Rekor Anak Terbanyak

10 Fakta Pasangan Suami Istri dengan 16 Anak dari Pelosok Tenggara Sulawesi

Rerata tiap tahun si ibu melahirkan 1 anak. Ke-16 anak lahir dalam periode 19 tahun (1997-2016)

Editor: Thamzil Thahir

1. Ke-16 Putri-Putra Kama dan Najerah Lahir dalam Periode 19 tahun

TUAN GURU KAMA - NAJRAH - Kue ulang tahun ke-25 perkawinan pasangan Kamaruddin Djiwa Daeng Tombong (56) dan Najrah (48) hadiah dari 16 anaknya, tahun 2021 lalu. Pasangan asal Sulsel ini kini menetap sebagai guru SD di Kolaka Utara.

KAMARUDDIN Djiwa (56) dan istrinya, Najrah Kama (48), tak berharap tercatat dalam buku rekor sebagai pasangan dengan anak terbanyak di Indonesia tahun 2022 ini.

Pasangan suami istri ini, sejak 2016 tercatat memiliki 16 anak kandung; 8 wanita dan 8 pria.

Keduanya adalah warga Desa Katoi, Kabupaten Kolaka Utara, pelosok tenggara Sulawesi.

Hingga Senin (7/3/2022), ke-16 anak berpasang-pasangan itu sehat wal afiat.

Di usia perkawinan ke 26 tahun, Februari 2022, pasangan guru PNS dan ibu rumah tangga ini, dikaruniai cucu pertama.

Proses persalinan dan kelahiran ke-16 anaknya dianggapnya sebagai berkah dan kemahakuasaan Sang Pencipta.

"Alhamdulillah, hanya Faiqaah dan  Dhiyaa yang lahir di rumah sakit Pangkep (Sulsel), 14 anak persalinannya di rumah panggung dibantu tetangga kami di Katoi," kata Kamaruddin Djiwa, kepada Tribun, Sabtu (5/3/2021) malam.

Alasan pasangan ini memilih tak melahirkan di fasilitas kesehatan, karena mereka tinggal di pelosok, jauh dari dokter dan bidan.

Kamaruddin terangkat jadi guru PNS di SDN 1 Katoi, Kecamatan Katoi, Kolaka Utara, sebelum orde Reformasi.

"Mafhum meki kodong, kami ini guru di pelosok Sulawesi,” kata Daeng Tombong, sapaan sayang Najrah untuk suaminya, Kamaruddin.

Dia berkisah, kala itu, jarak kampung Katoi ke Kolaka, ibu kota kabupaten sebelum pemekaran, sekitar 87 km.

Sedangkan jarak Katoi ke Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, sekitar 390 km ke timur.

Awal Februari 2022, anggota keluarga 19 anggota ini bertambah.

Nurfaaiqah Kamaruddin(25), putri sulung pasangan asal Pangkajene-Camba Sulsel ini, melahirkan anak pertamanya.

"Semoga bisa ikuti jejak kami juga, bersyukur dan tetap ikhlas menjalani hidup di rantau," katanya.

Ke-16 putri-putra Kama dan Najerah lahir dalam periode 19 tahun.

Artinya rerata tiap 16 bulan, pasangan ini dikaruniai seorang anak.

Melalui aplikasi percakapan istant, WhatsApp, Jumat (4/3/2022) lalu, Kama mengirimkan daftar nama dan usia ke-16 anaknya.

Putri tertua bernama Nurfaaiqah (1997), dan anak kedua bernama Dhiyaa Fakhria (1998).

Kedua putri pertama ini lahir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pangkep, Sulsel, tahun 1997 dan 1998.

Anak pertama mereka lahir bersamaan dengan puncak krisis moneter dan orde reformasi melanda negeri.

Bersamaan dengan itu, Kamaruddin terangkat jadi guru PNS di Lasusua, saat Kolaka Utara baru dimekarkan jadi daerah otonomi baru di Sulawesi Tenggara.

Akumulasi krisis moneter, minimnya fasilitas dan layanan medis di pedalaman Teluk Bone itu, mereka berempat ‘merantau” ke tenggara.

Baru empat bulan di Katoi, sekitar 20 km dari Lasusua, ibu kota baru Kolaka Utara, Najerah hamil dan melahirkan anak ketiganya.

“Doa kami diterima, (Muhammad) Mufassir lahir tahun 1999, dan kini sudah 23 tahun dan akhir kuliah di Kendari,” katanya.

Secara beruntut tiga putri dan satu putra lahir dalam periode 4 tahun; Rizky Amaliah (2000), Sitti Atiyya (2001) dan Ainul Mardhiyah (2002) dan Abdullah Azzam (2003).

Najerah “istirahat” dan tak melahirkan di tahun 2004.

Anak kedelapan, Abdurrahman An Nawawi (16), baru lahir tahun 2005.

Lalu berturut-turut lagi dalam 24 bulan (2006 dan 2007), lahir sepasang putra dan putri untuk anak ke-9 dan ke-10.

Anak ke-9, Abdurrahim As Sayuti tahun 2022 ini sudah duduk di bangku kelas 1 SMA Islam bersama Khalisatul Fikriah (14 tahun) yang kini duduk di bangku kelas III madrasah tsanawiyah.

Dalam tiga tahun, 2009 hingga 2011, pasangan ini kembali dianugerahi dua putra (Muhammad Ainur Rafiq (12 tahun) dan Fakhrul Islam, 11 tahun) serta seorang putri, Rifyatul Azizah (10 tahun).

Tiga anak terakhir mereka, juga lahir berturut-turut

Nazirah Syauqiyatul Jannah (2013), Auliyaa Rahman (2014) dan Zayyan Aqif Rahmani (2015).

“Yang bontot kini sudah kelas 2 SD di Katoi.Sama kakaknya mereka adalah murid generasi pandemi corona.”

Apakah pasangan Kamaruddn dan Ustadzah Najrah akan melahirkan anak lagi?

“Biarlah Allah SWT yang mengatur, kita hanya menjalani hidup ini. Toh ini adalah takdir kami, diamanahkan memeliharah 16 anak, yang alhamdulillah sehat, patuh dan taat menjalankan ibadah.” ujar pria yang di Katoi dan Pangkep, akrab disapa Tuan Guru Kama.

Sapaan ‘Tuan Guru’, bukanlah permintaannya.

Karena aktif juga berdakwah dan istrinya aktif membina majelis taklim ibu-ibu kampung, Kamaruddin akrab disapa Tuan Guru Kama'.

Apalagi dalam dua dekade terakhir, Kama ikut merintis pesantren dan sekolah Islam terpadu di ibukota provinsi.

"Sapaan Tuan Guru Kama itu melekat, karena selain dia guru, ustad, Kama juga sering jadi tempat konsultasi spiritual dan kehidupan warga kampung," kata Abdul Gaffar Said (50), adik Kama di Tumampua, Pangkajene, Pangkep, Sulsel.

Kisah "keperkasaan" Tuan Guru Kama dan "ketabahan dan kegigihan" Ibu Najerah Kama, sejak sedekade ini, jadi buah bibir di kampung halamannya.

Pasalnya, saat itu Tuan Guru Kama' mudik Lebaran tahun 2019 lalu, dia membawa 16 anak, istri dan 1 anak menantunya ke Pangkep dan Camba, Maros.

Mereka mendaki gunung dan menyeberangi laut, sejauh sekitar 620 km untuk mudik lebaran sebelum Wabah Corona.

"Kalau tidak salah ingat, mereka menumpang 3 mobil avansa dan cayla dari tenggara ke selatan," ujar Gaffar, adik Kama.

Kisah itu kian menakjubkan sebab dari 16 anak pasangan keluarga ini, enam diantaranya adalah hafidz dan hafidzah Alquran.

Bahkan 12 anaknya kini tercatat jadi santri dan santriwati pada sebuah pesantren dan sekolah Islam terpadu di kawasan Baruga, Kota Kendari.

"Alhamdulillah, semua anak kami ikhlas dan bersedia mondok. Itu yang membuat hidup ini lebih berberkah," ujar Kamaruddin, yang juga sarjana pendidikan dari Universitas Halouleo, Kendari ini.

Tuan Guru Kama terangkat jadi guru SD negeri di Kolaka Utara, dengan bekal ijazah dan akta guru dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Pangkep tahun 1987 silam.

Sedangkan istrinya, Najrah adalah santriwati alumnus Pondok Pesantren Darul Istiqamah, Maccopa, Maros tahun 1993.

Kedua pasangan ini bertemu di pondok pesantren rintisan mendiang, KH Ahmad Marzuki Hasan ini. (*)

 

Halaman
Sumber: Tribun sultra
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved