Konflik Rusia Vs Ukraina

AS dan Barat 'Kampanye' Perlawanan Invasi Rusia, Biden Peringatkan Beijing

Amerika Serikat dan Barat terus kampanyekan perlawanan invasi Rusia ke Ukraina. Presiden AS Joe Biden menjelaskan kepada Presiden China Xi Jinping.

Editor: Lodie Tombeg
AFP/kompas.com
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Joe Biden 

Xi Jinping dan Putin secara simbolis menyegel kemitraan dekat mereka ketika keduanya bertemu bulan lalu di Olimpiade Musim Dingin di Beijing, tepat sebelum Putin melancarkan serangan gencarnya di Ukraina.

Sejak itu, Beijing menonjol dengan menolak bergabung dengan kecaman internasional atas invasi tersebut, sambil mengambil sikap Rusia dalam menyalahkan AS dan NATO.

Pihak berwenang China bahkan menolak untuk menyebut invasi itu sebagai "perang", lagi-lagi sesuai dengan poin pembicaraan Kremlin. Tetapi, China juga mencoba untuk tetap agak ambigu, menyatakan dukungan untuk kedaulatan Ukraina.

Rekan Brookings Institution Ryan Hass, mantan penasihat China untuk presiden Barack Obama, mengatakan Beijing harus memilah prioritasnya yang bentrok. Terlepas dari kesenangan dengan Moskwa, China terikat erat dengan Amerika Serikat dan ekonomi Barat lainnya.

Baca juga: Dmitry Medvedev: AS Gunakan Ukraina untuk Ancam Rusia

China juga ingin memainkan peran kepemimpinan di dunia. "Kepentingan China dan Rusia tidak sejalan. Putin adalah pembakar sistem internasional dan Presiden Xi melihat dirinya sebagai arsitek untuk memperbaharui dan meningkatkan sistem internasional," kata Hass.

"Presiden Xi sedang mencoba untuk menyeimbangkan prioritas yang bersaing. Dia benar-benar menempatkan banyak nilai dalam kemitraan China dengan Rusia tetapi pada saat yang sama dia tidak ingin merusak hubungan China di Barat,” tambah dia.

Biden dan Xi Jinping berbicara

Presiden China Xi Jinping mengatakan kepada koleganya dari AS, Joe Biden pada Jumat (18/3/2022), bahwa perang di Ukraina harus diakhiri sesegera mungkin.

Hal itu diungkap oleh media pemerintah China, CCTV. “Prioritas utama sekarang adalah melanjutkan dialog dan negosiasi, menghindari korban sipil, mencegah krisis kemanusiaan, menghentikan pertempuran dan mengakhiri perang sesegera mungkin,” kata Xi Jinping kepada Biden melalui panggilan video, dikutip dari Reuters.

Xi menyebut, semua pihak harus bersama-sama mendukung dialog dan negosiasi Rusia-Ukraina sementara Amerika Serikat dan NATO juga harus melakukan pembicaraan dengan Rusia untuk memecahkan "inti" krisis Ukraina dan menyelesaikan masalah keamanan Rusia dan Ukraina.

Sementara itu, Gedung Putih, menyebut, dalam panggilan tersebut, Biden menjelaskan kepada Xi Jinping tentang implikasi dan konsekuensi apabila China sampai memberikan dukungan material kepada Rusia karena melakukan serangan brutal terhadap kota-kota dan warga sipil Ukraina.

Namun, Gedung Putih menolak untuk menjelaskan tanggapan Xi Jiping terhadap peringatan itu atau mengatakan betapa kerasnya Biden mendorong Presiden China.

"Ini bukan tentang membuat pertanyaan, ini bukan tentang membuat penilaian. Ini tentang melakukan dialog yang berkelanjutan," kata Sekretaris Pers Gedung Putin, Jen Psaki, dikutip dari Kantor Berita AFP.

Dengan pemimpin China yang selama ini “menolak” untuk mengutuk Putin atas perintah invasinya ke Ukraina, Washington telah khawatir bahwa Beijing bisa melangkah lebih jauh.

AS khawatir China memberikan dukungan keuangan dan militer ke Rusia dan mengubah kebuntuan transatlantik yang sudah eksplosif menjadi perselisihan global.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved