Konflik Rusia Vs Ukraina

Menlu Rusia Singgung Perang Nuklir, Peserta Sidang Tinggalkan Ruangan

Perang Dunia III di depan mata. Bentuk menggunakan senjata nuklir yang mengkhawatirkan. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Editor: lodie tombeg
FABRICE COFFRINI/kompas.com
Para diplomat bangkit dan meninggalkan ruangan ketika pra-rekaman Sergei Lavrov pesan video mulai diputar, sebagai protes terhadap invasi Moskow ke Ukraina. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Moskow - Perang Dunia III di depan mata. Bentuk menggunakan senjata nuklir yang mengkhawatirkan. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan pada Rabu (2/3/2022), bahwa jika perang dunia ketiga terjadi, itu akan melibatkan senjata nuklir dan merusak.

Pernyataan Lavrov ini dilaporkan Kantor Berita RIA yang berbasis di Rusia. Lavrov mengatakan bahwa Rusia, yang telah meluncurkan apa yang disebutnya sebagai operasi militer khusus melawan Ukraina sejak Kamis (24/2/2022) lalu, akan menghadapi "bahaya nyata" jika Kiev memperoleh senjata nuklir.

Berdasarkan laporan Kantor Berita TASS, Lavrov mengatakan, Rusia tidak akan mengizinkan Ukraina memperoleh senjata nuklir. Sebelumnya, pada Selasa (1/3/2022), Lavrov mengatakan pada Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, Swiss, bahwa Ukraina telah berusaha untuk memperoleh senjata nuklir. Dikutip dari Reuters, dia menyebut itu bahaya nyata yang membutuhkan tanggapan Rusia.

“Hari ini bahaya yang ditimbulkan oleh rezim (Presiden Ukraina Volodymyr) Zelenskiy bagi negara-negara tetangga dan keamanan internasional secara umum telah meningkat secara substansial setelah pihak berwenang yang dibentuk di Kiev memulai permainan berbahaya terkait dengan rencana untuk memperoleh senjata nuklir mereka sendiri,” kata Lavrov mengatakan pada Konferensi Perlucutan Senjata dalam sebuah video.

"Ukraina masih memiliki teknologi nuklir Soviet dan sarana pengiriman senjata semacam itu. Kami tidak dapat gagal untuk menanggapi bahaya nyata ini," kata dia.

Lavrov juga menyerukan Amerika Serikat (AS) untuk menarik senjata nuklirnya dari Eropa. Lihat Foto Para duta besar dan diplomat walkout sementara menteri luar negeri Rusia Sergei Lavrov (di layar) berpidato dengan pesan video yang telah direkam sebelumnya pada Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa pada Selasa (1/3/2022).

Lavrov menyampaikan pidato lewat tayangan video yang kemudian diikuti dengan aksi walkout oleh banyak diplomat termasuk dari Perancis dan Inggris saat video itu diputar.

Para diplomat melakukan aksi itu sebagai bentuk protes invasi Rusia ke Ukraina. Baca juga: Saat Menlu Rusia Pidato di Konferensi Perlucutan Senjata, Peserta Lain Pilih Walkout Aksi walkout para diplomat ketika video Lavrov diputar juga terjadi pada pertemuan paralel PBB di Jenewa pada Selasa kemarin.

Baca juga: Prediksi Intelijen Barat Keliru, Strategis Tarik Ulur Rusia Perangi Ukraina

Menlu Rusia Pidato, Peserta Lain Pilih Walkout 

Duta Besar Ukraina dan diplomat dari berbagai negara tampak melakukan aksi walkout pada Selasa (1/3/2022), ketika Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov berbicara pada Konferensi Perlucutan Senjata (Conference on Disarmament) di Jenewa, Swiss.

Para diplomat berdiri dan meninggalkan ruangan ketika video yang menampilkan Sergei Lavrov mulai diputar. Mereka melakukan tindakan itu sebagai protes atas invasi Rusia ke Ukraina, menurut seorang jurnalis AFP di ruangan itu.

Duta Besar Ukraina Yevheniia Filipenko termasuk di antara banyak diplomat yang walk out saat video mulai diputar, meninggalkan ruangan yang hampir kosong. Di luar, mereka berkumpul di depan bendera Ukraina dan memberikan tepuk tangan meriah yang dapat terdengar di ruangan tempat pidato Lavrov berlanjut.

Di dalam ruangan, hanya tersisa segelintir duta besar dari negara-negara, termasuk Yaman, Suriah, Venezuela, dan Tunisia yang mendengar pidato Menlu Rusia. "Penting untuk menunjukkan sikap solidaritas dengan teman-teman Ukraina kami," ungkap Duta Besar Perancis Yann Hwang, dikutip dari AFP.

Diplomat top Rusia telah dijadwalkan untuk pergi ke Jenewa untuk membahas baik badan perlucutan senjata yang terkait dengan PBB dan Dewan Hak Asasi Manusia PBB secara langsung pada Selasa. Tetapi, rencana itu dibatalkan pada menit terakhir, dengan Moskwa menyalahkan "sanksi anti-Rusia" yang dijatuhkan oleh negara-negara Uni Eropa. Rusia telah menjadi paria internasional sejak meluncurkan invasi skala penuh enam hari lalu.

"Serangan tanpa pandang bulu Rusia terhadap infrastruktur sipil dan kritis adalah kejahatan perang dan pelanggaran Statuta Roma," ungkap Menteri Luar Negeri Ukraina pada pertemuan perlucutan senjata sebelum Lavrov berbicara.

"Agresi Rusia adalah ancaman global. Responsnya juga harus global," dia memperingatkan. Dalam pidatonya, Lavrov justru menyalahkan Kiev atas krisis tersebut, memperingatkan bahwa mereka mencoba merakit senjata nuklir.

"Saya dapat meyakinkan Anda, Rusia sebagai anggota yang bertanggung jawab dari komunitas internasional mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mencegah munculnya senjata nuklir dan teknologi terkait di Ukraina," kata Lavrov. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Rusia Singgung Kemungkinan Perang Dunia Ketiga yang Melibatkan Senjata Nuklir"

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved