunia, tanpa mengenal batas waktu dan ruang.

Tayang:
zoom-inlihat foto Kenali FOMO, Kecanduan Media Sosial Yang Kerap Dianggap Biasa
istock.com
Ilustrasi media sosial 

TRIBUNGORONTALO.COM - Pesatnya perkembangan sosial media beberapa dekade terakhir menumbuhkan sebuah medium baru bagi terciptanya interaksi antar manusia.

Facebook, Twitter, dan Instagram merupakan sebagian kecil ruang komunikasi bagi manusia di seluruh dunia, tanpa mengenal batas waktu dan ruang.

Pesatnya pertumbuhan sosial media juga berdampak bagi kesehatan mental penggunanya. Penelitian membuktikan hubungan antara penggunaan media sosial dengan kesehatan mental.

Salah satunya yaitu dampak media komunikasi bagi kaum muda yang kemungkinan merugikan, perlu dicermati secara saksama.

Adiksi terhadap media sosial memunculkan fenomena baru yang dikenal dengan fear of missing out (FOMO).

Ini merupakan keadaan di mana kita menginkan untuk terus terhubung dengan internet agar tidak ketinggalan tren.

Rizqa Nailah, Teman Manusia Asa, menceritakan kisahnya menghadapi FOMO dengan segala ketakutan yang ia alami dalam siniar Anyaman Jiwa bertajuk "Ceritaku Saat Merasakan FOMO".

FOMO jika di Indonesia juga akrab dikenal dengan kecanduan media sosial. FOMO dikaitkan dengan penggunaan media sosial yang intensif.

Melansir Australian Psychology Society, secara umum FOMO menyebabakan rasa cemas dan perasaan rendah diri. Terlebih lagi, FOMO umumnya terjadi pada usia 18 hingga 33 tahun.

Hal ini juga dikaitkan dengan perasaan lebih rendah dari sisi kualitas hidup.

Platform media sosial rentan akan rusaknya kesehatan mental karena mempromosikan ekspektasi yang tidak masuk akal.

Survei menemukan bahwa sekitar dua per tiga orang dalam kelompok usia ini mengaku mengalami FOMO secara teratur.

Baca juga: Karyawan Swasta Ini Dipecat Gara-gara Minta THR

Munculnya media sosial menjadikan FOMO sebagai masalah besar, terutama bagi kaum muda yang selalu mengikuti unggahan teman-teman mereka.

Ketika anak muda melewatkan acara pesta temannya, atau tidak pergi berlibur dengan keluarga, mereka bisa merasa sedikit kurang keren dari teman-teman yang melakukannya.

Salah satu cara bagi remaja untuk mengatasi FOMO adalah dengan mempraktikkan reframing, yakni latihan mental yang dirancang untuk membantu mereka melihat situasi secara berbeda.

Berikut adalah beberapa cara agar kamu bisa reframing atau membingkai ulang pemikiran tersebut.

Lacak Pikiran Negatif Salah satu hal yang dapat dilakukan remaja untuk mengatasi FOMO adalah melacak pikiran dan perasaan negatif dalam jurnal.

Hal ini memungkinkan mereka untuk mengamati seberapa sering mereka merasa rendah diri.

Kuncinya adalah mencatat apa yang dilakukan ketika pemikiran negatif itu muncul.

Kemudian, analisis jurnal dan tentukan apakah ada kebiasaan atau pola pikir yang perlu diubah untuk merasa lebih baik?

Batasi Pemakaian Gawai Rehat sejenak dari media sosial merupakan cara ampuh untuk menghadapi FOMO.

Kamu bisa melakukan hal lain sepenuhnya seperti membaca buku, memberi perubahan pada teman, atau membuat kue, dan segala lain yang bisa mendistraksi kamu dari media sosial.

Dengan melakukan ini, diharapkan tidak terpaku pada layar dan lebih produktif jika hanya memeriksa media sosial pada waktu tertentu.

Baca juga: Anda Terlalu Sering Posting Diri Sendiri di Medsos? Mari Kenali Gejala Anxiety

Melatih Mindfulness Mindfulness adalah latihan di mana orang tersebut belajar untuk sangat fokus pada apa pun yang mereka lakukan saat ini.

Mindfulness juga diartikan sebagai suatu kesadaran yang dihadirkan dengan sengaja seperti keterbukaan, kepedulian, dan penilaian baik.

Misalnya, saat orang berendam di sebuah bak mandi, maka akan fokus pada suhu air, dan wangi minyak esensial yang ditaburkan ke dalam bak mandi.

Dengan kata lain, mereka sangat fokus sehingga tidak ada ruang bagi mereka untuk khawatir dan merasa cemas. Dalam keseharian contoh FOMO yang sering ditemukan adalah perasaan gelisah ketika tahu akan pencapaian orang lain.

Merasa iri karena orang lain lebih sibuk dari kita, atau merasa tertinggal jika kita tidak mampu mencapai apa yang telah orang lain capai.

Membandingkan diri dengan pencapaian orang lain hanya akan membebani diri sendiri.

Jika kamu sedang berada dalam tahap FOMO dan mulai kehilangan arah, cobalah untuk bertanya pada diri sendiri apakah dengan menjadi diri kamu yang saat ini masih saja kurang? Cobalah untuk terkoneksi dengan diri sendiri meski susah, karena terkoneksi dengan diri sendiri jauh lebih susah dibanding terkoneksi dengan orang lain. (*)

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved