Materi Sekolah
Bahasa Sunda Dapat Dibuktikan dari Prasasti Abad ke-14
Bahasa Sunda masih dan tetap dilestarikan masyarakat Sunda. Bahasa untuk keperluan komunikasi dalam kehidupan mereka.
1. Penggunaan Bahasa Sunda Kuno
Bukti penggunaan Bahasa Sunda (kuno) secara tertulis, kemudian banyak dijumpai lebih luas dalam bentuk naskah.
Naskah kuno dalam Bahasa Sunda kuno ditulis pada daun (lontar, enau, kelapa, nipah) dan digunakan dari zaman abad ke-15 sampai dengan abad ke-18.
Naskah yang ditulis di media daun lontar, enau, dll dapat menjadi lebih panjang, karena lebih mudah dari pada prasasti.
Sehingga perbendaharaan katanya lebih banyak dan struktur bahasanya juga lebih jelas.
Contoh bahasa Sunda yang ditulis pada naskah adalah berbentuk prosa, sebagai berikut:
1. Prosa Kropak 630 berjudul Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518)
"Jaga rang tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu."
Artinya, hendaknya kita tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak sekedar penghilang haus, makan sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa-apa.
2. Contoh lainnya dalam bentuk puisi terdapat pada Kropak 408 berjudul Swaka Darma (abad ke-16)
"Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, awakaneun sang sisya, nu huning S waka Darma."
Artinya, inilah Kidung nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, untuk membangun rasa pribadi, untuk diamalkan sang siswa, yang paham Sewaka Darma.
Dari kedua contoh di atas, terlihat Bahasa Sunda pada masa itu banyak dimasuki kosakata dan dipengaruhi struktur Bahasa Sanskerta dari India.
2. Pengaruh Bahasa Arab
Setelah masyarakat Sunda mengenal dan menganut Agama Islam, mereka menegakkan kekuasaan Agama Islam di Cirebon dan Banten sejak akhir abad ke-16.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/200122-Upacara.jpg)