PWKI Dukung Green Economy, Evy: Zero Emission Komitmen Jokowi
Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) mendukung program pemerintah terkait green economy.
Penulis: Lodie Tombeg | Editor: Lodie Tombeg
“Presiden Jokowi meminta MIND ID secara grup yang merupakan agen negara harus menyukseskan program pemerintah. Oleh karenanya, semangat merah putih yang menjadi jiwa raganya MIND-ID, harus tegak lurus dengan misi Presiden. Pak Jokowi ingin agar Mind ID tidak hanya sekadar ekspor produk mentah, maka hasil olahan tambang perlu diolah lagi dalam bentuk barang setengah jadi, barang yang dapat memberikan nilai tambah dengan penguatan hilirisasi. Hal ini menyebabkan perlu dibangun smelter-smelter baru di Indonesia agar program hilirisasi bisa menghasilkan produk-produk yang bersifat end-product yang bisa langsung dikonsumsi oleh industri,” jelasnya.
Salah satu penguatan hilirisasi, lanjut Dany, adalah dalam ekosistem industri baterai melalui kerja sama MIND-ID, Pertamina, dan PLN membentuk holding Indonesia Battery Corporation untuk produksi baterai. Baterai adalah masa depan Indonesia karena hilirnya adalah bahan baku untuk mobil listrik.
Mobil listrik ini adalah penyumbang zero emission, sehingga menjadi penyumbang terbesar untuk mengurangi emisi karbon. Jadi menuju kepada zero emission dengan optimalisasi perangkat transportasi publik dengan mengganti menjadi mobil listrik. Ini merupakah salah satu penguatan dari hilirisasi yang dimaksud pemerintah dalam program besar MIND-ID.
Mengenai ESG dan Dekarbonisasi yang masuk dalam G20 yang sudah ditandatangani oleh Presiden Jokowi di tahun 2015 kesepakatan Paris Agreement dan SDG, maka BUMN menyusun inisiatif dekarbonisasi, ada 3 scope yang dibuat. Yang pertama adalah yang berkaitan dalam core business produksi yaitu dengan mengganti teknologi yang ramah lingkungan.
Kedua adalah yang berkaitan dengan industri penunjang, seperti transportasi dikonversikan ke yang ramah lingkungan, dan scope ketiga adalah yang tidak berkaitan langsung seperti mitra-mitra strategis atau supplier MIND-ID Group yang didorong dalam persyaratan menjadi rekanan adalah mereka yang memenuhi emisi standar tertentu.
Ini merupakan komitmen dalam rangka inisiatif carbon MIND-ID dalam menuju zero emisi di tahun 2060. Jadi dalam setiap tahun harus diukur berapa persen penurunan dari emisi karbon (carbon initiative) dalam proses bisnis.
Terdapat 6 tren global yang membuat MIND-ID harus fit, agile dan adaptive (ESG dan dekabronisasi, pemulihan ekonomi global pasca Covid-19, clean energy transition, geopolitik, regulasi, penurunan produktivitas eksplorasi pertambangan dan industry 4.0).
Tren Green Economy dan Energy Transition, mulai dari negara di luar seperti Amerika, Tiongkok, Jepang dan sebagainya memang dituntut untuk dapat mengurangi level dari emisi karbon. Dengan target penurunan emisi Indonesia 29 persen dari BAU di tahun 2030, dan 41 persen dengan bantuan Internasional, serta target carbon neutral di 2060.
Terakhir, Dany mengungkapkan bahwa dalam pertambangan ada peluang dan tantangan untuk bisa beradaptasi dalam tren dekarbonisasi. Komoditas akan mendapatkan banyak manfaat dari sustainable economy, karena di semua industri perlu adanya sustainability path. Makanya MIND-ID juga memiliki sustainability pathway sebagai pilar strategis untuk program keberlangsungan, karena harus menjadi perusahaan yang terjamin keberlangsungannya bagi anak cucu dan cicit ke depan,” pungkasnya.
Amanat Pasal 33 UUD 1945
Sementara itu, AM Putut Prabantoro, pendiri dan sekaligus penasihat PWKI menegaskan bahwa kemakmuran dan kesejahteraan selalu mengacu kepada sumber kekayaan alam dan cabang-cabang perekonomian yang penting serta menguasai hajat hidup orang banyak. Ini merupakan amanat Pasal 33 UUD 1945 serta Pembukaan UUD 1945, yang merupakan cara untuk mencapai cita-cita ideologi bangsa meuju masyarakat adil, makmur dan sejahtera sebagaimana yang tertuang dalam Pancasila serta Pembukaan UDD 1945.
“Hal itu merupakan arah kebijakan dan tugas yang diemban oleh BUMN seperti PLN dan Mind ID yang mengacu pada sustainibilitas sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup,” tandas Putut yang merupakan Taprof bidang Idiologi dan Sosial Budaya, Lemhannas RI melalui rilis ke TribunGorontalo.com, Kamis kemarin.
Dalam hal ini, lanjut Putut, wartawan membutuhkan pencerahan dan penjelasan secara komprehensif mengenai hal tersebut.
Dukungan PWKI ini berpijak pada Ensiklik Laudato si (Bumi Sebagai Rumah Bersama) yang dikeluarkan pada 24 Mei 2015 oleh Paus Fransiskus yang mengkritik konsumerisme serta pembangunan tanpa terkendali. Paus Fransiskus juga menyesalkan terjadinya kerusakan lingkungan dan pemanasan global.
Dengan Ensiklik itu, Paus Fransiskus mengajak semua umat manusia untuk mengambil aksi global yang terpadu dan segera. Vatican mempublikasikan Ensiklik tersebut dalam 8 bahasa (Italia, Jerman, Inggris, Spanyol, Prancis, Polandia, Portugis dan Arab). (lat)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/250222-PWKI-22.jpg)