Capres 2024
Cerita Kegigihan Prabowo, Lima Kali Ikut Pilpres hingga Rajai Survei Capres
Perjalanan karier politik Prabowo Subianto menarik diikuti. Ketum Umum Partai Gerindra ini tercatat sudah lima kali mengikuti Pemilu Presiden.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/230222-Prabowo.jpg)
Mereka yang ada di papan tengah dan suaraya turun adalah AHY, Basuki Tjahaja Purnama, dan Tri Rismaharini. Meskipun mengerucut kepada tiga tokoh papan atas, SKN Kompas mengungkapkan bahwa ada 38,8 persen responden yang tidak hendak memilih Prabowo, Ganjar, dan Anies.
Meskipun 38,8 persen suara tersebar ke banyak tokoh, ruang untuk hadirnya calon alternatif sebenarnya masih terbuka jika konsolidasi dan negosiasi dilakukan. Dengan konsolidasi dan negosiasi itu, calon presiden alternatif bisa dajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu sesuai persyaratan.
Menengok tiga tokoh papan atas, hanya Prabowo yang memiliki kepastian akan dicalonkan partai politik yaitu Partai Gerindra yang didirikannya.
Ganjar, meskipun kader PDI-Perjuangan belum mendapat tanda-tanda akan diajukan partai dan kendali partai masih jauh dari tangannya.
Anies, tidak menjadi kader partai mana pun. Namun, berdasarkan SKN Kompas ke-3, suaranya tinggi di responden berlatar belakang Partai Nasdem, PKS, dan Partai Demokrat. Kita tunggu siapa yang nantinya akan dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik.
Berpijak pada hari Pemilu 2024 adalah 14 Februari 2024, pendaftaran calon presiden dan wakil presiden akan dilakukan pada 7-13 September 2022. Penjajakan partai politik dan tokoh dengan bekal sejumlah hasil survei lanjutan pasti akan banyak dilakukan.
Sambil menunggu kepastian sampai detik terakhir, kita bisa menengok kepastian-kepastian dalam perjalanan Pemilu langsung di Indonesia sejak 2004. Salah satu kepastian itu adalah kepesertaan Prabowo sebagai calon presiden dan darinya kita bisa belajar kegigihan.
Ya, kegigihan. Sebagai politisi, Prabowo tidak pernah lepas dari perhatian publik lima tahunan sejak 2004. Tahun 2004, Prabowo mengikuti konvensi calon presiden Partai Golkar dan kalah dari Wiranto. Sebagai calon dari Partai Golkar, Wiranto berpasangan dengan Salahuddin Wahid, kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla maupun Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi.
Tahun 2009, Prabowo maju sebagai calon wakil presiden berpasangan dengan Megawati dan kalah dari pasangan SBY-Boediono. Pasangan Megawati dan Prabowo hanya unggul dari pasangan Jusuf Kalla-Wiranto yang ada di posisi bawah dalam perolehan suara.
Tahun 2014, Prabowo maju sebagai calon presiden berpasangan dengan Hatta Rajasa. Prabowo-Hatta kalah dari Joko Widodo sebagai pendatang baru yang berpasangan dengan polisiti senior Jusuf Kalla. Tahun 2019, Prabowo maju lagi sebagai calon presiden berpasangan dengan Sandiaga Uno.
Sekali lagi, Prabowo-Sandi kalah dari Jokowi yang berpasangan dengan Maruf Amin. Banyak yang berpikir, kekalahan kedua sebagai capres dari lawan yang sama dan kekalahan-kekalahan sebelumnya akan menjadi akhir karir politik Prabowo.
Pikiran itu meleset. Meskipun kalah dua kali dari Jokowi, Prabowo dan juga Sandiaga, ikut menikmati kemenangan lawannya. Posisi menteri yang diberikan Jokowi bagi keduanya adalah wujud nyata melesetnya pikiran kita.
Jika hendak belajar kegigihan tanpa pernah putus di setiap kesempatan yang terbuka, simaklah perjalanan Prabowo. Jika hendak belajar meraih kemenangan di kesempatan kecil yang terbuka dengan kegigihan biasa-biasa saja, simaklah perjalanan SBY dan Jokowi. Mereka berdua punya resep dan bahan ajar di luar semata kegigihan. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Prabowo dan Pelajaran Kegigihan di Lima Kali Pemilu Presiden"