Konflik Rusia vs Ukraina
Laporan Intelijen: Militer Rusia Tembak Jatuh Pesawatnya Sendiri
Invasi militer Rusia ke Ukraina memunculkan dilematis bagi pasukan Berung Merah. Situasi itu memunculkan pembangkangan bagi anggota militer.
“Rusia memahami bahwa dalam jangka panjang, China akan menjadi semakin kuat secara militer dan ekonomi,” imbuh Fleming.
Putin Disesatkan Penasihatnya
Invasi Rusia ke Ukraina menginjak hari ke-35 pada Rabu (30/3/2022) sejak dimulai pada 24 Februari. Pasukan Rusia membombardir pinggiran Kyiv dan kota utara Ukraina yang terkepung meski telah berjanji untuk mengurangi serangan di sana.
Menurut Barat, aksi tersebut dianggap sebagai taktik Moskwa untuk menekan kerugian besar dan mengumpulkan kembali kekuatan untuk serangan lainnya. Berikut rangkuman invasi Rusia ke Ukraina pada hari ke-35, sebagaimana dilansir Reuters.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, pasukannya berkumpul kembali di dekat Kyiv dan Chernihiv untuk fokus pada daerah lain dan menyelesaikan "pembebasan" wilayah Donbas timur yang memisahkan diri.
Wali Kota Chernihiv menuturkan, pengeboman yang dilakukan Rusia telah meningkat selama 24 jam terakhir. Lebih dari 100.000 orang terjebak di kota utara tersebut dengan persediaan untuk bertahan hidup sekitar sepekan.
Pentagon melaporkan, Rusia telah mulai memposisikan ulang di bawah 20 persen dari pasukan yang ditempatkan di sekitar Kyiv. Pentagon juga memperingatkan bahwa Rusia kemungkinan “memperbaiki” dan memasok mereka untuk penempatan kembali ke Ukraina, dan tidak menarik mereka pulang.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan, pembicaraan damai antara Ukraina dan Rusia terus berlanjut. Kendati demikian, Zelensky menuturkan pembicaraan sejauh ini hanya seputar pada kata-kata, tidak ada yang konkret.
Presiden Rusia Vladimir Putin "disesatkan" oleh para penasihatnya yang terlalu takut untuk mengatakan kepadanya betapa buruknya perang di Ukraina dan betapa merusaknya sanksi-sanksi Barat. Hal itu disampaikan seorang pejabat AS, mengutip data intelijen dari “Negeri Paman Sam”.
Pembatasan global pada ekspor ke Rusia sebagai tanggapan atas invasinya ke Ukraina telah menyetop operasi produsen mobil di sana.
Selain itu, sanksi tersebut memotong akses produsen komputer Rusia ke sirkuit yang digunakan dalam peralatan komunikasi, kata seorang pejabat AS.
Di sisi lain, Jerman akan terus membayar gas Rusia dalam euro atau dollar AS, kata seorang juru bicara pemerintah. Dia menambahkan, Putin telah mengatakan kepada kanselir Jerman bahwa tidak ada yang akan berubah untuk mitra Eropa terlepas dari rencananya untuk pembayaran rubel.
Peningkatan signifikan dalam impor minyak Rusia oleh India dapat membuat New Delhi menghadapi "risiko besar" ketika AS bersiap untuk meningkatkan penegakan sanksi terhadap Moskwa.
Rusia mungkin telah melakukan kejahatan perang dengan membunuh warga sipil dan menghancurkan rumah sakit di kota-kota Ukraina, kata pejabat tinggi hak asasi manusia PBB. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mata-mata Inggris: Tentara Rusia Tolak Laksanakan Perintah di Ukraina"