Konflik Rusia Vs Ukraina
Resolusi PBB Minta Hentikan Invasi ke Ukraina, Tiongkok 'Tinggalkan' Rusia
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) minta Rusia segera mengakhiri serangan militer ke Ukraina.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/260222-sidang.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Washington - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) minta Rusia segera mengakhiri serangan militer ke Ukraina pada sidang di New York Amerika Serikat, Jumat (25/2/2022). Sebaliknya penguasa Kremlin memveto rancangan resolusi yang menyesalkan invasi Rusia ke Ukraina.
Sementara Tiongkok abstain dari pemungutan suara, sebuah langkah yang dilihat negara-negara Barat sebagai kemenangan karena menunjukkan isolasi internasional Rusia. Diberitakan Reuters, Sabtu (26/2/2022), Uni Emirat Arab (UEA) dan India juga abstain dari pemungutan suara pada naskah yang dirancang AS.
Sisa 11 anggota dewan memberikan suara mendukung rancangan resolusi PBB. Rancangan resolusi sekarang diharapkan akan diambil oleh Majelis Umum PBB yang beranggotakan 193 orang.
Sikap abstain China datang hanya beberapa minggu setelah Beijing dan Moskwa mendeklarasikan kemitraan "tanpa batas", saling mendukung atas kebuntuan di Ukraina dan Taiwan dengan janji untuk berkolaborasi lebih banyak melawan Barat.
"Kami bersatu di belakang Ukraina dan rakyatnya, meskipun ada anggota tetap Dewan Keamanan yang sembrono dan tidak bertanggung jawab menyalahgunakan kekuasaannya untuk menyerang tetangganya dan menumbangkan PBB dan sistem internasional kami," kata Duta Besar AS Linda Thomas-Greenfield setelah Rusia memberikan hak vetonya, dikutip dari Reuters, Sabtu (26/2/2022).
Pemungutan suara PBB ini dilamporkan sempat ditunda dua jam untuk negosiasi menit terakhir oleh AS dan lainnya untuk memenangkan abstain China.
Baca juga: Rusia Kalah di Chernihiv, Kharkiv dan Valuykiv
Dewan Keamanan PBB melunakkan bahasa dalam resolusinya dengan mengganti kata "mengutuk" menjadi "menyesalkan" "agresi Rusia terhadap Ukraina", sementara referensi ke Bab 7 Piagam PBB, yang berkaitan dengan sanksi dan otorisasi kekuatan, dihapus bersama dengan mengacu pada "presiden".
Presiden Rusia Vladimir Putin menginvasi Ukraina saat Dewan Keamanan PBB bertemu di New York pada Rabu (23/2/2022) malam waktu setempat, untuk mencoba dan meredakan ketegangan yang meningkat selama berminggu-minggu.
"Jangan salah. Rusia terisolasi. Tidak ada dukungan untuk invasi ke Ukraina," kata Duta Besar Inggris untuk PBB Barbara Woodward kepada dewan setelah pemungutan suara Rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB menuntut agar Rusia "segera menghentikan penggunaan kekuatannya terhadap Ukraina" dan "segera, sepenuhnya, dan tanpa syarat menarik semua pasukan militernya dari wilayah Ukraina di dalam perbatasannya yang diakui secara internasional".
Rancangan itu juga menuntut agar Rusia membatalkan pengakuannya atas dua negara separatis di Ukraina timur sebagai negara merdeka.
"Sangat disayangkan bahwa jalur diplomasi dihentikan. Kita harus kembali ke sana. Untuk semua alasan ini, India telah memilih untuk abstain dalam resolusi ini," kata Duta Besar India untuk PBB TS Tirumurti kepada dewan tersebut. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Rusia Memveto Resolusi PBB terkait Penghentian Invasi ke Ukraina, China Abstain"