Jenderal Dvornikov Dikhawatirkan Membuat Perang Ukraina Lebih Berdarah

Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan menunjuk Jenderal Alexander Dvornikov untuk memimpin perang Rusia di Ukraina.

Editor: Lodie Tombeg
kompas.com
Jenderal Alexander Dvornikov 

TRIBUNGORONTALO.COM, Moskow – Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan menunjuk Jenderal Alexander Dvornikov untuk memimpin perang Rusia di Ukraina. Kebijakan ini dikhawatirkan akan membuat invasi negeri Beruang Merah lebih berdarah.

Penunjukan Dvornikov sebagai komandan baru di Ukraina terjadi di tengah reorganisasi untuk menyatukan struktur komando militer dan mengubah taktik perangnya.

Sejumlah pejabat senior Barat, yang tidak disebutkan namanya, mengatakan kepada The New York Times dan BBC bahwa Dvornikov dipilih untuk mengawasi pasukan Rusia yang tidak terkoordinasi dengan baik yang telah mendapat perlawanan keras dari pasukan Ukraina.

Dilansir United Press International (UPI), Dvornikov sebelumnya menjabat sebagai komandan distrik militer selatan Rusia.

Di sisi lain, Rusia belum mengonfirmasi perubahan kepemimpinan militernya atas invasinya ke Ukraina.

Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada The New York Times bahwa pasukan Rusia kesulitan mencapai tujuan militernya di Ukraina, contohnya merebut Kiev.

Pejabat tersebut menambahkan, kesulitan itu salah satunya disebabkan karena pasukan Rusia diperintah dari Moskow, tanpa pemimpin sentral di medan perang.

Pejabat senior yang berbicara dengan BBC mengonfirmasi bahwa setiap unit Rusia sebelumnya telah diperintahkan secara terpisah. Dvornikov sekarang akan menyatukan pasukan Rusia di bawah seorang komandan pusat di Ukraina.

"Komandan itu memiliki banyak pengalaman operasi operasi Rusia di Suriah. Jadi kami berharap komando dan kontrol secara keseluruhan meningkat," kata sumber itu kepada BBC.

Dvornikov dijuluki sebagai "Jagal Suriah" dan salah satu jenderal favorit Presiden Rusia Vladimir Putin. Penunjukkan Dvornikov telah menimbulkan kekhawatiran bahwa perang di Ukraina akan menjadi lebih berdarah.

Dvornikov menjadi terkenal pada 2015 karena memerintahkan pengeboman di Aleppo yang menewaskan ribuan orang termasuk 200 anak-anak, The Telegraph mencatat. Dia juga membantu mengembangkan strategi Rusia untuk menargetkan infrastruktur sipil seperti toko roti dan rumah sakit.

Institute for the Study of War, sebuah think tank yang berbasis di Washington DC, mengatakan dalam sebuah laporan bahwa Dvornikov sebelumnya mengatakan bahwa demoralisasi dan inefisiensi komando meresap di Tentara Arab Suriah selama konflik itu.

Pertempuran Kian Sengit

Penembakan yang dilakukan pasukan Rusia menewaskan lima warga sipil dan melukai lima lainnya di dua kota Ukraina timur Sabtu (9/4/2022).

"Hari ini, lima orang tewas setelah penembakan Rusia di wilayah Donetsk," ujar Gubernur Donetsk Pavlo Kyrylenko, memposting di Telegram, dilansir AFP. "Empat dari mereka meninggal di kota Vugledar, dan satu di kota Novomikhaylovka," tambahnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved