Putin Uji Coba Senjata Nuklir, AS Tuduh Rusia Siam Menyerang Ukraina
Presiden Rusia Vladimir Putin pamer kekuatan militer. Pasukan nuklir strategis Rusia mengadakan latihan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/200222-nuklir-3.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin pamer kekuatan militer. Pasukan nuklir strategis Rusia mengadakan latihan yang diawasi langsung Putin pada Sabtu (19/2/2022).
Saat bersamaan, Amerika Serikat (AS) menuduh pasukan Rusia di dekat perbatasan Ukraina maju dan "siap menyerang".
Kremlin mengatakan Rusia berhasil meluncurkan uji coba rudal hipersonik dan jelajah di laut selama latihan kekuatan nuklir. Putin mengamati latihan di layar dengan pemimpin Belarusia Alexander Lukashenko dari "pusat situasi".
Latihan nuklir menjadi manuver lanjutan angkatan bersenjata Rusia dalam empat bulan terakhir yang mencakup pembangunan pasukan -- diperkirakan oleh Barat berjumlah 150.000 atau lebih -- di utara, timur dan selatan Ukraina.
Analis yang berbasis di Moskow mengatakan latihan nuklir Rusia pada Sabtu (19/2/2022) bertujuan untuk mengirim pesan agar tuntutan Rusia ditanggapi dengan serius.
Baca juga: Prediksi Kemungkinan Invasi Rusia, Begini Kata Jenderal Ukraina
"Mengabaikan hak-hak sah Rusia di bidang ini berdampak buruk pada stabilitas tidak hanya di benua Eropa, tetapi juga di dunia," kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov seperti dikutip oleh kementeriannya kepada mitranya dari Perancis melalui telepon dilansir Reuters.
Helikopter baru dan pengerahan tank, pengangkut personel lapis baja dan peralatan pendukung kelompok tempur telah dipindahkan ke lokasi di Rusia dekat perbatasan, menurut Maxar Technologies yang berbasis di AS, yang melacak perkembangan dengan citra satelit.
Menteri Pertahanan AS sementara itu mengatakan pada Sabtu (19/2/2022) bahwa latihan kekuatan nuklir memicu kekhawatiran di seluruh dunia.
Seorang pejabat NATO mengatakan aliansi itu memindahkan staf dari Keiv ke kota barat Lviv dan ke Brussel untuk alasan keamanan. AS dan negara-negara lain telah memindahkan diplomat ke Lviv.
Prancis dan Jerman giliran mendesak semua atau sebagian warganya di Ukraina untuk keluar dari negara itu, setelah Keiv dan Moskwa saling tuduh atas penembakan baru di dekat perbatasan.
Sementara Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengatakan pasukan Rusia mulai " menyebar dan bergerak lebih dekat" ke perbatasan. "Kami berharap dia (Putin) mundur dari ambang konflik," kata Austin pada konferensi pers di Lithuania, mengatakan invasi ke Ukraina tidak dapat dihindari.
Dengan meningkatnya ketakutan Barat akan perang, tim keamanan nasional Presiden AS Joe Biden mengatakan mereka masih percaya Rusia dapat melancarkan serangan di Ukraina "kapan saja".
Atas laporan itu, Biden berencana mengumpulkan penasihat utama pada Minggu (20/2/2022) untuk membahas krisis tersebut.
Para menteri luar negeri dari kelompok negara-negara kaya G7 juga mengatakan mereka tidak melihat bukti Rusia mengurangi aktivitas militernya di daerah itu dan tetap "sangat prihatin" tentang situasi tersebut. Rusia memerintahkan peningkatan militer sambil menuntut NATO mencegah Ukraina bergabung dengan aliansi itu.
Di sisi lain dia menilai peringatan Barat soal rencana Rusia menyerang Ukraina sebagai tindakan yang histeris dan berbahaya. Moskwa mengatakan akan mundur, tetapi Washington dan sekutunya terus mengeklaim keberadaan pasukan Rusia meningkat.