Senin, 9 Maret 2026

Gorontalo Kota Genangan

Jadi Pemicu Genangan, Konektivitas Drainase di Kota Gorontalo Dinilai Buruk

Sri menjelaskan, konektivitas saluran drainase di Kota Gorontalo belum terjalin baik.

Tayang:
zoom-inlihat foto Jadi Pemicu Genangan, Konektivitas Drainase di Kota Gorontalo Dinilai Buruk
TribunGorontalo.com/Agung
Seorang pengendara motor menerobos genangan di Kota Gorontalo, Minggu (20/3/2022). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Banyaknya titik genangan di Kota Gorontalo diduga karena saluran air atau drainase yang buruk. Demikian yang diungkapkan Sri Sutarni Arifin, pegiat lingkungan yang dihubungi TribunGorontalo.com ,Minggu (20/3/22).

Sri yang juga dosen di Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) ini menjelaskan, konektivitas saluran drainase di Kota Gorontalo belum terjalin dengan baik. 

Baca juga: Air Kiriman Gunung Kapur Menggenangi Permukiman Tenilo

Padahal menurutnya, sistem drainase perkotaan harus saling terkait dalam satu jaringan drainase. Drainase dibuat untuk mengalirkan air hujan maupun air buangan agar tidak terjadi genangan.

Idealnya, jika drainase ini besar dan luas, maka aliran air akan lancar dan banjir mencegah genangan di suatu titik. Sebab, tidak ada hambatan untuk air mengalir ke hilir. 

Selain karena drainase yang tidak terkoneksi dengan baik, salah satu penyebab genangan juga menurut Sri adalah daerah resapan air. 

Baca juga: Jalan Suwawa Selatan Terputus, Warga Dipaksa Memutar 15 Kilometer

Saat ini, Kota Gorontalo menurut dia lebih banyak membangun dengan sistem betonisasi. Akibatnya, daerah resapan air menjadi lebih sedikit, dan saat hujan, air sulit masuk ke tanah. 

Mestinya, salah satu yang kemudian mulai dikembangkan untuk dibangun adalah ruang terbuka hijau sebagai daerah resapan air. 

Namun nyatanya, dalam beberapa tahun belakangan, pemerintah kota justru terus membiarkan praktik penebangan pohon. 

"Ke depannya lagi akan banyak penebangan pohon untuk pembangunan drainase dan pelebaran jalan, karena perencanaan PU provinsi dan PU kota tahun ini hampir 1000an pohon akan hilang," ungkap akademisi UNG tersebut. 

Ia pun berharap, pemerintah tidak mengabaikan keberadaan pohon sebagai salah satu indikator kota hijau. Ia meminta agar pemerintah dapat menambah ruang terbuka hijau (RTH). 

Sebab, RTH dapat menjadi ‘paru-paru’ kota atau wilayah. Tumbuhan dan tanaman hijau selain dapat menyerap kadar karbondioksida (CO2), juga dapat menjadi area resapan air. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved