Breaking News

Konflik Rusia Vs Ukraina

Kepsek di Melitopol Tak Mau Kerja Sama dengan Rusia

Dunia pendidikan di Ukraina mogok. Semua kepala sekolah di Melitopol, kota di selatan Ukraina yang sementara waktu sedang diduduki oleh pasukan Rusia.

Editor: Lodie Tombeg
AP PHOTO/PAVEL DOROGOY/kompas.com
Petugas pemadam kebakaran memadamkan sebuah rumah apartemen setelah serangan roket Rusia di Kharkiv, kota terbesar kedua di Ukraina, Senin (14/3/2022). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Melitopol - Dunia pendidikan di Ukraina mogok. Semua kepala sekolah di Melitopol, kota di selatan Ukraina yang sementara waktu sedang diduduki oleh pasukan Rusia, telah menulis surat pengunduran diri.

Hal ini diumumkan oleh Wali Kota Melitopol Ivan Fedorov selama live di laman Facebook-nya.

"Hari ini, keputusan yang sulit namun benar-benar tepat dibuat, semua kepala sekolah, tanpa kecuali, menuliskan surat pengunduran diri sebagai aksi protes, tidak mau bekerja sama dengan penjajah Rusia," kata Fedorov.

Dikutip dari laman Ukrinform, Jumat (1/4/2022), ia juga meminta Halyna Danylchenko, yang ditunjuk sebagai 'penjabat Wali Kota' oleh Rusia, untuk tidak menjadikan anak-anak setempat sebagai 'perisai manusia' atau menyandera mereka.

Sejak awal April ini, Rusia memang mendesak agar kelas tetap dilanjutkan di sekolah Melitopol, namun sejalan dengan kurikulum yang diberlakukan Rusia, dengan bahasa Rusia sebagai bahasa komando.

Kekuatan pendudukan negara yang dipimpin Presiden Vladimir Putin itu pun berjanji akan membayar guru dengan bonus dalam bentuk mata uang rubel Rusia, jika mereka setuju untuk bekerja sama.

Sebelumnya pada beberapa hari lalu, pasukan Rusia telah menculik Kepala Dinas Pendidikan Dewan Kota Melitopol, Iryna Shcherbak yang menolak bekerja sama.

Perlu diketahui, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi nasional negara itu pada 24 Februari lalu bahwa sebagai tanggapan atas permintaan para Kepala Republik Donbass, ia telah membuat keputusan untuk melakukan operasi militer khusus.

Operasi ini dilakukan untuk melindungi orang-orang 'yang telah mengalami pelecehan dan genosida oleh rezim Ukraina selama 8 tahun'.

Kendati demikian, pemimpin Rusia itu menekankan bahwa negaranya tidak memiliki rencana untuk menduduki wilayah Ukraina.

Baca juga: Militer Rusia Kirimkan 20 Ton Bantuan Kemanusiaan ke Melitopol Ukraina

Ia juga menekankan operasi tersebut ditujukan untuk 'denazifikasi dan demiliterisasi Ukraina'.

Sementara itu, negara Barat telah memberlakukan sanksi besar-besaran terhadap Rusia karena melakukan invasi ke Ukraina.

Penerapan sanksi ditujukan terhadap badan hukum maupun individu swasta Rusia.

Baca juga: Tak Percaya Janji Rusia, PM Inggris: Kami Nilai Tindakan Bukan Kata-kata

Bantuan Kemanusiaan ke Melitopol Ukraina

Rusia dilaporkan mengirimkan 20 ton bantuan kemanusiaan ke Kota Melitopol.

Dilansir TASS, prajurit militer pun terus memastikan keamanan konvoi bantuan tersebut, jelas Kementerian Pertahanan Rusia.

"Melalui pos pemeriksaan perbatasan di Republik Krimea, personel militer Rusia mengirimkan sejumlah kargo kemanusiaan dengan total volume sekitar 20 ton ke wilayah Ukraina."

"Personel militer Rusia memastikan keamanan konvoi kemanusiaan," kata kementerian itu.

Kargo yang dikirim termasuk produk-produk penting, seperti makanan bayi, sereal, daging dan ikan kaleng, hingga sayuran.

Invasi Rusia ke Ukraina memasuki hari ke-27 pada Selasa (22/3/2022).

Di hari pertama meluncurkan serangan, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa ia melakukan operasi militer khusus.

Pemimpin Rusia ini menekankan bahwa Moskow tidak berencana menduduki wilayah Ukraina.

Berikut 8 peristiwa di hari ke-27 invasi Rusia ke Ukraina:

1. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mendesak pembicaraan langsung dengan Vladimir Putin.

"Tanpa pertemuan ini tidak mungkin untuk sepenuhnya memahami apa yang mereka siap untuk menghentikan perang," ujarnya.

Dia juga mengatakan, negaranya tidak akan pernah tunduk pada ultimatum Rusia.

2. Presiden AS Joe Biden menuduh Rusia sedang mempertimbangkan untuk menggunakan senjata kimia dan biologis untuk berperang.

Tudingan ini merupakan balasan atas klaim palsu Moskow bahwa Kyiv memiliki senjata mematikan ini.

"Punggung (Putin) bersandar di tembok dan sekarang dia berbicara tentang bendera palsu baru," katanya.

3. Josep Borrell, kepala urusan luar negeri Uni Eropa, mengumumkan rencana baru untuk mengembangkan 'EU Rapid Deployment Capacity'.

Ini memungkinkan Uni Eropa "dengan cepat mengerahkan hingga 5.000 tentara" untuk berbagai jenis krisis.

4. Rusia mengancam akan memutuskan hubungan dengan AS setelah Joe Biden menyebut Vladimir Putin sebagai penjahat perang.

5. Hampir 10.000 tentara Rusia mungkin telah tewas dalam perang di Ukraina sejak awal invasi dan lebih dari 16.000 terluka, menurut laporan yang sebelumnya dirahasiakan dari Kementerian Pertahanan di Moskow.

6. Beberapa pekerja Chernobyl yang kelelahan telah diizinkan meninggalkan lokasi.

7. Atase pertahanan Inggris mengatakan, klaim Rusia bahwa mereka menembakkan rudal 'hipersonik' di Ukraina barat mungkin merupakan upaya untuk mengurangi kurangnya kemajuan dalam kampanye daratnya.

8. Seorang pria 96 tahun yang selamat dari serangkaian kamp konsentrasi Nazi, termasuk Buchenwald dan Bergen-Belsen, tewas oleh ledakan selama serangan Rusia di kota Kharkiv di Ukraina.

Konflik ini membuat hampir seperempat dari 44 juta warga Ukraina mengungsi.

Jerman memperkirakan, jumlah pengungsi bisa mencapai 10 juta dalam beberapa pekan mendatang.

Senin lalu, pejabat Ukraina menolak permintaan Rusia untuk menyerahkan Kota Mariupol dengan imbalan perjalanan keluar yang aman. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Semua Kepala Sekolah di Melitopol Mengundurkan Diri, Mereka tak Mau Kerja Sama dengan Rusia

Sumber: Tribunnews.com
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved