Kamis, 5 Maret 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Adang Agresi Rusia, Jerman Kirim Senjata Anti-Tank dan Rudal Stinger

Jerman, anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memuntuskan mengikuti keprihatinan dunia dengan berpihak kepada Ukraina.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Adang Agresi Rusia, Jerman Kirim Senjata Anti-Tank dan Rudal Stinger
kompas.com
Tentara Ukraina meluncurkan rudal stinger buatan Jerman yang bisa hancurkan tank dan pesawat tempur. 

Chernihiv, Sumy, Kharkiv, Donbas, kota-kota di selatan Ukraina, dan terutama Kiev. Ibu kota tidak boleh jatuh,” kata Zelensky.

“Saya berbicara dengan para pembela kami. Di semua lini malam ini, musuh akan menggunakan semua kekuatannya untuk mematahkan perlawanan kita, secara tidak terhormat, kejam, dan tidak manusiawi,” sambung Zelensky.

“Malam ini mereka akan menyerang. Kita semua harus memahami apa yang menanti kita. Kita harus bertahan malam ini,” tambahnya. Dia juga mengeklaim bahwa “ratusan” tentara Rusia telah tewas dalam pertempuran, tetapi mengakui bahwa Ukraina juga menderita kerugian.

Invasi Rusia ke Ukraina dimulai Kamis (24/2/2022) pagi waktu setempat dengan serangan rudal di kota-kota dan pangkalan militer. Serangan tersebut diikuti oleh serangan darat multi-cabang dari daerah yang dikuasai separatis di timur, dari wilayah Crimea di selatan, dan dari Belarus di utara.

Rusia Peringatkan Media

Lembaga pengawas penyiaran Rusia, Roskomnadzor, memperingatkan media-media untuk tidak menggunakan kata 'invasi', 'serangan', atau ‘deklarasi perang mengenai aksi militernya di Ukraina.

Roskomnadzor menegaskan bahwa kata yang tepat adalah operasi militer khusus, sebagaimana dilansir AFP, Sabtu (26/2/2022). Dalam sebuah pernyataan, Roskomnadzor menuduh sejumlah media independen, termasuk saluran televisi Dozhd dan radio Echo of Moscow, menyebarkan "informasi yang tidak benar yang tidak dapat diandalkan".

Media-media tersebut mewartakan serangan dan penembakan yang dilakukan oleh pasukan Rusia ke sejumlah kota di Ukraina dan laporan mengenai kematian warga sipil. Roskomnadzor menuduh 10 media lokal secara salah “mendistribusikan informasi palsu” tentang peristiwa di sana, sebagaimana dilansir Al Jazeera.

Roskomnadzor juga mendesak sejumlah media untuk menghapus laporan yang menggambarkan serangan Moskwa di Ukraina sebagai "serangan, invasi, atau deklarasi perang".

Sementara itu, Facebook memutuskan untuk membatasi kemampuan media pemerintah Rusia untuk mendapatkan uang di platform media sosial tersebut saat invasi Moswka ke Ukraina mencapai jalanan di Kiev.

“Kami sekarang melarang media pemerintah Rusia menjalankan iklan atau memonetisasi di platform kami di mana pun di dunia,” kata Kepala Kebijakan Keamanan Facebook Nathaniel Gleicher di Twitter, Jumat (25/2/2022).

Dia menambahkan, Facebook akan terus memberikan label tambahan ke media pemerintah Rusia. Jaringan media sosial menjadi salah satu front penyebaran informasi bagi Moskwa dalam invasinya ke Ukraina. Media sosial menjadi “rumah” informasi yang terkadang menyesatkan.

Namun, media sosial juga menjadi platform pemantauan secara real-time dari perang Rusia vs Ukraina. Perusahaan induk Facebook, Meta, mengumumkan bahwa Rusia memerintahkan untuk menghentikan fact-checking atau pemeriksaan fakta serta pelabelan konten.

“Kemarin, pihak berwenang Rusia memerintahkan kami untuk menghentikan pemeriksaan fakta independen dan pelabelan konten yang diposting di Facebook oleh empat organisasi media milik negara Rusia,” kata Nick Clegg dari Meta.

“Kami menolak.” Gleicher mengatakan, Facebook telah mendirikan pusat operasi khusus untuk memantau situasi di Ukraina sebagai tanggapan atas konflik militer yang sedang berlangsung. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jerman Akhirnya Setuju Kirim Senjata Langsung ke Ukraina"

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved