Konflik Rusia Vs Ukraina

Putin Respons Sikap Barat, Dunia di Ambang Perang Nuklir

Presiden Rusia Vladimir Putin murka. Gagalnya serangan kilat, memaksa Putin menyiagakan pasukan nuklir.

Editor: Lodie Tombeg
Kompas.com
Presiden AS Joe Biden (kiri) dan Presiden Rusia Vladimir Putin 

TRIBUNGORONTALO.COM, Moskow – Presiden Rusia Vladimir Putin murka. Gagalnya serangan kilat, memaksa Putin menyiagakan pasukan nuklir. Pemimpin negeri beruang merah ini minta pasukan nuklir bersiaga tinggi, siap menyerang Ukraina.

Invasi Rusia ke Ukraina telah berlangsung selama empat hari berturut-turut sejak Kamis (24/2/2022) hingga Minggu (27/2/2022). Invasi Moskwa ke Ukraina juga masih terjadi hingga kini. Sejumlah pertempuran merebutkan kota meletus, menimbulkan korban jiwa termasuk dari kalangan sipil.

Terbaru, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan pasukan nuklirnya dalam siaga tinggi, membuat Barat makin khawatir. Berikut rangkuman hari keempat invasi Rusia ke Ukraina sebagaimana dilansir Reuters, Senin (28/2/2022). 

- Pasukan Rusia dilaporkan dipukul mundur dari sejumlah kota-kota besar di Ukraina.

- Putin memerintahkah pasukan nuklir Rusia dalam siaga tinggi pada Minggu dalam menghadapi rentetan pembalasan Barat atas perangnya di Ukraina.

- AS dan NATO mengutuk perintah peringatan nuklir. - Para pejabat Ukraina dan Rusia akan mengadakan pembicaraan di sebuah tempat di perbatasan Belarus dengan Ukraina, kata kantor Kepresidenan Ukraina pada Minggu.

- Citra satelit yang diambil pada Minggu menunjukkan pengerahan besar pasukan darat Rusia, termasuk kekuatan tank, bergerak ke arah ibu kota Ukraina, Kiev, dari jarak sekitar 64 kilometer. 

- Negara-negara Eropa dan Kanada menutup wilayah udara mereka untuk pesawat Rusia.

- Jepang akan bergabung dengan AS dan negara-negara Barat lainnya dalam memblokir akses bank-bank Rusia tertentu ke sistem pembayaran internasional SWIFT.

- Keputusan Barat yang memblokir bank-bank Rusia tertentu dari SWIFT kemungkinan akan mengerek harga minyak jauh di atas 100 dollar AS per barel karena risiko perdagangan lonjakan minyak Rusia.

- BP meninggalkan sahamnya di raksasa minyak Rusia Rosneft, menandai langkah paling signifikan oleh perusahaan Barat dalam menanggapi invasi Moskwa ke Ukraina.

- Uni Eropa akan memperketat sanksi terhadap Rusia, menargetkan sekutu Moskwa yakni Belarus, dan mendanai persenjataan Ukraina guna membantunya mempertahankan diri dari invasi Rusia. 

- Presiden Swiss Ignazio Cassis mengatakan "sangat mungkin" bahwa Swiss yang saat ini netral akan mengikuti langkah Uni Eropa untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia dan membekukan aset Rusia di sana.

- Raksasa energi yang dikendalikan Rusia, Gazprom, mengatakan pada Minggu bahwa ekspor gas Rusia melalui Ukraina ke Eropa masih berlanjut secara normal, sejalan dengan permintaan dari pelanggan.

- Kendaraan militer Rusia masuk ke kota terbesar kedua di Ukraina, Kharkiv, pada Minggu, pada hari keempat pertempuran.

- Rusia telah menyerang sejumlah fasilitas minyak dan gas Ukraina, memicu ledakan besar.

- Sedikitnya 352 warga sipil, termasuk 14 anak-anak, tewas sejak awal invasi Rusia ke Ukraina, kata Kementerian Kesehatan Ukraina pada Minggu. 

- Sedikitnya 1.684 orang, termasuk 116 anak-anak, terluka. Jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

- Ukraina kehabisan pasokan oksigen yang dibutuhkan orang-orang yang sakit kritis menurut laporan WHO pada Minggu.

- Orang-orang yang melarikan diri dari perang di Ukraina membanjiri Eropa tengah. 400.000 orang lari dari Ukraina. Antrean terjadi di penyeberangan perbatasan.

- Paus Fransiskus menyerukan koridor kemanusiaan untuk membantu pengungsi keluar dari Ukraina

- Lebih dari 5.500 orang telah ditahan karena mengikuti aksi protes anti-perang di sejumlah kota di Rusia sejak invasi dimulai.

- Semua warga negara Prancis yang melakukan kunjungan jangka pendek ke Rusia harus segera meninggalkan negara itu, kata Kementerian Luar Negeri Perancis.

- Warga AS harus mempertimbangkan untuk segera meninggalkan Rusia dengan penerbangan komersial, kata Kementerian Luar Negeri AS.

- Ukraina mengajukan kasus melawan Rusia di pengadilan dunia, mengutip tuduhan yang salah tentang genosida yang ditudingkan Moskwa kepada Kiev.

Pasukan Nuklir dalam Siaga Tinggi

Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan kepala pertahanannya untuk menempatkan "pasukan penangkal" nuklir dalam siaga tinggi pada Minggu (27/2/2022).

Putin menuduh Barat mengambil langkah-langkah "tidak bersahabat" terhadap negaranya. Ketegangan internasional sudah meningkat karena invasi Rusia ke Ukraina dan perintah Putin ini dianggap akan menimbulkan kekhawatiran lebih lanjut.

Moskwa diketahui memiliki gudang senjata nuklir terbesar kedua di dunia dan sejumlah besar rudal balistik yang membentuk tulang punggung pasukan penangkal negara itu.

"Saya memerintahkan menteri pertahanan dan kepala staf umum angkatan bersenjata Rusia untuk menempatkan pasukan penangkal tentara Rusia ke dalam mode layanan tempur khusus," kata Putin.

"Anda lihat bahwa negara-negara Barat bukan hanya tidak bersahabat dengan negara kita di bidang ekonomi, maksud saya sanksi tidak sah," tambahnya, dalam pidato yang disiarkan televisi, dikutip dari Kantor berita AFP, Minggu.

"Pejabat senior negara-negara NATO terkemuka juga memperbolehkan pernyataan agresif terhadap negara kita," imbuh Putin. Mendengar perintah Putin, Menteri Pertahanan Rusia, Sergey Kuzhugetovich Shoygu menjawab, "Ya". Presiden Rusia sejak Kamis (24/2/2022), telah memerintahkan invasi ke Ukraina, mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh dunia.

Pasukan darat Rusia telah menekan ke Ukraina dari utara, timur, dan selatan tetapi menghadapi perlawanan sengit dari pasukan Ukraina, intensitas yang mungkin mengejutkan Moskwa, menurut sumber-sumber Barat.

Pihak berwenang Ukraina menggambarkan beberapa pasukan Rusia sebagai orang yang mengalami demoralisasi dan kelelahan, mengklaim bahwa lusinan tentara telah menyerah. (*)


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Rangkuman Hari Keempat Serangan Rusia ke Ukraina, Putin Perintahkan Pasukan Nuklir Siaga Tinggi, 352 Warga Sipil Tewas"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved