Rektor Universitas Ichsan Wisuda Presiden BEM Gorontalo

Zakaria, mahasiswa Universitas Ichsan Gorontalo lega. Dia sempat waswas tidak bisa mengikuti wisuda.

Penulis: lodie tombeg | Editor: lodie tombeg
Tribun Gorontalo/ris
WISUDA - Rektor Univesitas Ichsan Gorontalo Abdul Gaffar Latjoke bersama Zakaria, Presiden BEM Provinsi Gorontalo usai diwisuda di Universitas Ichsan Gorontalo, Senin (27/12/2021). 

TRIBUNGOTONTALO.COM, Gorontalo – Zakaria, mahasiswa Universitas Ichsan Gorontalo lega. Dia sempat waswas tidak bisa mengikuti wisuda. Koordinator Presiden BEM se-Provinsi Gorontalo itu semula dikhawatirkan drop out (DO), telah melewati waktu yang ditentukan kampus.

Bersama 400 wisudawan lain, dia diwisuda Rektor Univesitas Ichsan Gorontalo Abdul Gaffar Latjoke. Dengan penuh upaya serta ikhtiar, akhirnya ia bisa lulus dan menyandang predikat terbaik, dengan Indeks Prestasi kumulatif (IPK) 3,12. Dia mengikuti wisuda angkatan ke-24, Senin (27/12/2021).

Ia mengatakan sempat mengalami masa tegang karena perkuliahan yang dilangsungkan sejauh ini berkisar 15 semester atau kurang lebih 7,5 tahun berstatus sebagai mahasiswa.

“Saya sangat bersyukur tahun ini bisa melangsungkan wisuda bersama beberapa teman seangkatan walau jumlahnya tidak banyak. Jika berbicara terkait persoalan DO, sebenanrnya ini masuk dalam kalkulasi hitungan jumlah semester, sementara perguruan tinggi itu menerapkan sistem kuliah dengan jangka waktu selama 7 tahun, jika dikali 2 sama dengan 14 semester. Ya hal ini saya kira sebagai predikat yang sangat memuaskan karena melampaui batas,” ujar Zakaria.

Baca juga: Gubernur Gorontalo Cek Ketersediaan Tabung Oksigen Antisipasi Omicron

Menurutnya, terkadang orang yang diwisuda dengan melewati masa semester yang ditentukan dianggap the legend campus. "Tetapi sebenarnya jika berbicara persoalan tersebut maka yang menjadi pertanyaannya, selama berstatus mahasiswa apa saja yang telah dilakukannya," kata dia. Apakah selama proses perkuliahan ia mengikuti organisasi internal maupun eksternal untuk menggembleng kualitas dirinya atau tidak. "Nah ini kemudian yang menjadi persoalan menarik," ujarnya.

Menurut dia, persoalan kuliah hanyalah berbicara terkait waktu, entah wisuda tepat waktu ataukah wisuda di waktu yang tepat. Katanya, masing-masing mahasiswa tentu harus memprogram dirinya.

"Kuliah itu berbicara masing-masing perspektif individu, entah mereka memilih jalur untuk cepat wisuda atau tidak, namun tidak banyak juga yang menginginkan wisuda diwaktu yang tepat katakanlah waktu yang terburu-buru," ujarnya.

“Alangkah baiknya memang wisuda itu tepat waktu sekurang-kurangnya 4 atau 5 tahun. Pengalaman saya dengan wisuda di usia 15 semester karena secara pribadi saya disibukkan dengan aktivitas di luar kampus seperti berproses di organisasi," ujar dia.

Namun tidak bisa dimaknai bahwa berproses di organisasi bukan berarti menghambat perkuliahan tergantung kitanya apakah betul-betul waktu itu digunakan untuk memprogram diri atau tidak. "Tetapi sejauh ini kampus saya kira cukup koperatif di dalam membantu serta mendorong mahasiswanya untuk melangsungkan prosesi wisuda,” jelasnya.

Presiden BEM Universitas Ichsan Gorontalo berharap dari sederet mahasiswa yang di wisuda kurang lebih berjumlah 400 orang harusnya mampu memposisikan diri di wilayah pekerjaan atau harus melihat dimana peluang kerja. Kata dia, sehingga prosesi perkuliahan tidak berakhir dengan sia-sia. Jiakalau pun peluang pekerjaan tersebut menghadirkan kompetitif maka teruslah berjuang dan tetap optimis. (ris)

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved