Konflik Rusia Vs Ukraina
26 Pejabat dan Bos Korporasi Rusia Kena Sanksi dari Uni Eropa
Sanksi demi sanksi dijatuhkan kepada elite maupun bos korporasi Rusia. Uni Eropa (UE) telah memasukkan 26 warga negara Rusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/130122-Vladimir-Putin.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Brussels - Sanksi demi sanksi dijatuhkan kepada elite maupun bos korporasi Rusia. Uni Eropa (UE) telah memasukkan 26 warga negara Rusia 'tambahan' ke dalam daftar hitam, termasuk Juru Bicara Gedung Kremlin Dmitry Peskov, petinggi media dan satu badan hukum. Langkah ini diambil Uni Eropa dan diumumkan di Jurnal Resmi Uni Eropa yang terbit pada Senin kemarin.
"Mengingat gawatnya situasi, Dewan menganggap bahwa 26 orang dan satu entitas harus ditambahkan ke daftar orang, entitas dan badan yang tunduk pada tindakan pembatasan yang ditetapkan dalam Lampiran Keputusan 2014/145/CFSP," kata Uni Eropa.
Dikutip dari situs TASS, Selasa (1/3/2022), bersama dengan Peskov, nama-nama yang termasuk dalam daftar hitam itu meliputi Direktur Eksekutif Rosneft Igor Sechin, CEO Transneft Nikolay Tokarev, Pendiri dan pemegang saham utama USM holding co Alisher Usmanov, Ketua dan Dewan Direksi Afta Bank Pyotr Aven.
Lalu pemilik bersama Grup Alfa Mikhail Fridman, Pemain cello dan pengusaha Sergey Roldugin, Wakil Perdana Menteri Dmitry Chernyshenko, Menteri Konstruksi dan Perumahan Irek Faizullin.
Selanjutnya Menteri Transportasi Vitaly Savelyev, Wakil Ketua pertama Dewan Federasi (majelis tinggi) Andrey Turchak, Sutradara film Tigran Keosayan, Jurnalis Olga Skabeyev, Ketua dan Dewan Direksi Bandara Sheremetyevo Alexander Ponomarenko, Pemimpin redaksi kantor berita Regnum Kolerov.
Kemudian Pemimpin Redaksi stasiun radio Govorit Moskva Roman Babayan, Penulis dan salah satu pemimpin partai Just Russia - For Truth Zakhar Prilepin, Jurnalis dan pembawa acara Russia Today (RT) Anton Krasovsky, Jurnalis dan pembawa acara di saluran televisi Rossiya-1 Arkady Mamontov, Wakil Komandan pertama Armada Laut Hitam Sergey Punchuk.
Ada pula Wakil Komandan Distrik Militer Selatan Alexey Avdeyev, Wakil Komandan Distrik Militer Selatan Rustam Muradov, Komandan Pasukan ke-8 Distrik Militer Selatan Andrey Sychevoy, Pemegang Saham mayoritas perusahaan investasi Volga Group dan pemegang saham di Bank Rossiya Gennady Timchenko, Ketua dan Dewan Direksi Severstal Alexey Mordashev, serta Ketua Promsvyazbank Pyotr Fradkov.
Deretan nama itu dilarang memasuki wilayah UE, dan jika mereka memiliki aset di negara-negara UE, maka akan dibekukan.
Baca juga: Amnesty International Kecam Rusia, Beredar Video Menjarah Bank dan Toko Kelontong
Selain itu, sanksi telah dijatuhkan kepada Perusahaan Asuransi Industri Gas SOGAZ. Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan dalam pidatonya yang disiarkan televisi nasional pada Kamis pagi waktu setempat bahwa sebagai tanggapan atas permintaan para Kepala Republik Donbass, ia telah membuat keputusan untuk melakukan operasi militer khusus.
Langkah ini diklaim untuk melindungi orang-orang 'yang telah mengalami pelecehan dan genosida selama 8 tahun oleh rezim Ukraina'. Kendati demikian, pemimpin Rusia itu menekankan bahwa negaranya tidak memiliki rencana untuk menduduki wilayah Ukraina.
Saat mengklarifikasi perkembangan yang sedang berlangsung, Kementerian Pertahanan Rusia juga meyakinkan bahwa pasukannya tidak menargetkan kota-kota di Ukraina. Namun hanya terbatas pada penyerangan dan pelumpuhan infrastruktur militer Ukraina saja. Tidak ada ancaman apapun yang ditujukan terhadap penduduk sipil.
Desak Google Buka Channel Medianya
Aksi invasi Rusia ke Ukraina sejak Kamis (24/2/2022) pekan lalu kini mulai berimbas pada warganya. Belakangan, beberapa saluran media sosial seperti Google mulai memblokir layanannya terhadap masyarakat Rusia. Pcmag.com mengabarkan, Sabtu (26/2/2022) kemarin Google resmi memblokir beberapa kanal Youtube milik Pemerintah Rusia seperti RT, RBC, TV Zvezda, serta Sputnik.
Tindakan ini dilakukan Google sebagai bentuk kecamannnya kepada negara pemerintahan Vladimir Putin tersebut.
“Kini perusahaan akan menjeda sejumlah kemampuan saluran untuk memonetisasi di YouTube, termasuk beberapa saluran Rusia yang berafiliasi dengan sanksi baru-baru ini secara signifikan membatasi rekomendasi untuk saluran ini." Jelas juru bicara YouTube, Ivy Choi
Akibat pemblokiran tersebut warga Rusia tak dapat lagi mengakses layanan Youtube, bahkan pemilik saluran media di Rusia juga ikut terancam karena tidak bisa lagi mendapat keuntungan iklan atau Adsense dari kanal YoTube mereka.
Baca juga: YouTube Juga Blokir Iklan dan Monetisasi Pemerintah Rusia di Platform Videonya
Melihat keprihatinan yang dialami warganya, pemerintah Rusia melalui lembaga yang mengawasi aspek komunikasi, teknologi informasi, dan media massa di Rusia, atau biasa disebut Roskomnadzor dikabarkan telah mendesak Google untuk membuka akses terhadap pemblokiran tersebut.
Dalam surat tersebut, Roskomnadzor meminta agar seluruh akses Youtube milik Pemerintah Rusia bisa segera kembali dibuka. Namun sayangnya hingga saat ini, baik pihak Google maupun Youtube belum memberikan kepastian terhadap permintan pemerintah Rusia.
Sebagai informasi, aksi pemblokiran layanan Youtube terhadap masyarakat Rusia terjadi setelah Wakil Perdana Menteri Ukraina, Mykhailo Fedorov melayangkan surat terbuka di akun twitternya kepada CEO Youtube. Youtube tak sendiri, beberapa media sosial global seperti Twitter serta Facebook diketahui juga ikut serta dalam menyerukan aksi pemblokiran ini.
Pemerintah Ukraina berharap dengan adanya bantuan tersebut, Rusia tak bisa lagi mendapat keuntungan besar dari kanal Youtube dengan begini Rusia bisa menghentikan serangannya pada Ukraina. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Waduh, Uni Eropa Masukkan 26 Orang Rusia ke Daftar Hitam, Termasuk Jubir Kremlin dan Bos-bos Media